Melongok Aktivitas Ramadhan di Mesjid Penyengat

berbuka puasa ramadhan di mesjid penyengat

Siang itu Jumat, 28 Agustus 2009 adalah Jumat pertama di bulan puasa. Saya mencoba melongok aktivitas Ramadhan di Pulau Penyengat, tepatnya di Mesjid Sultan Riau. Siang itu usai kaum pria melaksanakan ibadah sholat Jumat, saya bertemu dengan salah seorang pengurus mesjid, Abdurrahman.

Pria berusia 60 tahun itu baru saja hendak keluar dari mesjid.Namun, ketua 2 mesjid itu bersedia diajak berbincang-bincang seputar aktifitas Ramadhan di mesjid tersebut.
berbuka puasa ramadhan di mesjid penyengat

Ia mengatakan, seperti mesjid-mesjid lainnya di Tanjungpinang, awal puasa mesjid tersebut selalu penuh dengan umat yang beribadah sholat tarawih. Mesjid yang berkapasitas 300 orang itu, ramai sejak berbuka hingga tarawih bahkan tadarusan.

"Ya, awal-awal puasa memang ramai. Tapi, seperti di mesjid-mesjid lainnya pertengahan ramadhan hingga akhir, ya mulai sepi," tuturnya.

Sedangkan untuk aktifitas sholat jumat, Ketua RT 001 RW 04 Kelurahan Penyengat ini mengaku tetap ramai. Bahkan jemaah sholat hingga pelataran yang memang dicadangkan jika jemaah melimpah.

Saya mencoba melongok sebentar ke dalam mesjid. Hanya ada beberapa orang jemaah perempuan yang hendak sholat zuhur dan anak-anak yang juga hendak sholat. 


Abdurrahman mengaku jika siang hari, mesjid itu hanya menjadi tempat sholat dan itikaf sejumlah orang. Tak ada kegiatan khusus yang diadakan untuk terus meramaikan mesjid tersebut.

Namun, yang uniknya mesjid tersebut menyediakan makanan berbuka bagi pengunjung dan jemaah yang hendak beribadah malam hari di mesjid itu. Makanan dan minuman dibiayai oleh kas mesjid, yang mana perhari dibutuhkan dana sebesar Rp 400 ribu.

"Kita menyediakan 200 keping kue, makanan seperti bubur dan minuman seperti teh dan kopi susu," jelasnya.

Kue dan makanan itu diurus oleh masing-masing RT yang ditunjuk. Sedangkan minuman dibuat oleh pengurus mesjid. Besarnya dana yang dibutuhkan untuk pengadaan makanan dan minuman tersebut, berasal dari sumbangan donatur dan dermawan dari dalam maupun luar negeri.

"Alhamdulillah, selalu ada yang menyumbang dalam jumlah besar. Sehingga bisa digunakan untuk menyiapkan makanan dan minuman berbuka puasa di mesjid ini," tuturnya.

Saat ramadhan ini, Mesjid Sultan Riau Penyengat sedikit berbenah dengan membangun kamar kecil dan tempat berwuduk baru. Hal ini mengingat tempat berwudhu bagi pria dan wanita yang lama sudah tidak layak lagi.

Menjawab jumlah kunjungan jemaah ke mesjid itu selama bulan puasa dan hari-hari biasa. Abdurrahman mengaku kurang tahu. "Kalau sabtu dan minggu biasanya ramai. Tapi jumlah pastinya saya tidak tahu," katanya.

Abdul Karim Ingin Sampai Hayat di Mesjid

Diantara sejumlah nama pengurus Mesjid Sultan Riau Penyengat, ada nama Abdul Karim. Pria yang masih tampak sehat di usia 79 tahun itu bisa dikatakan adalah bagian umum di mesjid tersebut. Selain bertugas sebagai petugas kebersihan, ia juga merangkap sebagai bilal, wakil imam dan tukang pukul beduk.

berbuka puasa ramadhan di mesjid penyengat
Abdul Karim mempersiapkan minuman buka puasa

Khusus di bulan puasa ini,pria bertubuh kecil itu yang menyiapkan minuman teh dan kopi susu hangat untuk jemaah yang hendak berbuka dan beribadah di mesjid itu. Siang itu, ia tampak sedang sibuk di sebuah bangunan kecil yang terletak di bagian depan samping kiri mesjid.


Ternyata sejak pukul 2 siang, ia sudah menyiapkan satu ketel teh susu dan satu ketel kopi susu hangat. Untuk masing-masing minuman tersebut dibutuhkan 3 kaleng susu.

Uniknya, agar minuman itu tetap hangat hingga waktu berbuka, pensiunan dinas pendidikan itu membungkusnya dengan kain berlapis-lapis."Ini lebih bagus daripada menggunakan termos, yang hanya tahan sebentar panasnya," jelas pria ramah itu.

Pria yang sudah ditinggal meninggal istrinya tersebut mengaku sudah biasa mengurus mesjid tersebut sejak remaja. Bahkan, ia nyaris tiap hari tidur di mesjid itu. Waktu itu di tahun 50 an, mesjid penyengat masih sepi atau belum dikunjungi oleh wisatawan. Bahkan mesjid itu terkesan terabaikan.

"Waktu itu kami bersama-sama kawan-kawan yang suka tidur dan mengurus mesjid ini," kenangnya.

Ketika ia mendapatkan pekerjaan di dinas pendidikan, bapak dua anak ini tetap rajin ke mesjid itu. Namun, ia tidak fokus mengurusnya. Barulah sejak 6 tahun terakhir ia benar-benar konsentrasi mengurus mesjid tersebut.

Abdul Karim ingin sampai hayat mengurus Mesjid Penyengat

"Namanya sejak kecil kita sudah akrab dengan mesjid ini ,jadi panggilan hati tidak bisa ditolak. Jadi saya kembali mengurusi mesjid ini hingga akhir hayat nanti," tegasnya.


Ia mendapatkan tugas tiap dua hari sekali bergantian dengan rekannya. Jika tidak sedang bertugas mengurus mesjid ia kembali ke rumahnya yang masih dekat mesjid. Atau ia pergi menjenguk anak cucunya di Batam.

"Pokoknya saya merasa senang mengurus dan tinggal di mesjid ini .Malah anak-anak saya melarangpun saya tidak mau," alasannya.

Dengan uang pensiun sebesar Rp 1,1 juta bisa dikatakan melebihi honornya sebagai pengurus mesjid. Namun,ia mengaku tidak melihat imbalan, karena semua ia lakukan dengan niat tulus mengurus rumah Allah.

Ditanya dukanya,ia mengaku tidak ada. Sedangkan sukanya ia mengaku setiap hari selalu suka dan senang. "Saya m ndapatkan banyak kenalan dan teman.Itu adalah hal yang membahagiakan," cetusnya.

"Kalaupun ada dukanya paling jika ada pengunjung yang masuk mesjid,terus berfoto-foto tanpa izin. Padahal sudah ada larangan dan seolah-olah mereka tidak peduli dengan kita sebagai pengurus. Itu saja," imbuhnya.

Keikhlasan dan hati yang sudah tertambat di mesjid itulah yang membuat Abdul Karim masih segar di usia yang seharusnya membuat tubuhnya ringkih."Ikhlas, tertawa dan tidak banyak pikiran itu saja kuncinya," jawabnya tentng rahasia panjang umur dan sehat

Komentar