Loading

Rabu, 25 Agustus 2010

Mengapa Menghargai Karena Penampilan ?

Sebelum bulan puasa lalu saya pergi undangan ke rumah salah seorang sanak saudara yang menikahkan anaknya. Saya pergi sendiri-secara suami saya memang tak suka diajak ke acara seperti itu- siang hari, berharap tamu-tamu sudah tak banyak.

Sampai di sana,memang tak banyak tamu. Saya tak tahu apakah karena memang siang hari itu belum banyak tamu atau memang undangannya yang tak banyak. Dari parkiran motor saya melihat dua orang penunggu tamu, yang saya kenal.

Saya tersenyum kecil kepada mereka, tapi ternyata sambutan mereka luar biasa. Si ibu A, menyambut saya dengan sapaan manis dan akrab. Bahkan memanggil saya dengan "ibu".

" Aduh ibu ina kenapa sudah lama tak nampak, makin cantik saja.Masuk arisan perkumpulan lagi yuk," ujarnya berbasa-basi. Hal itu ditimpali kawannya ibu B.

Saya sedikit kaget dengan sambutan yang luar bisa itu. Mengapa ? karena selama ini ibu A yang saya kenal dan tahu, tidak ramah dan susah senyum khususnya kepada saya. Tapi sekarang kok bisa berubah dratis begitu.

Selesai makan dan pamitan pada tuan rumah, saya kembali dicegat oleh dua orang ibu tadi khususnya ibu A. Dia mengajak saya ngobrol dengan alasan sudah lama tak bertemu.
Ya memang, nyaris hampir 3 tahun saya tidak pernah bertemu dia, sejak saya tidak lagi ikut arisan perkumpulan keluarga asal kampung saya.

Tapi, kok sekarang dia ramah gitu ? padahal dulu dia tak pernah menyapa saya apalagi mengajak ngobrol. Diajak senyum juga tak mau membalas. Bahkan seakan menganggap saya adalah orang yang tak penting di setiap acara arisan.

Kejadian ini saya ceritakan pada seorang keluarga. Kesimpulannya sama seperti dalam benak saya. Si A menghargai saya, berubah sikap terhadap saya dan menjadi orang yang ramah pada saya karena status dan kondisi saya sekarang yang sudah berubah.

Dulu saat saya baru menikah, kondisi saya masih pas-pasan. Pergi arisan saya sederhana. Saya juga tidak mau banyak bicara, karena saya tahu adalah anggota baru dan berusia masih kecil dibandingkan mereka.

Kondisi itu dihargai sebahagian mereka dengan "meremehkan saya". Hal itu jelas terlihat dari perkataan dan sikap. Tapi, sebagai orang muda saya mengalah. Karena, saya tahu hidup di rantau tak bisa sendiri, minimal harus tetap menjaga silaturahmi dengan orang sekampung.

Akhirnya saya memutuskan tak ikut lagi arisan perkumpulan itu. Seiring waktu saya disibukan dengan berbagai aktifitas dan kehidupan saya mulai berubah. Seiring itu juga penampilan saya juga menyesuaikan dengan aktifitas saya.

"Jadi dia itu menilai kamu itu dari penampilan saja. Dia melihat kamu itu sudah selevel mungkin juga lebih di atas mereka, Sehingga berusaha merebut hati kamu," kesimpulan saudara saya.

Saya tercenung mendengar hal itu. Tapi itu memang sesuai yang saya perkirakan. Mereka hanya menghargai karena penampilan saya, status sosial dan kondisi saya saat ini. Saya berharap saya tidak seperti orang-orang itu. Untuk itu saya tak mau lagi bergabung dengan perkumpulan itu.

Masih banyak orang lain yang bisa menjadi saudara meski beda suku. Orang yang menghargai kita sebagai manusia, bukan karena melihat status sosial, harta dan kasta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung