Loading

Minggu, 11 April 2010

Cerpen :Penyengat Aku Akan Kembali


Seruling kapal yang memasuki Pelabuhan Sri Bintan Pura membangunkan aku dari tidur. Perlahan kubuka mata yang masih berat. Karena terlalu letih aku jadi tertidur di atas kapal ferry yang membawaku dari Pelabuhan Punggur, Batam ke Tanjungpinang. 

Sebagian besar penumpang sudah berkemas-kemas dan berjejal antri agar bisa secepatnya keluar kapal. Tapi aku masih memilih duduk, memandang keluar jendela mengamati sebuah pulau kecil yang persis berada di depan pelabuhan.

Pulau Penyengat sepertinya masih seperti dulu, dengan rumah-rumah masyarakat di sepanjang garis pantainya. Pompong-pompong nelayan yang hilir mudik membawa masyarakat dari pulau itu ke Tanjungpinang dan sebaliknya, juga masih seperti dulu. Mesjid Sultan Riau dengan warna hijau dan kuning masih kokoh berdiri menunjukan kharismanya.

Ketika melihat semua itu, kutarik nafas dalam-dalam. Ada rasa rindu dan gejolak yang tak kumengerti menyelinap dalam dadaku, Beberapa waktu terakhir aku selalu gelisah dan teringat dengan Kota Gurindam, khususnya Pulau Penyengat.

Tiga tahun sejak aku meninggalkan kota kecil itu memang belum sekali pun aku kembali, meskipun sekedar untuk singgah. Padahal aku pernah menetap lama di sini. Lima tahun bukanlah waktu yang pendek. Banyak kenangan yang terangkai di kota yang nyaman ini.

Namun karena panggilan kerja di tempat lain aku harus meninggalkan kota perantauanku yang pertama. Meninggalkan teman-temanku yang sudah kuanggap sebagai saudara kandung; tetangga di sekitar tempat tinggal yang sudah kuanggap sebagai handai taulan. Tapi sejak beberapa minggu terakhir, tiba-tiba aku kembali teringat dengan kota ini. Hati dijalari rasa rindu untuk mengunjungi Mesjid Sultan Riau dan shalat di sana. 

Dulu aku sering datang ke mesjid itu untuk sholat wajib dan sunat. Ada kenyamanan lain yang kurasakan ketika melaksanakan sholat di sana. Kegelisahan dan masalah yang menghimpit seakan berkurang setiapku memanjatkan doa di sana.

Aku tidak tahu apakah itu karena aku ikut terpengaruh dengan kepercayaan masyarakat selama ini, bahwa mesjid itu punya “kelebihan” karena sejarah yang dimilikinya. Tapi yang jelas aku merasakan kesejukan hati setiap memasukinya.

Pertama kali datang mengunjungi mesjid itu memang atas saran dari temanku Nani. Dia menceritakan kalau Penyengat adalah pulau yang indah dan banyak peninggalan sejarah Melayu dan Islam, sehingga kalau datang ke pulau itu dengan niat yang baik apalagi sholat di mesjid yang ada di sana, akan memberikan kebaikan kepada kita. Bahkan konon doa-doa kita akan makbul.

“Kalau awak tak percaya, coba saja datang kat sana. Macam mana pula sudah lebih satu tahun di Tanjungpinang belum pernah datang ke sana. Itu artinya awak belum sampai di Tanah Melayu ini. Coba saja, kalau perlu awak berdoa minta cepat dapat jodoh, mudah-mudahan terkabul,” ungkap si mungil itu berapi-api dengan logat Melayunya.

Aku hanya tersenyum menanggapi ceritanya, karena aku percaya yang namanya sholat dan doa yang makbul tidak ditentukan di mana kita melakukannya, namun juga ditentukan oleh usaha dan ikhtiar kita. 

Aku baru mengunjungi pulau itu beberapa minggu setelah Nani bercerita tentang pulau itu. Cerita Nani mulai kurasakan kebenarannya ketika berada dalam pompong yang membawaku ke pulau yang berjarak sekitar 15 menit dari Kota Gurindam itu.

Angin laut yang sepoi-sepoi, memberikan perasaan tenang dan nyaman. Hilir mudik pompong pengangkut penumpang dan pencari ikan memberikan kesan yang mendalam bagiku.

Ketika menjejakan kakiku di pelabuhan kecil di sana, kurasakan kedamaian sebuah pulau kecil yang berbeda dengan suasana di tempat lain. Sapaan sejumlah masyarakat yang kutemui di sepanjang pelantar memberikan arti tersendiri bagiku.

“Mungkin inilah kelebihan dari mesjid ini,” aku membatin ketika melangkahkan kakiku masuk dan merasakan sesuatu yang lain mengalir dalam dadaku.    

Masalah yang menghimpitku selama ini tumpah bersama dengan air mata mengalir di antara doa yang kupanjatkan. “Ya Allah aku pasrahkan semuanya kepada-Mu, berikanlah jodoh kepadaku yang bisa membimbingku dunia dan akhirat. Amin,” kututup doa dengan air mata yang membasahi mukenaku.
                                                                                   ***
Sapaan dari awak kapal membuatku tersentak dari lamunan,” Tak turun, Kak? Semua penumpang sudah turun,” ujarnya, sambil menunjuk ke deretan kursi yang telah kosong.
Aku hanya tersenyum kecil dan bergegas mengambil koper kecil yang berada di sebelahku. Tak kupedulikan pandangan sejumlah awak kapal yang tampak heran melihat mataku yang digenangi air mata. 

Langkahku pelan menyusuri dermaga pelabuhan dan mataku tak lepas menatap ke sekelilingnya. Tampaknya kota ini sudah banyak berubah bahkan tampak lebih cantik. Jalan raya di Tepi Laut sudah dibuat dua jalur, sehingga menambah kenyamanan bagi pengendara dan masyarakat yang menggunakannya. Jalan pinggir pantai itu merupakan salah satu tempat favorit bagi masyarakat untuk bersantai khususnya sore hari dan minggu pagi. 

Pemimpinnya yang seorang wanita ternyata cocok dengan kota ini. Karena ketelatenan seorang wanita menjadikan Tanjungpinang sebagai kota yang bagaikan sebuah rumah yang setiap hari mendapatkan perhatian seorang ibu rumah tangga yang bijak.

Kualihkan pandanganku ke atas panorama di bukit di sebelah kanan pelabuhan, dengan bunga-bunga berbagai warna di antara tulisan nama kota Tanjungpinang yang dapat dilihat dari jarak sekian puluh meter dari laut. 

Mendekati pintu keluar pelabuhan masih tampak suasana seperti tiga tahun ketika aku meninggalkan kota ini. Tukang ojek, supir taksi dan para guide yang menunggu penumpang keluar dari pelabuhan untuk mendapatkan jasa mereka. 

Tawaran mereka kusambut dengan gelengan kepala, karena aku lebih suka berjalan menuju hotel yang berada tidak jauh di depan pintu masuk pelabuhan tersebut. Kutelusuri jalan menuju ke arah luar pelabuhan sambil memperhatikan sejumlah bangunan yang saat aku tinggalkan kota ini belum ada.
                                                                                 ***
Kubiarkan diriku hanyut dengan suasana pompong yang membawaku ke Pulau Penyegat. Kunikmati percakapan masyarakat yang berdialek Melayu. Dulu aku juga menggunakan bahasa itu dalam percakapan sehari-hari. Aku bangga menggunakan karenanya bahasa itu seakan sudah menjadi bahasa keduaku setelah Bahasa Indonesia. 

Padahal sebagian besar anak-anak kelahiran kota ini malah lebih suka menggunakan bahasa Jakarta dalam percakapan sehari-hari, sementara Bahasa Melayu sendiri yang merupakan akar dari bahasa nasional seakan hanya digunakan para orang tua. 

Pompong merapat ke pelabuhan kecil yang sudah berganti dari pelabuhan kayu menjadi beton. Namun suasana pulau kecil yang berpenduduk beberapa ratus jiwa itu masih asri, nyaman dan religius, mempertahankan bagian dari Kota Tanjungpinang yang berbudaya dan agamis.
Tak sabar aku menuju Mesjid Sultan Riau yang terawat itu. Aku tak tahu apakah ini karena terdorong gejolak yang kurasakan selama beberapa waktu terakhir.
                                                                                      ***
Kembali air mataku membasahi mukenaku ketika kupasrahkan diri memanjatkan doa ada Illahi. “Ya Allah di usiaku yang makin matang aku tetap mengharapkan rahmat-Mu memberikan aku seorang pendamping, yang bisa membimbingku dunia dan akhirat. Semua kuserahkan pada kebesaran-Mu, karena selama ini aku telah cukup berusaha. Namun kegagalan selalu menimpaku, tapi ku sadar Engkau sedang menguji imanku dan aku yakin suatu saat Engkau mempercayakan seorang laki-laki sebagai imamku. Amin.”

Beban yang menghimpitku selama tiga tahun sibuk bekerja di Jakarta seakan hilang ketika akhir doa itu. Aku tidak mengerti apakah ini jawaban dari kegelisahanku dan rasa yang selama ini seakan terus memanggilku untuk kembali datang ke Penyegat. 

Di usiaku yang 32 tahun aku masih sendiri, padahal teman-teman seangkatanku sudah menikah dan punya anak. Dulu saat aku masih menetap di kota ini, usiaku masih 25 tahun. Kekhawatiran belum mendapatkan jodoh tidak terlalu mengganggu. Namun bukan berarti aku tidak berusaha untuk mendapatkannya. 

Namun entah kenapa, aku selalu gagal dalam menjalin hubungan dengan laki-laki. Berbagai penghalang selalu menghadangku dalam melanjutkan hubungan dengan sejumlah laki-laki. Dari yang beda adat, agama hingga masalah pertentangan dalam keluarga.

Karenanya ketika aku sedang dilanda masalah apalagi dalam berhubungan dengan seorang pria, aku selalu datang ke pulau itu dan bersujud serta berdoa di Mesjid Penyengat. Karena aku merasakan kenyamanan setiap berada di sana dan masalah yang aku hadapi seakan hilang bersama air wudhu yang mengalir membasahi tubuhku. Setelah itu aku kembali optimis untuk terus berusaha dan berikhtiar.

Ketika menetap di Jakarta dan usiaku yang memasuki kepala tiga, aku masih optimis untuk bisa mendapatkan jodoh. Namun sepertinya aku masih diuji dengan berbagai tantangan. Akhirnya aku masih sendiri hingga saat ini. Sampai suatu ketika aku mengalami kejenuhan dan frustasi yang membuat diri ini malas berkenalan dengan laki-laki. 

Toh hanya mubazir dan membuatku capek dan tanpa hasil. Begitu aku berkesimpulan dengan semua pengalaman yang aku alami selama. Hampir dua tahun aku menutup diri terhadap laki-laki yang ingin kenal dekat dengan aku, sampai suatu ketika aku teringat dengan Kota Tanjungpinang dan Mesjid Penyengat

“ Kamu coba aja datang ke kota itu lagi, sholat lagi di mesjid itu dan banyak beristighfar di sana. Mungkin bisa kembali membangkitkan semangat kamu, karena selama ini kamu kan sudah merasakan apa yang tidak kamu dapatkan sebelumnya. Mudah-mudahan kamu bisa bangkit lagi setelah itu, kamu bisa menjadi Mirna yang dulu, yang optimis,” nasehat Ranti, ketika aku menuturkan tentang kegelisahan dan rasa rinduku pada pulau itu. 

Akhirnya dengan meminta cuti dua minggu, aku menetapkan hati untuk mengunjungi Tanjungpinang, sebuah kota di Pulau Bintan. Tekadku hanya satu, aku ingin membangkitkan kembali semangatku bersama kedamaian dan kesejukan hati ketika berdiam melaksanakan ibadah dalam mesjid itu. Aku juga berharap apa yang dinginkan Ranti bisa terkabul, menjadi pribadi yang tegar dan optimis.

“Assallammualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh, bile awak datang?” sebuah suara berdialek Melayu mengejutkan heningku usai berdoa.

Kujawab salam itu. Seorang laki-laki mengambil duduk bersimpuh di hadapanku. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya, yang kusambut dengan penuh ragu. Aku cepat-cepat kembali menarik tanganku. 

“ Awak sepertinya sudah lupe dengan saye, tapi saye tidak lupe dengan awak. Wajah awak masih seperti dulu, tak berubah-ubah sangat. Mungkin wajah saye yang sudah tue sangat sampai awak lupe,” ujar pria hitam manis itu, dengan senyum di bibirnya.

Kucoba mengingat wajah pria berkumis yang mengenakan kaca mata minus di depanku ini. Tapi aku gagal menemukan gambaran siapa pria yang duduk di hadapanku. 

“Saya Usman, pegawai di Kantor Wali Kota. Dulu awak pernah kenal, tapi tak dekat. Tapi saye tahu siape awak karena awak sering datang berurusan ke kantor saye kan. Tapi awak cuma bertemu dengan bos saye, saya anak buah ini apalah,” tuturnya dengan terus tersenyum.

Aku merasa tersinggung dengan ucapannya itu, tapi cepat-cepat aku tepis karena aku tahu dia hanya bercanda untuk mencairkan suasana yang kaku. 

“Oh maafkan saye, karena saye baru ingat, mungkin karena sudah lama saye jadi lupa. Oh ya saye baru satu hari datang untuk berlibur dan melihat-lihat kota ini lagi,” aku menjawab pertanyaan dia yang belum sempat terjawab tadi. 

Percakapanku dengan Usman terus berlanjut sampai ke pompong yang membawa kami ke Tanjungpinang. Aku mulai bisa mengingat, dia lelaki yang dulu pernah kukenal tapi tak terlalu akrab. 
Dia adalah staf di sebuah kantor pemerintahan. Pekerjaanku sebagai tenaga konsultan membuatku harus sering bolak-balik ke kantornya yang memegang urusan perencanaan pembangunan.

Aku baru sadar kalau dia yang sering mencandaiku setiap aku datang dan kadang harus menunggu atasannya yang sedang menerima tamu atau berada di luar. “Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, tapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Ya dengan membaca majalah ini,” ujarnya, sambil menyodorkan sebuah majalah kehadapanku. 

Kala itu aku cukup lama menunggu atasannya yang ternyata ada urusan yang mendadak. Mungkin karena kasihan melihat aku bosan dan jengkel, Usman menyodorkan sebuah majalah. Tapi aku malah mengacuhkannya dan lebih memilih mengutak-atik ponselku.

“Maaf kalau saye salah cakap, dulu awak itu tampak sombong sangat. Padahal saye dari dulu ingin kenal dekat dengan awak, tapi awak sepertinya tidak mau berkawan dengan anak buah seperti saye. Padahal, meski anak buah, saye juga punya kelebihan,” katanya sambil tergelak.

Meski tersinggung dengan ucapan itu, aku coba merenung kata-katanya itu. Rasanya selama ini aku tidak seperti yang ia katakan. Tapi mungkin itu hanya penilaianku saja, toh yang menilai diri kita kan orang lain. 

Melihat aku terdiam Usman mencoba meminta maaf kembali, “Maafkanlah saye kalau salah cakap, saye orangnya memang begini adanya. Kalau terasa tak boleh dipendam karena bisa menjadi dendam.” Ia beralasan.

“Tak apa-apa, mungkin ada benarnya, maafkan saya kalau dulu sikap saya agak menjaga jarak dengan orang-orang yang tidak begitu saya kenal,” balasku. 

“Makanya, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, kalo tak cinta mana bisa bersama, itukan kata pepatah lama,” ia kembali tertawa, dan aku pun ikut tersenyum meski rasa getir kurasakan tiba-tiba menyelinap di dada.
***
Pertemuan yang tidak sengaja di Mesjid Penyengat berlanjut dengan hubungan melalui pesan pendek di ponsel. Usman ternyata suka bercanda dan berkata apa adanya. Ada-ada saja pesan yang dikirimkannya, dan itu kadang membuatku tersenyum, bahkan tertawa. 

Pesan-pesan Usman mewarnai hari-hariku selama lebih seminggu berada di kota ini. Meski tidak pernah bertemu lagi sejak di Penyengat, ia seakan terus mendampingku di kala aku sendiri. Apalagi teman-teman lamaku tidak bisa mendampingi. Aku maklum mereka sibuk dengan pekerjaan dan urusan keluarganya masing-masing.

Tapi aku tidak terlalu menanggapi pesan yang kadang menjurus ke arah percakapan yang serius tersebut, karena aku tahu dia suka bercanda. Seperti ketika dia mengatakan dalam sebuah pesannya,

 “Bukannya abang tidak sayang sehingga tidak bisa menemani awak, tapi abang sibuk mencari sesuap nasi untuk kita berdua.”

Pesan itu ia kirim ketika aku mengeluh tidak satu pun teman lamaku yang bisa kuajak berjalan-jalan. Aku membalas pesan itu dengan nada biasa, “Sesuap apa sesuap…?” Hanya itu dan tidak membuka peluang untuknya untuk melanjutkan ke arah yang lebih serius.

Aku tidak tahu kenapa setiap dia mencoba membuka percakapan ke arah yang serius, aku malah menghentikannya. Kalau dikatakan aku masih menutup diri, mana mungkin aku mau berkenalan dan membalas pesan dari Usman. 

Saat aku frustasi, jangankan membalas pesan, memberikan nomor teleponku pada laki-laki yang baru aku kenal pun aku tidak sudi. Bahkan berjabatan tangan sekedar untuk saling mengetahui nama, aku tidak mau. Sampai kadang Ranti memaki-maki aku karena malu dengan teman pria yang hendak dikenalkan dengan aku.

Sampai ketika masa cutiku tinggal dua hari lagi dan aku harus bersiap-siap kembali ke Jakarta. Sebuah pesan dalam berbentuk pantun dari Usman pagi itu membuat aku tercenung. 

“Kalau ada sumur di ladang boleh kite menumpang mandi, kalau ada umur yang panjang bolehlah saye bertemu dengan awak lagi. Semoga awak masih sudi karena saye akan masih setia menanti,”
Aku coba merenungi semua yang telah aku lalui selama kembali ke kota ini. Aku kembali mencoba menjernihkan niatku untuk datang ke kota ini. Ya, aku ingin kembali menjadi diriku yang tegar dan optimis. 

Sekarang aku merasa sudah kembali seperti dulu, optimis menatap masa depan lagi untuk menemukan seorang laki-laki yang akan mendampingku. Tapi,….kenapa aku masih menjaga jarak dengan Usman yang tampak menaruh perhatian dan perasaan dengan aku. Kalau aku sudah kembali optimis, kenapa aku harus begini?

“Astaghfirullah aladzim. Ya Allah ampunilah hambamu yang tidak bersyukur ini,” aku beristigfar ketika aku menyadari kesombonganku. 

Seharusnya aku bisa menerima Usman sebagai kawan dekat, tidak hanya sekedar teman bercanda. Dan aku seharusnya tak menghindar ketika ia mengajak bicara serius. Kalau aku masih menghindar, berarti aku masih seperti dulu, yang tidak mau berusaha. 

Kujawab pesan Usman dengan pantun,”Tidak perlu ke ladang mencari sumur untuk mandi, tidak perlu menunggu umur panjang untuk bertemu lagi, karena saye sudi bertemu hari ini.”

Kutepati janjiku bertemu dengan Usman sore itu di sebuah “akau” yang menghadap ke pantai. Di sana kami bertukar cerita tentang diri masing-masing. Ternyata Usman tiga tahun lebih tua dari aku dan saat ini sudah menjabat sebagai kepala bagian di kantornya. 

Kesendiriannya hingga saat ini karena selain sibuk dengan melanjutkan kuliah untuk mendapatkan gelar master juga pekerjaan kantornya yang menumpuk. Dan satu lagi, dia mempunyai tanggungjawab untuk mengantar adik-adiknya menyelesaikan sekolah. Saat ini di posisinya yang sudah nyaman dan usianya yang juga sudah matang, Usman berniat untuk mencari jodoh sebagai pendamping hidup.

“Mungkin selama ini Tuhan belum memberikan jodoh kepada saye, tapi sekarang saye sepertinya sudah menemukannya dan mudah-mudahan ini betul-betul kiriman Tuhan yang kembali datang dari jauh,” ungkapnya serius tapi masih dengan gaya bercanda. 

Aku hanya tersipu mendengarnya. Dan aku pun menceritakan tentang diriku yang beberapakali gagal dalam menjalin hubungan dengan sejumlah laki-laki, sampai aku frustasi dan rasa rindu kepada Tanjungpinang yang membawaku kembali ke kota ini. 

“Sekarang awak semakin yakin kan kalau Pulau Penyengat itu dan mesjidnya itu ada kelebihan? Orang yang pernah datang ke sana biasanya akan balik lagi ke sana. Kalau tidak kenapa pejabat yang datang ke kota ini selalu menyempatkan shalat di sana. Awak sendiri kan sering datang dan berdoa di sana, sekarang awak sudah merasakannya sendiri buktinya sudah bertemu dengan saye,” ujarnya, dengan senyum yang masih menggantung di bibir. Aku merasakan ada getar halus setiap melihat senyum itu..
***
Kucium tangan Usman dengan air mata yang tak dapat kubendung ketika selesai Shalat Maghrib di Mesjid Penyengat. Hari itu merupakan pertama dan terakhir kali aku shalat berjamaah dengan Usman. Besok aku harus kembali ke Jakarta.
“Sejak malam ini abang akan menjadi Imam untuk adek, kembalilah ke Jakarta dan baliklah segera untuk abang dan kite akan menikah membina keluarga sakinah, mawadaah dan warahmah. Insya Allah,” bisiknya.

Kupandangi langit senja yang memerah dan kubiarkan sapuan angin laut yang mulai menusuk dingin sum-sumku. Di atas Pompong yang membawaku kembali ke Tanjungpinang, kubiarkan kokoh tangan Usman memeluk tubuhku, memberikan kehangatan di tengah dinginnya malam. Perlahan kuberbisik, “Penyengat aku pasti kembali.” ***

November 2004, tuk suamiku yang tercinta.



1 komentar:

  1. memang ibu satu ini penulis yang berbakat

    salut saya

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung