Loading

Rabu, 23 September 2015

Akibat Asap Kami Kehilangan Pulau Bersejarah Itu

Kabut asap sore ini 

Setelah beberapa hari kabut asap menipis dan mulai hilang karena Kota Tanjungpinang sudah disiram hujan, ternyata hari ini kabut asap kembali melanda kota ini. Asap kiriman ini diduga dari Provinsi Riau dan Pulau Kalimantan yang beberapa waktu terakhir dilanda kebakaran hutan. 

Khusus untuk sore ini saya yakin adalah kabut asap kiriman dari Kalimantan, karena seperti yang saya baca berita di media online, kabut asap di Riau sudah berkurang namun di Kalimantan kian parah.

Sore ini, sekitar jam 16.30 WIB ketika saya memulai menulis di blog ini, kabut asap makin parah. Jarak pandang bisa dikatakan hanya 100 meter. Biasanya pepohonan di bebukitan nun jauh di depan kantor saya masih bisa terlihat jelas, tapi sore ini tidak jelas terlihat atau hanya samar.

Aroma asap menyengat juga masuk ke dalam kantor sehingga mengganggu kenyamanan bekerja. Tidak terbayang dengan mereka yang harus bekerja di luar ruangan apalagi mereka yang tinggal di daerah penghasil asap tersebut. Pulang kerja nanti saya harus memakai masker atau penutup hidung dan mulut supaya asapnya tidak banyak terhirup.

Kabut asap sejak siang hingga sore ini bisa dikatakan sudah makin parah melanda Kota Tanjungpinang. Sebagai kota yang berada di Pulau Bintan dan diapit oleh pulau Sumatera dan Kalimantan, efek kebakaran hutan yang terjadi di Riau dan Kalimantan juga berimbas ke kota ini.
Pulau Penyengat tidak terlihat dari tepi laut Tanjungpinang. Pic by grup tanjung pinang

Bukti parahnya efek kabut asap tersebut, Pulau Penyengat yang biasa indah dipandang dari tepi laut Kota Tanjungpinang, sore ini hilang tertutup asap. Kami kehilangan view indah melihat pulau itu dari tepi laut di sore hari. Padahal pulau bersejarah kebanggaan kota ini hanya berjarak sekitar 2 Km dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang.

Seperti foto yang diposting oleh salah satu warga di grup facebook Tanjung Pinang . Pulau Penyengat tidak terlihat sama sekali. Pada Minggu, 6 September lalu saya masih sempat mengabadikan, pulau tersebut masih bisa dilihat meski kabut asap juga melanda kota ini. Namun memang kabut asap masih belum parah seperti saat ini. 
6 September 2015, kabut asap masih tipis dan Pulau Penyengat masih terlihat

Sedih, miris, marah, galau, gundah dan segala rasa dalam bentuk kekesalan dan kekecewaan menyatu jika kondisi sudah seperti ini. Masalah kebakaran hutan dan lahan yang puluhan tahun tidak juga bisa tertangani oleh pemerintah khususnya pihak kompeten telah "menyakiti" rakyat. 

Pemerintah tolong hukum seberat-beratnya pelaku pembakaran hutan dan lahan. Tolong cabut izinnya. Tolong perketat pemberian izin pembukaan lahan. Tolong buat rakyat sehat, nyaman dan aman untuk beraktifitas sehari-hari. 

Untuk para pelaku pembakaran, baik dari pemilik lahan, oknum pemberi izin dan oknum-oknum lainnya semoga bertobat dan tidak hanya mementingkan isi kantong. Semoga kalian masih punya hati dan menyesali semua perbuatan kalian telah membuat jutaan rakyat menderita. Ribuan anak-anak tak berdosa menderita. Ribuan orang-orang tua renta harus bersusah payah menghirup udara segar. Jutaan generasi muda harus belajar di tengah asap. Masih banyak penderitaan rakyat lainnya yang semoga mengetuk nurani kalian. 

Semoga kabut asap segera berlalu..kami rindu langit bersih dan udara segar. Aamiin







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung