Loading

Rabu, 30 April 2014

Saat Perempuan Melayu Kembali Menulis

Sekitar satu abad berlalu, riwayat penulis perempuan di tanah Melayu khususnya Kepri seperti tertidur panjang. Padahal pada abad ke 18 dan awal abad ke 19, tercatat banyak pengarang perempuan lahir di tanah Melayu ini. Seperti Aisyah Sulaiman, Raja Safiah, Raja Kalsum dan Khatijah Terung serta Salamah binti Ambar.


Ruziana, penulis dan sastrawan kota tanjungpinang,kepri telah menghasilkan 2 buku, karyanya juga dimuat disejumlah buku antologi.penulis melayu dari dulu hingga sekarang
Ruziana, salah satu penerus dunia kepenulisan  perempuan melayu di Tanjungpinang
Riwayat kepengarangan perempuan di Kepri khususnya Pulau Penyengat pada abad ke 18 tidak lepas dari peran Raja Ali Haji.Seperti yang diungkapkan Hasan Junus, dalam bukunya Raja Ali Haji: Budayawan di Gerbang Abad XX (1988), bakat kepengarangan diwarisi oleh Raja Ali Haji dari ayahnda Raja Ahmad. Sang ayah sedikitnya telah menghasilkan tiga buah karya sastra, yaitu Syair Engku Puteri, Syair Perang Johor, dan Syair Raksi. 

Sedangkan Raja Ali Haji menghasilkan serangkaian karya, seperti Gurindam Dua Belas, Bustan al-Katibin, Kitab Pengetahuan Bahasa, Tsamarat al-Muhimmah, Muqaddimah fi Intizam al-Wazaif al-Muluk, Syair Abdul Muluk, Tuhfat al-Nafis, Silsilah Melayu Bugis, Sinar Gemala Mestika Alam, dan lain-lain.

Darah kepengarangan Raja Ali Haji menurun kepada anak-cucunya. Dalam silsilah keluarga pengarang Raja Ali Haji, ada tiga orang anaknya yang diketahui mengarang sebuah syair, yaitu: Raja Safiah menulis Syair Kumbang Mengindera; Raja Kalsum menulis Syair Saudagar Bodoh; dan Raja Hasan menulis Syair Burung. 

Sedangkan dari pihak cucu diketahui bahwa putri Raja Sulaiman yang bernama Aisyah Sulaiman mengarang beberapa karya, seperti Syair Khadamuddin, Syair Seligi Tajam Bertimbal, Syamsul Anwar, dan Hikayat Shariful Akhtar. 
Ruziana, penulis dan sastrawan kota tanjungpinang,kepri
Suryatati A.Manan, seorang walikota yang juga penulis
Selain itu, diketahui pula bahwa empat orang anak Raja Hasan, yaitu Umar bin Hasan, Khalid Hitam, R. Haji Ahmad Tabib, dan Abu Muhammad Adnan, telah mengarang beberapa buku.

Karya-karya itu tidak hanya lahir dari tangan dingin kaum kerajaan, tapi juga dari perempuan biasa  bernama Khatijah Terung. Melalui karyanya berjudul Kumpulan Gunawan, Khatijah menceritakan tentang hubungan seksual suami isteri, serta Salamah binti Ambar yang menulis dua buku dengan judul Nilam Permata dan Syair Nasihat untuk Penjagaan Anggota Tubuh.

Karya-karya besar dalam bentuk manuskrip kuno itu kini tersimpan Yayasan Indera Sakti Pulau Penyengat, sebuah yayasan yang dikelola oleh zuriat  Raja Ali Haji.

Melihat karya-karya yang dihasilkan perempuan Melayu di abad ke 18 itu, bisa dikatakan tingkat intelektual perempuan pada masa itu tidak bisa dipandang sebelah mata.Pemikiran mereka yang tertuang dalam bentuk tulisan membuktikan kehebatan mereka.

Baru pada abad ke 20 ini, perempuan Melayu kembali menuliskan isi pikiran mereka dalam bentuk buku. Menurut Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Drs Abdul Kadir Ibrahim,MT, generasi itu dimulai oleh Suryatati A Manan, yang juga wali kota Tanjungpinang. Ia beralasan, karya-karya Suryatati sudah dibaca dan dibahas banyak orang hingga tingkat nasional. Seperti pada 27 Mei lalu, buku "Perempuan Walikota" dibedah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.(baca insert : Penulis Perempuan Melayu ke Pentas Nasional)

Meskipun sejumlah penulis perempuan lainnya pun telah menghasilkan karya dalam bentuk buku, seperti Raja Suzana Fitri, Dra Zakbah dan di generasi muda ada nama Nadya Aisyah Gustirani, Endang Purnama Sari dan Unizara atau Ruziana (baca insert :Generasi Penulis Perempuan Melayu)*** bersambung ke artikel : 
http://www.unizara.com/2014/04/mengenal-perempuan-penulis-melayu-pada.html
NB : tulisan ini dimuat di majalah tras
Referensi diambil dari sejumlah sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung