Generasi Ketiga Keluarga Besarku


Generasi ketiga dari nenek kakek saya dari tahun ke tahun makin bertambah. Yang paling senang tentu adalah nenek saya karena dia bisa melihat cicit-cicitnya. Kakek saya juga masih sempat melihat cicitnya sebelum meninggal empat tahun lalu.

Buyut saya yang tidak pernah melihat cicitnya alias saya beserta sepupu. Karena almarhum meninggal usia muda di saat cucu cucunya alias ibu saya bersaudara masih kecil.

Tapi yang jelas buyut saya di alam sana tentu bahagia, karena almarhumah yang anak tunggal bisa mempunya keturunan yang berkembang hingga sekarang.

Buyut saya punya tiga orang anak dari suami pertama dan tiga orang anak dari suami kedua. Salah seorang anaknya adalah nenek saya. Nenek saya punya delapan anak dan salah satunya adalah ibu saya.

Saat ini nenek saya punya 18 cucu dan 4 cicit. Empat orang cicit itu dari keturunan perempuan mengingat kami adalah orang minang yang menganut sistem matrianial atau garis ibu. Jadi cucu dan cicit itu hanya dihitung dari turunan perempuan.

Satu orang sepupu saya sedang hamil tua dan mungkin akan melahirkan dalam bulan depan. Berarti akan bertambah satu lagi jumlah cicit. Semoga proses persalinannya nanti berlangsung lancar, aman dan bayi serta ibunya juga sehat selamat.

Dalam keluarga kami kehadiran seorang bayi selalu disambut penuh kegembiraan. Sehingga saat proses persalinan, keluarga ramai menunggu di luar rumah bersalin. Bergantian menunggu. Bahkan kakek saya juga selalu antusias menunggu cucu barunya.

Masih ingat ketika ibu saya melahirkan anak ke empat dan proses sakitnya cukup lama, sehingga bolak balik ke rumah bersalin yang untung dekat dari rumah.

Kakek saya waktu itu memberikan minuman yang udah dibacakan surah pedenk dan akhirnya proses persalinan berjalan normal.

Pernah juga kejadian ketika tante saya melahirkan anak kedua, lama juga sakitnya dan ketika berhasil dilahirkan ternyata meninggal dunia. Bayinya sudah kuning dan katanya terminum air ketuban yang pecah di dalam.

Mungkin karena di kampung dan cuma ada bidan ditambah masih minimnya mendapatkan informasi tentang masalah kehamilan, sehingga tante tidak mengetahui penyebab air ketuban pecah dan terlambat mengetahuinya hingga penanganannya.

Sedih banget waktu itu, karena anak dua itu sudah lama dinanti sebab kakaknya sudah besar dan jaraknya lumayan jauh. 

Sekarang di era internet dan makin mudahnya mendapatkan berbagai informasi serta mudahnya diskusi dengan banyak pihak, jadi ibu hamil bisa bertanya dan diskusi tentang kehamilan dan keluhannya meski hanya via sosial media.

Mengenai kasus tante saya yang kehilangan anaknya karena terminum air ketuban pecah itu, dari sebuah artikel saya baru tahu penyebab diantaranya disebabkan :

1. Infeksi rahim, leher rahim dan vagina
2. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat
3. Terlalu banyak mengalami peregangan rahim 
4. Merokok selama hamil
5. Pernah melakukan operasi serviks
6. Riwayat ketuban pecah dini pada kehamilan sebelumnyna
7. Mengalami pendarahan selama trimester kedua dan ketiga

Mengenai kasus spesifik kehamilan tante saya, mungkin salah satu dari faktor di atas. Semoga kejadian ini tidak ada terulang lagi di dalam keluarga kami. 








Komentar

  1. Senangnya punya keluarga besar ya begitu, ya Mba? Rameeee, nggak bakal merasa sendiri. banyak yang bisa dimintain pendapat. Hihihihihi... Kalo sedih juga ditanggung bareng dan banyak mendapat penghiburan

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Mohon maaf komentar terpaksa dimoderasi karena akhir-akhir ini banyak Spam.Terimakasih sudah berkunjung