Loading

Rabu, 30 April 2014

Tanjungpinang Kota Wisata, Menjual Penyengat Meraih Manfaat

Mengunjungi Kota Tanjungpinang di Kepulauan Riau, tidak lengkap jika tidak mengunjungi Pulau Penyengat. Pulau kecil yang terletak di sekitar 15 menit dari dermaga Sri Bintan Pura dengan menggunakan pompong (perahu mesin kecil-red), merupakan pulau yang sarat dengan sejarah khususnya kebesaran Melayu pada masa lampau. 


Pulau mungil dengan luas sekitar 3,5 kilometer persegi tersebut saat ini merupakan sebuah wilayah kelurahan, yakni Kelurahan Penyengat di bawah Kecamatan Tanjungpinang Kota.Dalam sejarah disebut pulau itu adalah mas kawin penguasa Riau pada masa itu, yakni Sultan Mahmudsyah (1761-1812) kepada sang istri Engku Puteri Raja Hamidah. 

Selanjutnya berdasarkan sejarah yang ada, pulau itu juga pernah menjadi pusat pemerintahan sekitar awal tahun 1900.Karena selain sebagai tempat tinggal raja, di sana juga terdapat rumah sakit, sarana transportasi dan mahkamah. 

Bahkan ketika masa Raja Haji Fisabilillah, pulau itu menjadi pertahanan utama ketika Perang Riau berkobar melawan Belanda. Hal itu dapat dibuktikan dengan masih ada sejumlah peninggalan yang menunjukan pulau itu punya peranan penting pada Perang Riau, seperti benteng pertahanan dan gudang mesiu.
Objek Wisata Pulau Penyengat Tanjungpinang masih belum menjual
Foto diambil dari sini

Di pulau yang mempunyai landmark Mesjid Sultan Riau Penyengat terdapat berbagai tempat dan situs sejarah, yang hingga saat ini masih terawat dan dikunjungi banyak orang, baik dari kota itu sendiri maupun dari luar daerah bahkan luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.

Tempat-tempat itu antara lain makam Engku Puteri, makam Raja Ahmad, Raja Abdullah, dan makam Raja Ali Haji seorang pengarang Gurindam 12 yang fenomenal dan kini menjadi Pahlawan Nasional.Kemudian juga ada Balai Adat dan bekas istana Raja Ali Marhum Kantor .

Dari sekian banyak tempat-tempat yang bisa dikunjungi, Mesjid Sultan Riau Penyengat memang menjadi favorit atau tujuan utama para tamu jika datang ke pulau ini.Sebelum mengelilingi pulau tersebut, tamu biasanya menyempatkan sholat di mesjid yang berdiri pada 1 Syawal 1249 Hijriah atau pada tahun 1832 Masehi. Mesjid tersebut didirikan oleh Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdul Rahman. Masjid yang konstruksinya konon dilapisi putih telur ini memiliki 17 buah kubah.Jumlah itu sesuai dengan jumlah rakaat shalat wajib dalam satu hari. 

Belum “Dijual”

Tapi, Pulau Penyengat dengan segala sejarah, kebesaran dan keindahannya, tampaknya belum “dijual” oleh Pemko Tanjungpinang sebagai sebuah objek wisata yang menghasilkan kontribusi pada pendapatan daerah. 

Padahal melihat potensi yang ada di pulau itu, Penyengat bisa menjadi objek wisata religi dengan berkat Mesjid Sultan Riau.Penyengat juga bisa menjadi objek wisata budaya dan sejarah dengan banyaknya peninggalan situs sejarah di sana, bahkan pulau itu juga bisa menjadi tempat wisata belanja jika masyarakat di sana bisa memanfaatkan para wisatawan untuk membeli berbagai produk khas yang dihasilkan. Selain itu melihat alam Penyengat yang masih hijau dengan pepohonan, juga bisa menjadi objek wisata alam, seperti jelajah hutan, hicking dan outbound.

Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, setiap pengunjung yang datang ke pulau itu tidak dipungut retribusi. Tentu saja dengan kondisi tersebut belum ada data pasti berapa pengunjung yang datang setiap hari, tiap bulan bahkan setahun ke pulau eksotis tersebut. 

Seperti yang diungkapkan oleh Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Tanjungpinang Drs Wan Kamar, jika Penyengat memang belum diekplorasi semaksimal mungkin untuk menggaet wisatawan ke Kota Gurindam tersebut. 

Produk wisata yang cenderung ditonjolkan untuk menggaet wisatawan berkunjung ke kota ini, seperti yang disampaikan oleh Kabid Pengembangan Produk Wisata, Disbudpar Tanjungpinang Drs Yussuwadinata masih pada seni dan budaya, seperti Dragon Boat Race atau Lomba Perahu Naga yang digelar setiap tahun, Pentas Seni dan Gawai Seni. Bahkan akhir tahun 2008 ini juga akan ada pertunjukan Tari Zapin 1000 Pelajar. 

Sedangkan untuk “menjual” Penyengat sendiri yang sebenarnya telah menjadi simbol bagi Negeri Pantun tersebut serta Kepri pada umumnya, masih dalam tahap perencanaan.Pada tahun 2009 mendatang dinas tersebut telah merancang pertunjukan seni dan budaya, yang rutin dilaksanakan minimal setiap minggu. 

Pertunjukan yang akan melibatkan seluruh sanggar seni di Tanjungpinang, diharapkan bisa menjadi daya tarik lebih wisatawan berkunjung ke pulau tersebut. Dengan event tetap setiap minggu diharapkan akan mendongkrak jumlah wisatawan berkunjung ke kota ini. Event diharapkan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya warga Penyengat sebagai sarana pemberdayaan ekonomi kemasyarakatan, seperti melalui penjualan cinderamata, makanan khas, jasa dan lainnya.

Pada tahun 2007 lalu, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Tanjungpinang berjumlah 119.526 orang. Sedangkan hingga Oktober 2008 ini jumlah wisatawan baru mencapai 94.107 orang. Jumlah tersebut wisatawan yang berkunjung ke kota ini dibandingkan pada tahun 2006 memang sedikit menurun. Pada tahun 2006 jumlah wisatawan mencapai 130 ribu orang. Kondisi tersebut menurut Yussuwadinata lebih disebabkan krisis global yang melanda semua negara. 

Belum “dijualnya” Penyengat sebagai sebuah objek wisata yang unik dan menarik, terlihat dengan masih kurangnya promosi pulau itu oleh Pemko Tanjungpinang beserta stakeholdernya. Promosi pulau tersebut harusnya bisa lebih gencar melalui souvenir yang bisa mempromosikan Penyengat sebagai tempat wisata. Souvenir itu bisa dalam bentuk baju kaos bergambar Pulau Penyengat, foto-foto, lukisan, pena dan lainnya. 

Kalaupun ada souvenir yang dijual saat ini di Penyengat, terkesan masih belum dikelola secara professional untuk sebuah bisnis yang menjanjikan pemasukan besar.Menyikapi hal itu Yussuwadinata mengakui pihaknya telah menghimbau kepada pengusaha daerah, untuk bisa menanamkan modalnya dalam mengelola usaha souvenir dengan mutu yang lebih baik dan menarik wisatawan.Tahun 2009 mendatang, pihaknya bahkan akan mengadakan pelatihan pembuatan souvenir yang menarik untuk memikat wisatawan.

Belum bisanya “Menjual” Penyengat sebagai sebuah objek wisata yang bisa menambah pendapatan daerah Tanjungpinang, menurut Wali Kota Tanjungpinang Dra Hj Suryatati A Manan salah satunya juga disebabkan belum adanya payung hukum yang mengaturnya., seperti peraturan daerah. 

Saat ini ranperda tentang pariwisata masih di dewan.Padahal dengan payung hukum itu diharapkan bisa menjadi dasar dalam mengoptimalkan potensi Pulau Penyengat sebagai objek wisata yang memberikan manfaat pada kas daerah, seperti masalah retribusi bagi setiap wisatawan yang berkunjung

Gubernur Kepri Drs H Ismeth Abdullah sendiri menyatakan setujunya jika Pulau Penyengat adalah ikon Tanjungpinang yang layak jual. Ia menilai Penyengat adalah objek wisata sejarah yang menarik, karena setiap tahun sultan-sultan Selangor datang ke sana guna berziarah ke makam-makam yang masih terkait hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Selangor tersebut.

Pemprov Kepri sendiri menurut Ismeth telah melakukan sejumlah perbaikan pada situs-situs dan sarana yang rusak, sehingga saat ini bisa tampak lebih bagus dari sebelumnya.Bahkan pada akhir tahun 2008 ini, di Penyengat akan dilaksanakan peringatan 200 tahun Raja Ali Haji. Semoga berbagai rencana dan program dari Pemko Tanjungpinang dan Pemprov Kepri, bisa menjadi Pulau Penyengat yang nama besarnya bisa dikatakan telah mendunia, bisa memberikan kontribusi besar juga pada pendapatan daerah.*** 

NB : artikel ini tulisan saya waktu masih aktif bekerja di Majalah Tras.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung