Loading

Rabu, 02 April 2014

Bofet Pak Haji Eksis dengan Nasi Goreng yang Melegenda

Suryana,putri tunggal Alm Pak Haji yang meneruskan usaha

Bagi warga Tanjungpinang yang hobi berwisata kuliner, salah satu tempat makan favorit adalah Bofet Pak Haji. Bofet makan yang menyediakan aneka makanan tersebut sudah dikenal luas dengan nasi gorengnya yang punya rasa khas nan kaya rempah. Tak heran jika tempat makan tersebut selalu ramai dikunjungi pembeli ,khususnya pelanggan setia.

Uniknya para pelanggan setia itu ternyata sudah biasa makan nasi goreng tersebut sejak mereka kecil. Tak jarang ketika mereka sudah dewasa, berdomisili di luar Tanjungpinang, Nasi Goreng Pak Haji -begitu sebutan akrab dari pelanggan-selalu menjadi makanan yang dirindukan.


"Kalau anak Tanjungpinang yang kuliah ke luar daerah ,setiap pulang ke sini akan mampir ke bofet kami untuk menikmati nasi goreng. Bahkan,beberapa kali ada yang memesan nasi goreng untuk dibawa ke Jakarta, Bandung dan Tembilahan karena ada yang ngidam," tutur Suryana, S.Sos , pemilik dan pengelola Bofet Pak Haji.

Suryana yang merupakan anak satu-satunya Alm H Nuswar atau yang dikenal dengan Pak Haji ,adalah generasi kedua penerus usaha keluarga tersebut. Wanita cantik kelahiran 17 Mei 1967 itu, kini meneruskan usaha yang dirintis oleh almarhum bapaknya yang meninggal dunia tahun lalu.

Istri dari Hendra Arjuna,SH,MH tersebut menceritakan, usaha nasi goreng tersebut dirintis dari nol oleh alm bapaknya sekitar tahun 1975. Semula usaha itu menyewa tempat terbuka di Akau Jl Pos.

Ketekunan alm bapaknya dalam mencoba berbagai bumbu yang pas untuk menciptakan rasa nasi goreng yang beda dengan nasi goreng umumnya,membuahkan hasil rasa nasi goreng yang khas seperti saat ini.

Rasa yang khas, enak di lidah dan tidak membosankan membuat para pembeli menjadi pelanggan setia. Pelan tapi pasti usaha itu membawa peningkatan kehidupan keluarga. Pada tahun 1988 untuk pertama kalinya alm sang bapak bisa menunaikan ibadah haji.

"Sejak itulah bapak dipanggil pak haji dan nasi gorengnya dikenal dengan nasi goreng pak haji," kenang ibu dua orang anak ini.

Usaha yang makin berkembang kemudian membuahkan hasil dengan pindah ke ruko milik sendiri di Jl. Pemuda sejak tahun 1992 sampai sekarang. Kemudian tahun 2002, Bofet Pak Haji buka cabang di ruko milik pribadi juga di Jl.DI Panjaitan Km 9.

Saat ini bofet yang juga menjual soto padang, martabak mesir, mie rebus dan mie goreng, punya lebih 20 orang karyawan. Bahkan banyak tawaran agar dibuka cabang di daerah lain seperti Batam, Jakarta dan Malaysia. Namun keterbatasan tenaga yang mengawasi usaha itu nantinya,membuat Suryana tidak bisa menerima tawaran tersebut.

"Alhamdulillah usaha yang dirintis alm bapak dari nol sudah membuahkan hasil dan berkembang serta mengangkat kehidupan kami. Kalau mengenang masa sulit dulusaya sekarang hanya bisa mengucapkan kata syukur," kenangnya berkaca-kaca.

Wanita yang menanamatkan kuliah di Akademi Bahasa Asing, Padang dan Stisipol RHF ini menceritakan, dari usia enam tahun hingga SMA sudah terbiasa membantu kedua orang tuanya berjualan nasi goreng. Seperti menyajikan nasi goreng ke pembeli, mengangkat piring kotor atau menggoreng telur.

Saat masa sekolah itulah ia sering mendapatkan ejekan dari sejumlah teman-teman sekolahnya yang usil. "Mereka dulu sering memanggil saya nasi goreng, tapi saya tidak peduli meski kadang minder juga. Namun saya bangga bisa membantu orang tua," tuturnya.

Kesabaran dan ketabahan pada masa kecil itu kini membuahkan hasil. Ia bisa kuliah dan bekerja di bank, meski kemudian berhenti demi memprioritaskan keluarga. Rasa minder pada masa kecil karena sering diejek, membuatnya sangat memperhatikan pendidikan sang anak.

Dua orang buah hatinya, Atika Khaira dan Saskia Nabila merupakan siswi yang berprestasi di bidang akademis dan ekstrakurikuler, seperti juara renang dan menyanyi. "Jangan sampai anak saya mendapatkan ejekan dari kawan-kawannya seperti saya dulu. Tapi alhamdulillah mereka tidak mengalami hal seperti saya," tandas wanita yang aktif di Ikatan Wanita Pengusaha ini.

Sebagai generasi kedua dari usaha yang sudah dikenal luas, Suryana mengaku berusaha agar usaha alm bapaknya bisa dilanjutkan oleh generasi ketiga,yakni oleh anak-anaknya.

"Mereka boleh bekerja di bidang apa saja,namun nanti tetap mengelola usaha nasi goreng ini,supaya pelanggan setia tidak kehilangan," akhirnya.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung