Membaca dan Kreatifitas Menulis



Sejak dulu di bangku kelas satu sekolah dasar atau tepatnya sudah bisa membaca, saya jadi ketagihan membaca. Selain membaca buku buku pelajaran, saya juga membaca bermacam-macam merek barang dagangan yang dipajang di toko milik tante. Koran bekas bungkus belanjaan di pasar pun tidak luput saya baca.


Waktu itu di sekolah perpustakaan memang ada, tapi buku-bukunya sebagian besar buku pelajaran. Buku cerita bisa dikatakan amat minim. Jikapun ada itu adalah buku-buku lama bahkan ejaannya masih ejaan lama.

Tapi karena hobi membaca, hal itu tidak menjadi penghalang bagi saya. Saya tetap meminjam buku-buku itu untuk dibaca. Ada kepuasan tersendiri ketika selesai membaca. Tidak hanya itu, saya juga membaca majalah anak-anak bekas yang dijual oleh pedagang di halaman sekolah. Maklum karena keterbatasan uang jajan, hanya sanggup beli majalah bekas. Jika ingin membaca majalah baru biasanya saya meminjam ke teman.

Kepuasan membaca buku-buku baru adalah ketika duduk di bangku SMP. Waktu perpustakaan mendapatkan bantuan buku-buku cerita yang banyak. Saya berasa di surga dan tidak sabar untuk menghabiskan membaca setiap buku yang dipinjam supaya bisa meminjam buku yang baru lagi.

Jika waktu SD saya lebih suka membaca cerita dongeng anak, waktu di SMP saya suka membaca novel. Berbagai novel sastra dari berbagai angkatan penulis saya baca, seperti angkatan  Balai Pustaka dengan novel Siti Nurbaya, Azab dan Sengsara, Sengsara Membawa Nikmat, Salah Asuhan dll. 

Kemudian novel angkatan Pujangga Baru seperti Dian Tak Kunjung Padam, Perawan di Sarang Penyamun, Layar Terkembang, Dibawah Lindungan Ka'bah dll. Sedangkan Angkatan 45 saya membaca novel Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma, Atheis dan Tiga Menguak Takdir.

Masih banyak lagi judul judul buku dari berbagai angkatan hingga buku novel populer hingga buku jenis lainnya yang saya baca dan saya koleksi. Semua itu menjadi wawasan tersendiri bagi saya. Efek dari membaca bagi saya adalah saya termotivasi untuk menulis dan bercerita melalui tulisan.

Awalnya saya hanya menulis atau mengarang cerita jika ada pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Tapi kadang ingin membuat cerita pendek dan mengirimkan di majalah. Namun waktu itu terkendala dengan ketiadaan fasilitas seperti mesin tik pada zaman itu.

Keinginan untuk bisa menghasilkan tulisan yang bisa dibaca banyak orang baru terwujud ketika saya diterima magang di sebuah koran lokal. Saya diminta mengisi kolom cerita anak dan saya sambut dengan baik. 

Inspirasi cerita biasanya dari kehidupan masa kecil saya dan orang sekitar. Karena sudah terbiasa membaca, sehingga saya bisa menuliskan dengan lancar. Saya menyadari hal itu tentu pengaruh dari berbagai bacaan yang saya baca khususnya novel.

Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian saya juga bisa menerbitkan kumpulan buku cerita anak, kumpulan cerpen karya saya sendiri dan menerbitkan buku antologi cerpen bersama kawan-kawan penulis.

Hingga sekarang saya masih menulis disela kesibukan sebagai ibu rumah tangga dan wanita yang bekerja. Mengisi blog dengan berbagai tulisan adalah kepuasan tersendiri bisa berbagi untuk banyak orang.

Pada sebuah acara tentang dasar menulis dan blog yang diikuti mahasiswa beberapa waktu lalu, ada yang pernah bertanya bagaimana bisa menjadi penulis. Menurut saya menjadi penulis harus dimulai dari membaca. Jika terbiasa pasti akan bisa menulis. Setidaknya bisa menuliskan apa yang dilihat, didengar dan dipikirkan. Mengenai kehalusan tulisan itu hanya perlu latihan dan konsisten.

Ibarat menyannyi. Orang yang terbiasa mendengarkan lagu pasti akan mencoba menyanyikan lagu yang didengarnya. Anggaplah suaranya sumbang atau tidak bagus. Tapi pelan-pelan dengan latihan yang terus menerus pasti akan bisa menyanyi dengan suara yang enak didengar.

Anda mau jadi penulis ? mulailah dengan membaca











Komentar

  1. Setuu, tapi zaman sekarang banyak juga penulis yang malah nggak suka membaca. Yang pemula biasanya. :o

    BalasHapus
  2. Semakin banyak membaca, maka semakin luas pengetahuan kita. Membaca juga bisa menambah diksi dan jadi sumber ilmu kekuatan kita untuk bisa menulis lebih baik ya, ka Ina3.

    BalasHapus
  3. Saya juga sejak SD mbak suka membaca hehe, seneng banget kalau udah dibeliin buku baru sama mamah, hehe. Dengan membaca perlahan bakalan membuat kreatifitas menulis lancar jaya,

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Mohon maaf komentar terpaksa dimoderasi karena akhir-akhir ini banyak Spam.Terimakasih sudah berkunjung