Loading

Minggu, 22 Desember 2013

Nilai-Nilai Mulia dari Mak

cerita tentang ibu dalam rangka hari ibu
Mak paling kanan, Saya berjilbab hitam bersama tante di acara pernikahan sepupu
Ibu yang biasa saya panggil Mak adalah wanita sederhana, sangat sederhana.Pendidikan Mak juga tidak tidak tinggi bahkan bisa dibilang rendah, karena keterbatasan ekonomi nenek waktu itu sehingga Mak dan Tanteku hanya bisa sampai jenjang SD.Tapi, untunglah enam orang adik Mak bisa menyelesaikan pendidikan sampai SMA bahkan perguruan tinggi.

Mak, bagi saya adalah wanita desa sederhana tapi punya hati mulia. Meskipun tidak mengenyam pendidikan tinggi tapi Mak punyai rasa kepedulian yang tinggi kepada sesama. Mak suka menolong orang lain yang tertimpa musibah dan mereka yang pantas ditolong. Bagi Mak menolong tidak hanya dengan materi, yang pada kenyataannya hidup keluarga Kami memang sangat sederhana, tapi bagi Mak menolong orang bisa dengan tenaga,waktu dan pikiran.

Masih ingat dengan jelas waktu saya masih kecil, Mak menolong sepasang suami istri yang istrinya sakit saat sedang mengurus administrasi ke kantor dinas yang berada dekat rumah kami. Saat itu si istri tiba-tiba jatuh pingsan saat hendak menunggu bus. Mak yang melihat kejadian itu langsung menolong dan membantu mengantarkan ke praktek bidan yang tak jauh dari situ.

Karena kondisinya tidak memungkinkan untuk naik bus dan dengan perjalanan jauh, Mak menawarkan wanita muda itu menginap di rumah kami, sementara suaminya tetap kembali ke kota mereka, khawatir keluarga mencari apalagi saat itu belum ada sambungan telepon masuk di kecamatan kami.

Pasangan suami istri yang ditolong Mak sangat berterimakasih atas bantuan keluarga besar Kami. Suatu hari rombongan keluarga besar mereka datang membawa makanan dan bingkisan sekedar mengucapkan terimakasih atas bantuan kami. Bahkan suatu ketika ketika saat saya SMP, pernah kernet bus turun tergesa-gesa membawa kresek berisi kue dan mengatakan ada titipan dari seorang penumpang bus di warung adik Mak. Ternyata dari kaca jendela, wanita muda yang pernah ditolong dulu itu tampak melambai-lambaikan tangannya.

Lain lagi ketika Mak menolong sepasang suami istri yang kecelakaan motor di dekat rumah. Waktu itu kejadiannya saya dan teman yang melihat langsung. Rok panjang wanita itu terlilit rantai motor sehingga menyebabkan motor itu terjatuh ke dalam parit. 

Rok wanita itu terlepas sehingga saya yang melihat kejadian itu spontan berlari ke rumah untuk mengambil kain. Bersama warga lain, Mak ikut membantu wanita malang yang berlumuran darah itu dan suaminya. Mak ikut mengantarkan mereka ke puskesmas. Bahkan Mak menunggui sampai malam hingga keluarga mereka datang. 

Ketika kasus GAM di Aceh heboh waktu saat saya duduk di bangku SMA, ada teman adik saya yang harus pulang kampung ke Padang karena rumah mereka di sana dibakar sehingga mereka jatuh miskin. Karena kasihan dengan teman adik saya itu, Mak menyuruh tiap pulang sekolah untuk makan di rumah. Mak sedih melihatnya karena dia harus berjalan kaki belasan kilometer untuk sampai ke sekolah. Bahkan Mak menawarkan juga untuk tinggal di rumah.

Kalau ada uang lebih Mak kadang juga memberi uang jajan untuknya. Meskipun ada tetangga yang reseh menganggap Mak sok-sokan karena hidup pas-pasan masih sibuk mengurus orang, tapi Mak tak terpengaruh.

Hingga sekarang rasa kepeduliaan Mak pada orang lain tidak pernah luntur. Meskipun masih hidup sederhana dan pas-pasan karena hanya mengandalkan uang kiriman dari saya dan adik, Mak masih bisa memberi makan seorang anak penderita syndrome down. 

Anak tetangga itu nyaris tiap hari suka ke rumah dan minta makan. Makannya banyak dan minta tambah sampai dua kali. Tapi Mak tidak pernah mengeluh dan menolak setiap anak itu datang meski kadang stock beras sudah menipis.

Bahkan ketika suatu kali ketika saya pulang kampung, saya menyaksikan sendiri bagaimana anak itu makan dengan lauk sederhana Mak. Anehnya, meskipun porsi nasi yang dimasak sama tiap hari, tapi entah mengapa itu nasi selalu cukup meskipun anak tetangga itu suka minta makan ke rumah. 

Dari perbuatan dan nilai-nilai mulia yang dilakukan Mak, saya banyak belajar akan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan. Menolong dan peduli kepada sesama itu tidak merugikan kita, meski kadang kita harus mengeluarkan tenaga, waktu, pikiran bahkan materi. Karena setiap kebaikan yang kita lakukan tentu akan mendapatkan balasan dari Allah SWT suatu saat nanti baik kepada kita sendiri, anak bahkan cucu kita. 

Semoga segala kebaikan Mak kepada kami anak-anaknya dan orang lain memberikan beribu kebaikan untuk Mak, semoga selalu diberi kesehatan di hari tuanya ini, umur panjang, rezeki yang berkah dan kebahagiaan.Aamiin

Selamat Hari Ibu...Mak









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung