Loading

Senin, 10 Februari 2014

Uang Sebesar itu Bisa Untuk.....?

cara mudah mendapatkan tambahan penghasilan tanpa bisnis MLM

Tulisan ini terinspirasi ketika melihat status di FB sejumlah orang khususnya ibu-ibu yang menjalani bisnis, yang konon disebut sampingan tapi bisa menghasilkan uang dan membantu ekonomi keluarga. Status-status itu kira-kira begini bunyinya : 

" Alhamdulillah bisa dapat gaji segini hanya di rumah sambil ngasuh anak"
" Katanya mau punya rumah dan mobil, jangan ngeluh dan banyak alasan kalau diajak gabung "
" Waktu mau memulai ragu dan takut, tapi setelah mulai dan mendapatkan hasilnya jadi menyesal mengapa tak dari dulu"
"Resign dari kerjaan kantoran tapi tetap bisa menghasilkan uang dari rumah"
" Jalan-jalan begini hanya bisa didapat karena gabung di bisnis ini lho"

Dan masih banyak lagi status-status yang mencoba menarik orang yang membaca dan penasaran tentang bisnis itu serta "memanasi-manasi" mereka yang menolak join di bisnis itu.

Saya yang pernah mencoba menjalani salah satu bisnis MLM yang rata-rata diikuti oleh wanita khususnya ibu rumah tangga, kadang merasa status-status itu terlalu berlebihan. Tapi bukan masalah status-status tersebut yang menjadi fokus saya, namun jumlah uang yang harus kita bayar setiap bulan karena harus menutup point di bisnis itu sebagai syarat tetap bisa lanjut sebagai anggota dan mendapatkan bonus tiap bulan jika mencapai syarat yang telah ditetapkan.

Awalnya sebagai member baru dan melihat kesuksesan mereka-mereka yang konon sudah bisa dapat mobil, bisa beli rumah dari gaji dan bonus jadi semangat 45. Jadilah saya semangat 45 promosi ke teman-teman, tetangga, kenalan dan siapa saja.

Hasilnya di bulan pertama lumayan hanya mengeluarkan uang sedikit untuk tutup poin karena ada yang belanja diantar banyak yang menolak belanja apalagi jadi member. Bulan kedua masih lumayan dan bulan ketiga mulai turun dan saya harus lebih banyak mengeluarkan uang pribadi untuk menutup point dan begitu seterusnya hingga bulan ke enam. Sampai terakhir saya harus merogoh kocek pribadi agar bisa tetap tutup poin....untung waktu itu masih kerja jadi tidak mengusik uang suami.

Berapa uang yang harus dikeluarkan untuk tutup poin ? jumlahnya bervariasi setiap bisnis MLM dan yang saya ikuti sekitar 500 ribu setiap bulan. Sebuah angka yang sangat besar ya...ya besar donk... :) Agar tidak merogoh kocek kita diajarkan untuk menjual barang melalui katalog dan merekrut member baru, dan satu lagi tentu kita sendiri harus memakai barang-barang itu sehingga otomotasi belanja bulanan kita akan beralih ke situ.

Untuk mengalihkan belanja bulanan kita tidak terlalu sulit, tapi tidak setiap bulan barang itu habis dan harus dibeli lagi. Jadi kadang saya membeli barang yang sebenarnya saya tidak butuh, tapi terpaksa beli dan akhirnya cuma dipajang. Sedangkan untuk dijual ke orang lain, kadang mereka yang belanja pertama kadang segan karena saya adalah temannya, tapi untuk seterusnya mereka banyak alasan.

Yang paling sulit adalah mengajak mereka untuk menjadi anggota, apalagi bisnis MLM banyak yang anti meskipun kita sudah menunjukan bukti-bukti kesuksesan orang-orang yang berhasil di bisnis itu.

Akhirnya saya merenung dan berfikir harus menghentikan bisnis itu dan berhenti jadi anggota. Karena saya menilai kesuksesan saya bisa dari cara lain dan tidak harus ikut bisnis MLM itu. Ya, setidaknya saya bisa sukses dengan cara mengelola keuangan keluarga dengan mengalihkan uang yang seharusnya dijadikan sebagai tutup poin setiap bulan untuk ditabung atau diinvestasikan.

Anggaplah uang minimal sebesar 500 ribu tetap harus dikeluarkan tiap bulan, saya kira bisa untuk salah satu dari beberapa pilihan seperti di bawah ini :
1. Ditabung.
Ya ditabung ke dalam tabungan rencana atau memang tabungan konvesional untuk kepentingan anak atau rencana masa depan keluarga, seperti membeli rumah, biaya umroh, liburan ke luar negeri dll

2. Diinvestasikan ke dalam bentuk emas.
Kalau menurut saya lebih baik emas batangan karena harganya lebih murah sebab tidak ditambah ongkos pembuatan dan kalau dijual nanti harganya tidak turun jauh tetapi sesuai harga emas pada saat itu. Apalagi saat ini membeli emas batangan sudah bisa dicicil seperti di pegadaian. Dengan uang 500 ribu lebih setiap bulan kita sudah bisa mencicil 1 gram emas batangan atau koin lho 

3. Membeli polisi asuransi
Lebih baik untuk membeli polisi asuransi pendidikan anak, jiwa atau asuransi rumah karena manfaatnya jelas untuk kepentingan keluarga. Bahkan premi asuransi di bawah 500 ribu per bulan ada di sejumlah asuransi yang sudah terkenal dan terbukti bagus. Tapi ingat, sebaiknya pilihlah asuransi murni ya, jgn yang sistem unit link :) 
cara mudah mendapatkan tambahan penghasilan tanpa bisnis MLM

4. Bisa untuk membeli kendaraan bermotor minimal sepeda motor
Ya dengan menabung selama dua tahun setidaknya dengan menabung 500 ribu perbulan sudah bisa mendatkan motor dengan harga tunai. Tapi jika butuh mendesak, dengan menabung 3-4 bulan uang itu bisa dijadikan uang muka untuk kredit sepeda motor

5. Bisa dijadikan modal usaha rumahan 
Uang 500 ribu itu bisa dijadikan untuk modal membuat kue basah, kue kering, keripik, kerajinan tangan, jualan jilbab dll. 

Yang membaca pasti penasaran, apa yang saya lakukan dengan uang 500 ribu tersebut ?
Karena sudah memiliki sejumlah barang sebelumnya seperti sepeda motor, emas dan punya rekening tabungan biasa, akhirnya saya mengalihkan uang 500 ribu yang seharusnya untuk tutup poin bisnis yang konon bisa menambah penghasilan itu menjadi :

1. Membeli polisi asuransi pendidikan untuk anak saya, asuransi jiwa syariah untuk suami dan saya serta asuransi rumah.

2. Membeli rumah kedua untuk dijadikan investasi masa depan khususnya anak saya
caranya ? dengan cara patungan dengan suami melalui pinjaman kredit dari kantor suami kami bisa membeli rumah kedua. Tiap bulan gaji suami saya dipotong 1 juta lebih tapi saya bisa mempunyai rumah kedua dan sudah selesai direnovasi.


Tak bisa membayangkan jika saya masih terbuai mimpi di bisnis MLM itu dan lupa fokus pada pengelolaan keuangan keluarga sendiri. Oh ya, ternyata ada yang telah lama menjadi member bisnis itu sekarang ternyata lebih memilih bisnis yang lebih nyata. Ia membuka salon dan menjual pakaian. Lebih tiga tahun ia menjalani bisnis MLM itu ternyata tidak berpengaruh terhadap penghasilan yang jauh lebih besar seperti yang diharapkannya :)

Maaf, tulisan ini bukan bermaksud untuk menjelek-jelekan bisnis MLM. Tapi hanya share tentang pengalaman saya dalam mengelola keuangan keluarga untuk mencapai mimpi dan mempersiapkan masa depan.

Intinya semua orang berhak memilih berbagai cara mereka untuk sukses meraih masa depan, melalui berbagai bentuk bisnis, kerja, berkarya, menabung, investasi atau sebagainya, karena semua tergantung pemikiran dan pandangan masing-masing . Bagaimana dengan anda ? 

1 komentar:

  1. Hati-hati di sini. Tidak ada yang dapat membantu Anda di sini atau bahkan menyarankan bagaimana Anda bebas untuk mendapatkan bantuan keuangan. Setiap jawaban dari pemberi pinjaman kredit atas pertanyaan Anda, Anda harus mengabaikan, karena Mereka Apakah Penipuan ... penipuan yang nyata ... saya adalah korban yang saya robek Ribuan dolar ... baik terima kasih Tuhan untuk saudara Kristen yang dimaksud saya untuk sebuah organisasi pinjaman yang dibentuk oleh beberapa Ibu Tracy, tracymorganloanfirm@gmail.com
    Mereka membuat hidup saya yang berharga dan memberikannya makna. Ketika adik memberiku semata-mata untuk Untuk kontak lebih lanjut, saya menghubungi dia. Mereka menyetujui pinjaman sebesar $ 75.000,00 USD dan dalam 48 jam setelah bertemu semata-mata untuk orang lanjut Untuk melawan persyaratan, pinjaman saya disimpan di rekening bank saya tanpa agunan. Saya akan menyesal Total hidupku, Karena pada titik waktu saya hanya bercerai ayah dari anak saya, dan anak saya (Ridwan) dihadapkan dengan situasi hidup dan mati. Jangan ragu untuk menghubungi via Email: tracymorganloanfirm@gmail.com. Untuk pertanyaan lebih lanjut. hubungi saya via: widayatarmuji@gmail.com

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung