Mencapai Mimpi Bermodal Percaya Diri



Pernahkan Anda berjalan menunduk di depan banyak orang karena merasa sangat tidak cantik, pakaian biasa saja dan merasa tidak sepadan dengan mereka ? Saya pernah dan itu berlangsung saat saya duduk di bangku sekolah. Dimulai ketika saya duduk dibangku kelas satu SMP. Saya sangat minder, karena saya tidak cantik, berasal dari keluarga sederhana dengan hidup apa adanya.

Saya malu bergaul dengan teman-teman sebaya yang menurut saya mereka cantik, berasal dari keluarga berada dan tentu saja penampilan mereka oke punya. Saya minder luar biasa untuk bisa berdekatan dengan mereka. Sehingga saya memilih berteman dengan orang-orang yang menurut saya pantas dan sepadan dengan kondisi saya.

Hal itu terus berlangsung hingga kelas 3 SMP. Kadang sayang mengkhayal bisa seperti mereka yang cantik, penampilan yang keren dan pergaulan yang asyik. Tapi semua itu hanya dalam khayalan saja. Saya tetap menjadi gadis pemalu yang tidak percaya diri, minder dan selalu merasa kurang dari teman-teman lainnya.

Hanya satu yang membuat saya sedikit percaya diri ketika penerimaan raport. Saya selalu juara kelas. Hal itu yang membuat saya merasa lebih hebat dari mereka-mereka yang cantik dan keren, sebab mereka bukan juara kelas. 

Hal tersebut terus berlanjut saat saya duduk di bangku kelas satu SMA. Kawan-kawan sekolah makin beragam karena berasal dari daerah lain. Seperti biasa saya masih minder, masih tidak percaya diri bergaul dengan mereka karena merasa tidak sepadan dan pantas.

Hingga suatu hari saya membaca kisah di sebuah majalah tentang seorang anak yang tidak mampu bisa mewujudkan cita-citanya dan menjadi orang sukses. Saya tersentak dengan kisah itu dan saya merasa harus bisa sukses, harus bisa sepadan dengan orang-orang yang saya anggap keren dan harus bisa menegakan kepala saat berpapasan dengan mereka.

Sejak saat itu saya mulai merawat mimpi saya untuk bisa sukses dengan kepercayaan diri yang harus saya pupuk sejak saat itu. Saya tahu punya kelebihan kecerdasan dan nilai raport sekolah yang selalu bagus. Saya jadikan itu modal itu untuk bergaul dengan teman-teman yang saya anggap cantik dan keren.

Saya menawarkan diri bergabung di kelompok belajar mereka sehingga saya bermanfaat untuk mereka dalam membahas pekerjaan rumah. Pelan dan pasti saya menjadi bagian dari anak-anak keren tersebut dan kepercayaan diri saya mulai tumbuh.

Tapi saya sempat kembali drop ketika kelas 3 SMA tepatnya menjelang kelulusan. Rata-rata teman -teman saya menyatakan mau melanjutkan kuliah. Sementara saya tidak bisa karena orang tua tidak mampu. Saya sadar tidak bisa memaksakan diri untuk kuliah karena adik-adik saya lima orang juga butuh makan dan biaya sekolah.

Ketika waktu kelulusan saya benar-benar drop, sedih dan merasa mimpi saya sudah berakhir. Saya tidak kuliah dan mau jadi apa ? Menikah, punya anak dan kemudian hanya jadi ibu rumah tangga biasa ? Ya itu kodrat wanita, tapi saya ingin mengangkat derajat keluarga saya menjadi orang sukses, bekerja, membiayai adik-adik saya, mapan, menikah dan punya kehidupan yang bagus.

Cita-cita dan mimpi saya memang sederhana, tapi bagi saya yang berasal dari keluarga tidak mampu terasa berat. Bekerja dengan modal ijazah SMA tentu hanya di bidang yang standar saja. 

Kepercayaan diri saya yang sudah mulai tumbuh kembali ke titik nol saat lulus sekolah. Saya malu berpapasan dengan teman-teman yang kuliah. Jika melihat dari jauh saya memilih menghindar. Sumpah saya benar-benar merasa rendah diri. Apalagi di suatu kesempata saya pernah bertemu dengan teman yang kuliah, dia memandang rendah saya dan berkata yang membuat hati saya sedih.

Hingga suatu hari saya merasa harus bangkit. Saya harus bisa mewujudkan cita-cita sederhana saya, bekerja, mengangkat derajat keluarga dan bisa membantu orang tua menyekolah adik-adik. Saya memberanikan masuk lembaga pendidikan keterampilan satu tahun tentang jurnalistik. Saya memang hobi membaca dan menulis, sehingga saya merasa saya itu adalah jalan bagi saya untuk mencapai sukses.

Bermodal sisa uang beasiswa dan pinjaman saya berani mendaftar di lembaga tersebut. Di sana selain pelajaran tentang jurnalistik juga ada kursus komputer, internet dan bahasa inggris. Beruntungnya lagi pesertanya bisa magang di sebuah koran mingguan yang satu grup dengan lembaga pendidikan tersebut. 

Tapi, tetap ada orang-orang di sekitar yang mencoba meruntuhkan mimpi saya dan menganggap saya tidak akan bisa bekerja dengan hanya mengikuti pendidikan satu tahun tersebut. Namun, saya sadar, segala keterbatasan harus saya singkirkan dengan mengingat mimpi yang harus saya raih meski kepercayaan diri saya sempat surut.

Saya merasakan kepercayaan diri saya kembali bangkit. Apalagi ketika tulisan pertama saya masuk koran di tempat magang. Setiap minggu selalu ada satu bahkan dua hingga tiga tulisan saya. Ketika bulan depannya saya berhak menerima honor. Rasanya luar biasa ketika menerima honor pertama dari menulis. Ada haru yang tak tertahankan serta percaya diri saya naik ke level paling atas.

Saya merasa dunia menulis ada tempat saya sebenarnya. Selama di sekolah hobi tersebut tidak maksimal karena keterbatasan seperti tidak ada mesin ketik, tapi di lembaga pendidikan itu saya benar-benar diberikan kemudahan. Alhasil saya menjadi penulis tetap dan diterima bekerja sebagai jurnalis magang.

Ketika jelang berakhir masa pendidikan, ada koran baru buka. Saya mencoba melamar dengan modal ijazah SMA dan kliping tulisan saya. Ternyata hanya dengan melihat kliping tulisan dan dites menulis satu artikel saya diterima. Saya tidak henti-hentinya bersyukur. Saya yang belum lulus pendidikan bisa diterima bekerja di sebuah koran harian.

Kepercayaan diri makin memuncak, apalagi bekerja sebagai jurnalis adalah pekerjaan yang dianggap tidak semua orang bisa melakukannya. Dianggap bagus dan keren karena bisa dekat pejabat, dekat dengan banyak orang dan bisa kemana-mana.

Ketika bertemu dengan teman-teman saya yang masih kuliah, mereka kagum dengan saya. Karena ketika mereka masih disubsidi orang tua, saya malah sudah punya penghasilan dan bisa membantu orang tua. Mak dan ayah serta keluarga juga bangga dengan saya, karena mereka tidak menyangka saya bisa bekerja menjadi jurnalis dan dikenal banyak orang. 

Menjadi jurnalis saya lakoni hingga 10 tahun. Saya menikah di usia 25 tahun dengan suami seorang PNS. Apa yang saya mimpikan tentang kehidupan yang mapan pun terwujud. Bahkan dengan modal kepercayaan diri saya aktif di berbagai organisasi wanita dan pernah menjabat sebagai sekretaris umum di sebuah organisasi wanita tingkat kota.

Bergaul dengan para wanita dari berbagai profesi, latar belakang tidak membuat saya minder. Saya tetap percaya diri jika saya setara dengan mereka dengan kemampuan saya. Tidak ada minder dan rendah diri berjalan menundukan kepala seperti saat sekolah dulu.

Sekarang saya tidak lagi menjadi jurnalis, tapi saya tetap aktif menulis di blog serta bekerja di sebuah perusahaan swasta yang pemiliknya dulu sering saya wawancarai. Pekerjaan saya tidak jauh dari menulis.

Sekarang, ketika era socmed dan kemudahan berkomunikasi melalu beragam smartphone, saya bisa terhubung dengan teman-teman sekolah dulu. Tidak ada lagi minder saat ngobrol dengan mereka yang dulu saya anggap keren. 

Percaya diri hanya kita bisa memupuk sendiri. Hanya kita yang bisa terus menjaga mimpi-mimpi. Orang lain bisa saja memberikan pendapat, tapi keputusan di tangan kita. Tapi percaya diri bukan berarti tinggi hati tapi tetaplah rendah hati dan tidak menyakiti orang lain.

Btw jadi teringat dengan teman saya Chayca yang juga sedang menjalani profesi jurnalis, bagaimana kisahnya bisa jadi Jurnalis ? cerita donk

Komentar

  1. semangat uni ana, ntar share share ya pas ketemu

    BalasHapus
  2. Inspiratif Uni.
    Semoga karirnya makin cemerlang dan buku anaknya segera terbit. Aamin YRA

    BalasHapus
  3. Waaah.. uni ternyata 10 tahun jadi jurnalis ya? toss sesama yang pernah punya profesi serupa,
    Dari kecil saya sudah percaya diri sik sebenarnya, cuma satu dulu masalah yang membuat saya tak pede, yakni kalau difoto. Saya merasa ga cantik, mata saya besar dan katanya bibir saya tipis kaya lintah. Karena ejekan itu saya jadi malu difoto. Tapi sejak mahasiswa, mempelajari masing-masing perangai orang, saya jadi menyimpulkan "You r beatiful as u r". Dan sejak saat itu makin pede, hingga akhirnya terdampar jadi jurnalis, tingkat kepercayaan diri pun makin menjadi karena kita dituntut menjadi jurnalis militan tapi bebas nilai.. Ah sudahlah panjang kalau diceritain, nanti aja klo ketemu kita sharing ya uni. :))

    BalasHapus
  4. Apapun pendidikan kita, yang penting tetap berkarya Kak Ana..... Saya dulu juga sering dianggap sebelah mata oleh tetangga dan orang2 di kampung, makanya bertekad tamat SMP, langsung berjuang sekolah ke luar dan berusaha untuk mendapatkan beasiswa dari SMA hingga kuliah. Remehan orang adalah modal dasar kita untuk terus terpacu maju....

    BalasHapus
  5. Pernah banget. Karena cita-citanya pengen jadi model. Tapi apa daya....lol

    BalasHapus
  6. Kalo menurut saya, tolak ukur seseorang itu, bila dia bisa mengangkat apa yang ada pada dirinya menjadi suatu yang bisa bermanfaat untuk orang banyak Uni. Dan itu tidak pakai embel2. Selagi kita mampu, ya Pede aja.

    BalasHapus
  7. Tetap semangat, uni... Jangan pernah berhenti bermimpi

    BalasHapus
  8. Inspiratif sekali mbakk .. jadi termotivasi nih . makasih sharingnya

    BalasHapus
  9. Inspiratif sekali mbak.. saya kagum dengan semangat nya..

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Mohon maaf komentar terpaksa dimoderasi karena akhir-akhir ini banyak Spam.Terimakasih sudah berkunjung