Loading

Senin, 28 April 2014

Bukan Ngeluh Tapi Cuma Ingin Berbagi Isi Hati :)

Hp saya berdering dan seperti biasa cuma miskol dari adik di kampung. "Haloo..ya Isan ada apa ?" saya menelpon balik dengan gaya bahasa yang nyaris selalu. "Ini Isan mau bayar ini....beli itu..." dan sejumlah pesan sejumlah keperluan dari Mak dan adik bungsuku. 


"Ok..nanti dikirim," jawab saya. Jawab itu juga nyaris selalu sama. Tidak pernah saya berkata tidak.Karena prinsip saya untuk adik-adik dan keluarga selalu tidak ada penolakan jika itu menyangkut biaya makan sehari-hari, sekolah dan kebutuhan yang memang perlu dan penting.

Minggu terakhir di bulan April. Dompet sudah kempes dan ATM mungkin sudah menjerit karena sering digesek. Tapi kewajiban adalah hal yang harus tetap ditunaikan dan tidak membuat adik-adik saya kecewa adalah keharusan. Saya ingin mereka selalu bahagia.

Sebagai anak pertama dan hidup dalam keluarga sederhana, masa kecil khususnya saat sekolah benar-benar harus banyak menahan diri. Tepatnya tak berani mengkhayal apalagi meminta ini itu ke orang tua. Bahkan untuk uang sekolahpun saya harus benar-benar memastikan ayah saya sedang ada uang. Ketika mendapat beasiswa saya bahkan menggunakan untuk keperluan adik-adik saya. 

Jadi, saya tahu persis bagaimana hidup dalam kekurangan itu, saat menahan keinginan, saat kecewa karena tidak bisa membeli dan memiliki ini itu. Karena itu saya tidak ingin adik-adik saya merasakan seperti yang saya rasakan dulu. Saya ingin selalu membahagiakan mereka dengan segala kemampuan saya.

Sekarang sejak 1 tahun terakhir biaya yang saya keluarkan untuk adik-adik sudah sedikit berkurang. Karena adik ketiga saya sudah tamat SMA dan bekerja. Tinggal dua orang lagi yang tahun ini juga lulus SMA dan si bungsu naik kelas tiga SMP.

Tapi meski beban pengeluaran saya tiap bulan berkurang tapi "berat" tetap masih terasa, mengingat sejak dua tahun terakhir saya tidak lagi bekerja karena kehadiran Fitry,anak saya yang kini berumur 2,7 tahun. Praktis cuma mengandalkan gaji suami. Tapi, saya masih dan harus tetap bersyukur seberat apapun tanggungan saya, selalu ada rezeki dan kemudahan.

Meskipun tiap bulan tidak ada lagi istilah shopping keperluan pribadi, apakah itu pakaian, tas, sepatu dll. Ataupun menyenangkan diri sendiri, beli buku, ke salon, berburu tempat makan baru dan hang out dengan teman-teman, tapi saya bersyukur karena kebutuhan keluarga dan untuk adik-adik di kampung terpenuhi.

Tapi, sejak tiga bulan terakhir ada banyak hal-hal tidak terduga baik di internal keluarga kecil saya dan di kampung. Banyak pengeluaran yang tak terduga dan menguras dompet dan tabungan yang benar-benar sudah kempis.

Namun, Tuhan selalu punya rahasia. Saat saya bekerja dulu Alhamdulillah rajin invest dalam bentuk emas perhiasan. Dan sekarang emas-emas itu yang jadi "penyelamat". Saat terdesak keuangan emas perhiasan itu akan saya "sekolahkan" dulu di pegadaian.

Dulu saya sempat mikir untuk mengganti semua perhiasan emas kuning itu dengan emas putih. Karena saya sempat parno dengan berbagai kejahatan seperti hipnotis, perampokan dan maling. Dengan memakai emas putih saya mikir bisa mengibuli orang-orang yang berniat jahat. Tapi, untung tidak semua perhiasan itu saya tukar dengan emas putih seperti yang saya pakai sehari-hari seperti saat ini. Karena emas putih tidak bisa digadaikan ternyata.

Bicara pegadaian, saya menganggap itu dulu adalah tempat yang harus dijauhi dan saya malu ke sana. Kesannya gimana gitu. Tapi, ketika saya masuk ke sana, ada PNS, pegawai swasta, pengusaha juga ada lho, mahasiswa, karyawan dan tentu para ibu rumah tangga seperti saya. Jadi, tidak ada lagi perasaan "malu" ketika harus "mengadu" ke sana hehe karena ternyata banyak orang bernasib sama dengan saya.

Oh ya, selain di ke pegadaian saya juga mengelola koperasi wanita dengan teman-teman. Tapi karena perputaran uang tiap sebulan sekali,saya tidak tega untuk "menjegal" jadwal teman yang sudah masuk daftar antri untuk melakukan peminjaman. Sebutuh-butuh saya, tapi jika jadwal peminjaman saya belum masuk, saya tidak mau meskipun itu harus kongkalingkong dengan bendahara.

Saya menyadari banyak anggota koperasi yang lebih butuh dan mereka tidak punya pilihan selain mengharap pinjaman dari koperasi. Sementara saya masih ada barang berharga yang bisa "disekolahkan". 

Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umat-NYA, itu yang selalu saya ingat ketika kadang ada sebuah rasa 'capek' . Karena saya yakin semua cobaan itu menguji saya untuk bisa lebih kuat. Banyak tantangan dan cobaan kehidupan yang sudah saya lalui, mengapa hanya masalah seperti di atas menjadi beban berat bagi saya. Harus tetap semangat dan yakin suatu hari nanti kehidupan yang jauh lebih baik pasti akan saya hadapi. Siapa menaman pasti akan menabur, semoga apa yang saya tanam untuk keluarga, adik-adik dan teman bisa membuahkan hasil yang sepadan.Aamiin.














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung