Loading

Senin, 10 Maret 2014

Meja Bundar Pembeda Status

Meja meja bundar untuk semua tamu

Kemarin pergi undangan pernikahan salah seorang anak teman dan untuk kesekian kalinya saya sering merasa miris dengan melihat pembedaan tempat duduk para undangan. Baik acara di gedung maupun di rumah, tempat duduk undangan selalu ada dua macam, di meja bundar dengan kursi dan di kursi biasa tanpa meja.Kecuali jika diadakan di restoran atau ballrom hotel yang memang sudah menyediakan meja dan kursi sekaligus.


Siapa saja pasti merasa repotnya megang piring berisi nasi, air, belum lagi ditambah pegang souvenir dan nenteng tas tangan. Biasanya air minum, buah dan tas tangan ditaruh di kursi sebelah yang kosong. Biasanya saya serta saya yakin siapapun tamu pasti milih kursi yang banyak kosong supaya lebih leluasa makan dan menaruh minuman dan tas.

Saya suka merasa sebel melihat pembedaan tempat duduk itu. Ya, saya sangat yakin dibedakan karena hanya disediakan 1-2 buah. Dan biasanya ada petugas yang "menjaga" dan mempersilahkan siapa siapa saja yang pantas duduk di sana. Biasa itu orang-orang yang dianggap penting dan punya jabatan.

Mengapa harus ada pembedaan seperti itu ya ? harusnya tamu-tamu yang datang diperlakukan sama dan diberikan kenyamanan yang sama. Saya ingat waktu perta pernikahan saya di Padang 8 tahun silam, pihak penyewaan tenda dan pelaminan menyediakan 10 meja bunda dengan masing-masing 6 kursi. Sedangkan kursi-kursi plastik hanya disiapkan sebagai cadangan.

Intinya meja bundar untuk semua tamu, tidak melihat jabatan dia apa dan status dia bagaimana. Siapa saja boleh makan di meja bundar. Sementara jika penuh ya tamu yang lain tentu harus di kursi.Senang rasanya melihat tamu makan dengan leluasa di meja, tanpa harus repot mengepit air dengan paha jika semua kursi penuh.

Saya punya pengalaman "mengerjai" panitia acara pesta di sebuah gedung. Saya yang datang dengan seorang teman dengan santai duduk di meja bundar. Meja itu hanya ada tiga buah dan sengaja untuk tamu-tamu tertentu. Saat itu di meja cuma ada kami berdua dan saya lihat ada reaksi tidak nyaman di wajah sejumlah panitia ketika melihat saya dan teman duduk di situ.

Mereka berbisik-bisik dan menunjukan rasa kurang senang. Tapi saya tetap "selambe" meski teman saya merasa tidak enak melihat reaksi panitia tersebut.Sedang asyik menikmati hidangan datanglah seorang panitia yang lebih dituakan dan mengenal saya karena sering jadi narasumber saya waktu masih kerja. Bapak itu tersenyum dan menyalami saya. Kami sempat mengobrol singkat dan kemudian beliau pamit untuk menyambut tamu lainnya.

Saya pun tersenyum penuh kemenangan karena merasa berhasil mengerjai itu panitia. Pembedaan tempat duduk dan layanan pada tamu undangan sudah menjadi pemandangan umum di sini. Kadang saya heran mengapa tidak ada inovasi dari pihak penyelenggara dan pemilik usaha penyewaan pelaminan untuk menyamaratakan perlakuan pada tamu. Toh jika orang melaksanakan hajat pasti sudah siap untuk dengan biaya. Jika ada tambahan budget untuk memakai meja toh tidak masalah bagi penyelenggara acara. Kalau tidak ada budget jangan bikin pesta donk...ups terlalu pedes ya :D 

Bukankah tamu itu harus dilayani sebaik mungkin.Bukan hanya dari segi makanan tapi kenyamanan mereka saat makan.Kalau meja bunda memakan banyak tempat saya kira tidak juga, apalagi untuk gedung yang luas tidak akan masalah. Begitu juga kalau di rumah. Jika lokasinya memang sempit ya tak usah pakai meja bundar dan sebaiknya pakai kursi semua..

Hehehe btw mungkin ada yang bilang tulisan ini kurang penting. Tapi ya udahlah..penting tak penting yang penting ditulis


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung