Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Suatu Hari Di Atas Angkot

Saya jarang naik angkot, karena sejak ada Fitry (2,2 thn) udah tidak kerja lagi dan banyak di rumah. Kalau mau urusan ke luar rumah belanja juga pakai sepeda motor karena pasar dan swalayan dekat dengan rumah. Sesekali kalau bepergian jauh saya tidak berani pakai motor, karena kasian Fitry takut masuk angin. Jadi saya biasanya naik angkot.


Kemarin Minggu saya mau melihat acara lomba tahunan perahu naga. Lokasinya sekitar 10 Km dari rumah. Di atas angkot yang semula hanya diisi saya dengan Fitry kemudian ditambah dua orang ibu-ibu yang naik. Yang satu pakai jilbab dan satu tidak. Keduanya membawa tas, yang ibu pakai jilbab tas ransel hitam dan ibu yang tak berjilbab pakai tas tangan warna coklat.

Dari awal naik, kedua ibu yang saya sebut ibu A untuk yang tak berjilbab dan ibu B tuk yang berjilbab sudah asyik ngobrol. Jadilah saya dan mungkin Fitry :) pendengar yang baik alias nguping. Tapi, hasil nguping itu membuat saya trenyuh dan bersyukur dengan kondisi saya. Kenapa ?

Dari pembicaraan keduanya, saya yakin keduanya bekerja sebagai sales marketing alat-alat elektronik dan perabot. Keyakinan saya karena : 
1. Mereka naik dari ruko yang notabene memang adalah tempat usaha kredit perabot dan barang elektronik
2. Dari hasil pembicaraan mereka tentang promosi, konsumen, tutup buku dll yang berhubungan dengan marketing saya makin yakin
3. Mereka membawa tas besar yang sempat saya intip dari tas ibu A tampak seperti katalog-katalog tebal
4.Saya juga pernah ditawari oleh ibu-ibu seperti mereka di rumah untuk kredit barang, tapi karena udah lengkap saya tidak berminat

Oh ya kembali mengapa saya trenyuh dan bersyukur dengan kondisi saya, ya karena si ibu A bilang ke si B dia nanti harus pulang jam 10 malam. Suaminya izin meskipun kadang mengaku keberatan juga karena merasa tidak enak dengan tetangga. " Saya bilang ke suami, emang kalau kita lapar ada tetangga yang mau antar nasi ke rumah ini. Ada tetangga yang peduli ?" begitu ia bercerita ke ibu B.

Deg.....trenyuh mendengarnya. Saya yakin ibu ini tulang punggung keluarganya. Saya sempat menduga-duga ibu A punya suami dengan pekerjaan yang tidak tetap, sehingga ia harus turun tangan membantu keuangan keluarga meski harus jadi sales dari rumah ke rumah dan pulang sampai malam. 

Sedangkan untuk ibu B yang membuat saya trenyuh ketika dia bilang "kemarin saya buru-buru pulang karena di rumah tak ada beras "....hiks...kata beras yang diucapkannya setengah berbisik tapi tetap terdengar dan jelas terlihat dari gerak mulutnya juga membuat saya sedih.

Saya salut dengan kedua ibu tersebut.Mau turun membantu keuangan keluarga. Berjuang untuk anak-anak mereka demi dapur bisa ngebul.

Saya bersyukur bisa lebih baik kehidupan dari mereka. Tiap bulan tinggal cek ATM ambil gaji dari kantor suami. Kemudian membelanjakannya. Tak perlu harus ikut nyari uang. Tak harus repot-repot promosi berhujan dan berpanas ke rumah-rumah menawarkan produk.

Ya, saya harus lebih bersyukur dengan bisa menghemat pengeluaran. Harus lebih bisa menghargai jerih payah suami. Harus lebih bisa banyak menabung untuk masa depan anak. Pokokonya ya harus lebih bersyukur, beryukur dan bersyukur

Buat dua orang ibu yang saya temui di angkot semua sukses dan bisa hidup lebih baik. Begitu juga dengan ibu-ibu lainnya yang jadi tulang punggung keluarga.Aamiin

Posting Komentar untuk "Suatu Hari Di Atas Angkot"