Loading

Rabu, 30 April 2014

Mengenal Perempuan Penulis Melayu pada Masa Lalu

Perempuan Melayu sudah menulis sejak ratusan tahun lalu. Berikut dua profil perempuan penulis di masanya :

Aisyah Sulaiman
Nama Aisyah Sulaiman pada saat ini mungkin dikenal oleh generasi muda sebagai nama sebuah gedung kesenian di Tanjungpinang.Tidak banyak literatur yang menulis tentangnya dan apalagi disebarluaskan, membuat generasi muda banyak yang tidak mengenal jauh dengan nama itu. Berikut sedikit pengetahuan untuk mengenal Raja Aisyah Sulaiman. 

Prof Ding Choo Ming dari Universitas Kebangsaan Malaysia dalam bukunya yang berjudul : Raja Aisyah Sulaiman: Pengarang Ulung Wanita Melayu (1999), menyebutkan Raja Aisyah Sulaiman mengawali bentuk tulisan modern yang ekspresif dan individualistik, melalui Hikayat Syamsul Anwar yang diterbitkan pada tahun 1890

Jika  banyak pengarang lain merasa segan menonjolkan identitas diri mereka dalam tulisannya, Raja Aisyah Sulaiman justru menampakkan dan mengekspresikan dirinya dalam setiap karyanya.

Sejak saat itulah gaya menulis para pengarang Melayu sedikit demi sedikit mulai bergeser menjadi bentuk yang lebih ekspresif dengan mencantumkan identitasnya. Kondisi itu juga didukung dengan mulai diakuinya hak cipta di awal abad ke-19 yang mempengaruhi perkembangan sosial masyarakat Melayu tradisional ke arah modern. 

Keistimewaan Raja Aisyah Sulaiman dibandingkan dengan para pengarang yang lain, karena ia menggunakan penanya sebagai senjata untuk melawan dominasi tradisi patriarkhi. Ia tidak sekadar menceritakan berbagai kisah dunia wanita, kebajikannya, kepatuhan dan ketundukan mereka atas laki-laki sebagai bentuk ekspresi wanita tradisional, melainkan juga menyuarakan jerit batin kaum wanita yang menginginkan kebebasan. Selain itu, ia cukup berani mendobrak tradisi kepenulisan saat itu dengan mencantumkan nama dan mengungkapkan jati dirinya dalam setiap karyanya.

Yang menarik, kendatipun Raja Aisyah Sulaiman merupakan pengarang wanita dan feminis Melayu angkatan pertama, namanya tidak setenar RA. Kartini, feminis dari Jawa dan pelopor emansipasi dalam mendobrak tradisi patriarkhi. 

Bahkan, nama Raja Aisyah Sulaiman pun tidak disebut dalam buku Sejarah Perkembangan Sastra Melayu/Indonesia karangan R.O. Windstedt (1958) maupun Liaw York Fang (1991 dan 1993). 

Meski demikian, nama Raja Aisyah Sulaiman sebagai pengarang wanita Melayu pernah disebut oleh Zaba (1940) melalui penelusurannya terhadap empat karya kreatif beliau, di antaranya ialah Hikayat Syamsul Anwar, Syair Khadamuddin yang berhuruf Jawi, Hikayat Syariful Akhtar serta Syair Seligi Tajam Bertimbal.

Tidak berlebihan jika Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Tanjungpinang, Abdul Kadir Ibrahim menilai jika Aisyah Sulaiman adalah penulis hebat dan perlu diperjuangkan menjadi pahlawan nasional.

"Karya-karya beliau ada dan nyata sampai saat ini, dan ini bisa sebagai modal memperjuangkan beliau sebagai pahlawan nasional. Dibandingkan RA Kartini saya kita Aisyah Sulaiman Riau lebih bagus karyanya," ungkap Akib panggilan akrabnya.

Ia juga menyatakan kebanggaannya pada Aisyah Sulaiman yang tetap hidup sendiri setelah sang suami Raja Khalid Hitam pada 1914 di Jepang."Bandingkan dengan pejuang wanita yang kemudian kalah di tangah laki-laki karena mau dimadu. Aisyah Sulaiman malah menolak dan tidak menikah lagi hingga meninggal pada tahun 1930 di Johor," tandasnya.


Khatijah Terung 
Nama pengarang perempuan Melayu yang berasal dari rakyat biasa, Khatijah Terung juga mungkin masih asing bagi banyak orang apalagi generasi sekarang. Apalagi dalam buku sejarah sastera Melayu dan Indonesia yang standard terbitan sebelum 1980an tidak ada disebutkan namanya.

Prof Ding Choo Ming dari Universitas Kebangsaan Malaysia, menemukan literatur tentang Khatijah Terung dan karyanya saat membuat pepenyelidikan di Pulau Penyengat pada Januari 1994 untuk projek ensaiklopedia Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur.

Dalam makalahnya berbahasa Melayu Malaysia, pada 11 Agustus 2008, profesor ini menjelaskan nama Khatijah Terung masih menjadi buah mulut warga tua di Pulau Penyengat, Riau, Indonesia. Menurutnya warga di sana lebih mengenali wanita itu kerana kehebatan ilmu polong yang dikuasainya dan bukannya kerana dia seorang pengarang.

Tetapi di mata masyarakat luar, wanita itu lebih terkenal sebagai penulis karena mengarang Himpunan Gunawan Wanita dan Laki-Laki. Ia dipercaya lahir di Pulau Penyengat pada 1885 dan meninggal pada 1955

Walaupun asal usul atau keturunan ibu bapaknya tidak diketahui, tetapi dipastikan dia adalah seorang rakyat biasa. Ia menjadi lebih terkenal setelah menikah dengan Raja Haji Abdullah bin Raja Hassan (juga terkenal sebagai Raja Ali Lah), cucu Raja Ali Haji (1809-1872), keluarga bangsawan, Yang Dipertuan Muda. 

Berdasarkan penuturan dari sejumlah sumber yang dihimpun Prof Ding Choo Ming di Pulau Penyengat, perkawinannya dengan Raja Haji Abdullah adalah yang kedua kalinya. Sebelumnya Khatijah pernah menikah dengan seorang tukang gunting rambut. 

Karya Perhimpunan Gunawan bagi Laki-Laki dan Perempuan disiapkan pada tahun 1911, bersamaan 5 Rajab 1329 H di Pulau Penyengat. Karya itu adalah yang satu-satunya yang dikenal dan diwarisinya kepada masyarakat Melayu saat ini

Manuskrip itu mungkin adalah yang satu-satunya yang diketahui kini berada dalam koleksi Yayasan Indera Sakti, di bawah pimpinan Raja Hamzah Yunus, di Pulau Penyengat.

Khatijah Terung dinikahi Raja Haji Abdullah menjadi isterinya yang ke empat kerana banyak sebab. Antara lain, Raja Haji Abdullah sendiri yang juga pandai dalam ilmu sihir ingin mengetahui kehebatan ilmu polong, pengasih, tangkal dan lain-lain yang dipunyai Khatijah. 

Alasan yang lain ialah ia mempunyai bakat menulis, mengarang, berpantun, bergurindam, bersyair dan tahu bahasa Arab seperti pengarang lain di Pulau Penyengat dewasa itu, walaupun tidak meninggalkan karya yang lain, seperti pengarang wanita Riau yang lain, kecuali Raja Aisyah Sulaiman. 

Keistimewaan tambahan pada Khatijah ialah dia bukan saja pandai memasak, menekat dan menjahit, tetapi juga pandai melayan, sehingga telah mengambil hati Raja Haji Abdullah, yang lebih tua daripadanya. Hubungan mereka berdua telah terjalin semenjak Khatijah menjadi pelayan di rumah Cik Yam, isteri ketiga Raja Haji Abdullah. 

Mereka menikah sekitar tahun 1908, tetapi sebelum 1911, Khatijah telah berpindah ke rumahnya sendiri - sebuah rumah panggung satu tingkat yang berkakikan tiang semen, berdinding kayu dan berbumbung atap - yang didirikan Raja Haji Abdullah di perkarangan Komplek Istana Raja Ali Haji, yaitu tempat yang dikenali sebagai Kampung Baru masa kini. 

Di rumah itulah Khatijah tinggal sampai meninggal dunia pada usia sekitar 70an, kerana sakit tua. Berbeda dengan Raja Aisyah Sulaiman yang tetap hidup sendiri setelah kematian suaminya, Raja Khalid Hitam pada 1914 di Jepang, Khatijah Terung yang berusia kira-kira 41 tahun setelah Raja Haji Abdullah meninggal dunia pada 1926 diriwayatkan menikah sekali lagi. 

Tetapi perkawinan itu cuma bertahan sekitar dua tahun. Walaupun pandai dan hebat, malahan pernah mengajar ilmu mendapat anak kepada orang lain, tetapi dia sendiri tidak diberkati anak daripada semua perkawinannya.

Ini menepati nasihatnya yang diulangi dalam karyanya: segala-galanya mesti diberkati dan direstui Tuhan, Allah kerana 'manusia hanya boleh berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan'. 

Karena tidak mempunyai anak, dan saudara maranya sudah berpindah ke Daik, Khatijah Terung dijaga Raja Fatimah, anak tirinya, yaitu kepada Raja Haji Abdullah dari isterinya yang ketiga, Cik Yam, sampai meninggal dunia.

Karya Perhimpunan Gunawan menurut Prof Ding Choo Ming, cuma satu daripada 46 buah manuskrip tulisan Jawi di Koleksi Yayasan Indera Sakti, Pulau Penyengat. Manuskrip itu pendek, seperti kebanyakan manuskrip tentang magis, perobatan, petuah, tangkal dan pendinding. 

Manuskrip itu terdiri daripada dua bahagian. Bahagian yang pertama sepanjang 52 muka surat dengan diikuti bahagian kedua dari muka surat 53 hingga 96. Teks bahagian I dan II itu berbeda. Perbedaan itu bisa juga dilihat daripada laras tulisan tangan.***(bersambung)

NB :Tulisan ini sambungan dari artikel sebelumnya Saat Perempuan Melayu Kembali Menulis yang pernah dimuat di Majalah Tras
referensi : 
melayu.com dan sejumlah sumber tertulis lainnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung