Loading

Minggu, 11 April 2010

Cerpen :One

Tit tit tit…! Kuraih HP ku yang sejak tadi tergeletak di atas kasur. “One ada kabar yang menggembirakan sekali. Tapi nanti saja ya diceritakan soalnya waktunya kurang tepat. Selamat penasaran, hehehe…” begitu isi pesan singkat yang ternyata dari One, kakak sulung perempuanku.
“Huu, basi pakai janji segala. Untuk apa memberi tahu kalau tak jelas,” aku mengomel dan melanjutkan membaca.

Usai Magrib nada tanda pesan masuk kembali berbunyi. Aku malas-malasan membukanya. Palingan One yang kembali membuat aku penasaran, batinku.
“Penasaran dari tadi ingin tahu ya kabar apa? Jangan cemberut begitu, Manis. Ini benar-benar kabar gembira. One dilamar…!” Memang benar dugaanku pesan itu dari One, tapi isinya masih membuatku penasaran.
“Jangan cerita kalau hanya sepenggal, tidak menarik, tauuuu..!!” omelku dalam balasan.
Ketika kembali menerima balasan dari One, ia tertawa terbahak-bahak mengetahui aku jengkel. One bercerita kalau ia dilamar oleh pria yang beberapa bulan ini dekat dengannya. Menurut One, lamaran itu memang masih sebatas antara mereka berdua, nanti resminya tentu antara keluarga kami dan pria itu.

Kata One pria yang masih dirahasiakan namanya itu berusia matang di atas tiga puluhan. Orangnya baik, punya pekerjaan tetap, keluarganya juga baik. Dan yang jelas, kata One berusaha menyakinkanku, pria itu ganteng. Pokoknya One merasa sangat beruntung bisa dilamar oleh pria itu.
One juga mengatakan, impiannya untuk mempunyai suami seperti yang ia idam-idamkan selama ini akan terwujud. One juga bilang kalau status sosial calon suaminya ini nanti tentu akan membuat mata orang kampung yang sebelumnya meremehkan keluarga kami akan terbuka dan malu hati.
“Siapa yang menyangka, kalau anak petani ini bisa dilamar pria seperti calon suamiku. Udah ganteng, baik, mapan dan dari keluarga yang baik-baik. One merasa paling bahagia di dunia saat ini,” ungkapnya dalam pesannya yang entah keberapa.
Pesan dari One baru berhenti setelah ia mengatakan kalau tangannya pegal dan berjanji besok akan bercerita lagi. Aku kembali membuka pesan-pesan One tadi. One tampaknya sangat gembira, seperti tercermin dari kalimat-kalimatnya.
One, kakak pertama dari kami yang lima bersaudara. One panggilan pengganti kakak dalam kebiasaan orang Padang. Nama aslinya Marni. One berusia enam tahun lebih tua dariku yang anak ketiga. Meski terpaut jauh, kami cukup dekat karena sejak kecil aku sudah terbiasa diasuh One.
Waktu kecil aku sering kesal pada One, karena ia adalah pribadi yang tegas terhadap adik-adiknya dan bahkan terkesan keras kepala. Seperti kalau sudah waktunya aku harus mandi, ia cukup mengatakannya sekali tapi dengan nada tegas. Di telingaku yang masih kecil itu seperti sebuah komando yang memang tidak bisa ditawar.
Kalau aku tidak menurut, One biasanya tidak akan mengacuhkan aku. Saat aku meminta diajarkan PR Matematika, One tidak peduli. Bahkan meski aku merengek sampai menangis, ia tak perduli. Meski Mak meminta sekalipun, One tidak peduli.
“Itu makanya kalau disuruh mandi ya mandi, jangan membantah. Sekarang minta tolong merengek-rengek dan menangis. Dari kecil harus disiplin dan patuh sama aturan…!” omelnya tegas.
Itu terjadi saat aku duduk di bangku kelas enam SD. One saat itu sudah duduk di bangku SMA. One mendidikku dan adik-adik melebihi sikap Ayah dan Mak.
Meskipun terkesan egois, One sangat menyayangi adik-adiknya yang masih kecil. Dua orang adik kami, Rara dan Dede yang masih balita begitu dekat dengan One. Tapi kepada keduanya One tidak setegas seperti kepada aku. Kadang aku iri melihat perhatian dan kasih sayang One yang berlebihan kepada adik-adikku itu.
Kadang kedisiplinan One membuat ia sering bertentangan dengan Mak. Kalau waktunya belajar, One tidak mau diganggu, bahkan oleh Mak atau Ayah sekali pun. Pernah suatu hari Mak meminta One menemani beliau ke rumah kerabat. Tapi One menolak dengan alasan sedang belajar dan menyuruh aku yang menemani Mak.
Bukan sekali dua One menolak seperti itu, karena jika ia sedang mengerjakan sesuatu yang menurutnya lebih penting, ia tidak akan segan-segan menolak dan disertai alasan yang memang masuk di akal.
Sikap One itu tak jarang membuat Mak marah, bahkan saking marahnya Mak mengatakan kalau belajar One tidak ada gunanya. Toh, anak petani hanya akan tetap menjadi seorang petani.
“Tidak usah mimpi, banyak sarjana yang menganggur, apalagi kamu kan hanya disekolahkan hingga tamat SMA, tidak akan jadi apa-apa…!” omel Mak.
Tapi One bergeming meski Mak sering mengatakan hal itu berulang-ulang. One masih tetap rajin belajar dan menjadi langganan juara kelas. Apalagi saat duduk di kelas tiga SMA, One semakin rajin belajar dan ikut tambahan sore hari di sekolah. Waktu One yang banyak dihabiskan untuk sekolah membuat Mak sering mengomeli One. Pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan One menjadi pekerjaan Mak.
Sering aku melihat Mak mengomel dan marah-marah. Tapi One tetap dengan pribadinya. Ia hanya diam dan tidak berkata sepatah pun kalau Mak mengomel atau marah-marah. Diam, tapi bukan berarti One tak mengeluh. Itu baru aku ketahui saat tanpa sengaja aku menemukan buku hariannya.
Di dalam buku itu One menuliskan rasa sedihnya karena tidak mendapat dukungan penuh dari Mak untuk mencapai cita-citanya. One merasa heran dengan sikap Mak yang malah tidak bangga dengan dirinya yang rajin belajar dan berprestasi.
One juga menuturkan tentang cita-cita. One ingin berhasil meraih impiannya, yakni sekedar mempunyai pekerjaan tetap sebagai orang kantoran dan punya gaji. Itu nanti bisa membantu Mak dan Ayah serta menyekolahkan aku dan adik-adik hingga perguruan tinggi.
Meskipun sedih dan bingung dengan sikap Mak, tapi One tetap punya pikiran baik terhadap Mak. Menurut One, Mak mungkin kecewa dengan adik-adiknya yang bersekolah lebih tinggi daripadanya, ternyata akhirnya tidak punya pekerjaan bagus, malah jadi ibu rumah tangga atau bertani seperti dirinya yang juga mengikuti pekerjaan kakek dan nenek.
“Mungkin Mak takut jika aku akan seperti dirinya dan adik-adiknya, sudah capek-capek dan menghabiskan uang untuk sekolah, tapi akhirnya hanya jadi ibu rumah tangga atau tidak bekerja. Aku bisa memahami kekhawatiran Mak. Tapi Mak, percayalah anakmu ini akan berusaha keras mencapai cita-cita,” begitu penuturan One dalam buku hariannya.
Selain itu, One menilai Mak juga mungkin tidak percaya jika One akan mampu mencapai cita-citanya. Karenanya keluarga kami dari orang tak punya, tidak mampu untuk sekolah hingga perguruan tinggi dan bergelar sarjana sebagai modal mencari kerja. Sementara orang yang kaya saja banyak anak-anak mereka yang menganggur, meski bergelar sarjana. Kalau pun dapat kerja pasti karena sogok sana sini sehingga bisa jadi pegawai.
Saat lulus SMA, One berniat mengambil kursus keterampilan komputer dan Bahasa Inggris. Tapi Mak dengan keras menolak. Menurut Mak, hanya akan buang-buang uang dan waktu. Mak lebih suka One menikah, sehingga beban Mak berkurang.
Tapi, One tetaplah One yang keras hati dan optimis dalam sikap diamnya. Kepada Mak dan Ayah, One mengatakan, ia akan tetap mengambil pendidikan kursus singkat itu sebagai bekal dirinya mencari kerja. One berjanji tidak akan merepotkan Ayah dan Mak, karena ia masih punya tabungan dari sisa beasiswa pendidikan yang ia tabung selama ini.
One membuktikan ucapannya. Meski tiap hari harus bolak-balik ke kota untuk belajar, One tidak pernah mengeluh. One tetap bisa membantu Mak mengerjakan pekerjaan rumah, meski Mak masih tetap sering mengomel.
Belum cukup setahun kursus, One mendapatkan pekerjaan. Gaji pertama diberikannya kepada Mak. Mak senang sekali. Aku dan adik-adik juga demikian, karena One membelikan kami makanan dan perlengkapan sekolah.
Keberhasilan One mendapatkan kerja saat masih belajar kursus tentu membanggakan Mak dan Ayah. Selain itu tetangga kiri dan kanan juga banyak yang bertanya, mengapa begitu mudah dan cepat One dapat kerja. Padahal banyak anak tetangga yang sarjana tapi susah dapat kerja.
Mak menanyakan pertanyaan orang-orang itu kepada One. “Harus rajin cari peluang dan melihat kesempatan kerja. Jangan memilih pekerjaan. Yang penting halal. Kunci utamanya, punya kemampuan dan keterampilan. Untuk apa sarjana kalau ternyata tidak bisa apa-apa,” jawab One.
One bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan. Kata One, ia bertugas di bagian administrasi. “Pokoknya orang kantoran, kamu nanti kalau sudah besar pasti mengerti,” begitu One menjawab, setiap kali aku ingin tahu tentang apa saja yang ia kerjakan.
Setahun One bekerja, tiba-tiba One mengatakan kalau ia akan pindah ke Batam. Tentu kabar itu mengejutkan kami, apalagi Mak dan Ayah. Kata One perusahaan tempatnya bekerja akan bergabung dengan perusahan lain yang ada di Batam. Dengan alasan daripada tidak bekerja, One memilih ikut bergabung di kantor yang ada di pulau yang berdekatan dengan Singapura itu.
Mak sungguh menentang. Kata Mak, kita tidak punya keluarga di sana. Siapa yang akan mengawasi One dan siapa yang akan tahu kalau sesuatu terjadi sama One. One mengatakan kalau segala ketakutan Mak terlalu berlebihan. Menurut One, kapan bisa maju kalau masih berpikiran picik.
“Kalau aku masih tinggal di kampung ini, kapan bisa berkembang. Kalau masih takut dengan tantangan kapan bisa berhasil. Tantangan itu harus dihadapi bukan dihindari,” begitu One menyakinkan Mak dan Ayah.
Meskipun punya keinginan kuat untuk terus bekerja dan harus jauh dari keluarga, aku tahu One sedih. Karena ia harus meninggalkan adik-adiknya, apalagi Dede dan Rara yang begitu dekat dengannya.
Pernah kulihat One menangis diam-diam sambil memeluk Dede dan Rara yang tidur dengannya. Tapi keesokan harinya One kembali seperti dulu, gadis yang optimis dan keras hati.
Akhirnya hari keberangkatan One ke Batam datang juga. Mak dan Ayah meski mengizinkan tapi tetap menyimpan galaunya karena melepas anak gadis ke rantau. Begitu juga aku, karena tidak ada lagi kakakku yang selalu kuandalkan mengerjakan pekerjaan rumah. Namun di balik itu, aku senang karena tidak ada lagi kakak yang tegas dan disiplin mendidik aku.
Dua hari sampai di Batam, One memberi kabar kalau ia sudah bekerja di kantor yang pernah ia ceritakan saat masih di kampung. Tapi, kata One, ia tidak bekerja di dalam kantor, namun di lapangan sebagai tenaga pemasaran. One mengakui memang tidak seenak saat masih bekerja di kampung. Tapi dasar sudah sifat One, ia tetap menyatakan senang dengan pekerjaannya saat itu.
One masih tetap seperti di kampung. Ia tetap mengirimkan gajinya untuk Mak dan adik-adik. Selain itu One juga sering mengirimkan barang-barang untuk kami. Bahkan pada sebuah suratnya, One mengaku pekerjaannya sebagai marketing ternyata lebih enak, karena dapat komisi jika produk yang ditawarkan terjual.
Enam bulan di Batam, Mak dapat kabar tidak baik. Kata orang kampong, One ke Batam bukan bekerja, tapi kawin lari dengan pacarnya. Mak tentu gusar karena kabar tidak sedap itu.
Mak menghubungi One dan meminta jawaban jujur. Kembali kakakku dengan tegas mengatakan itu adalah kabar burung dari orang-orang yang syirik karena keberhasilannya.
“Mak percaya orang atau anak Mak sendiri. Kalau Mak percaya orang lain silahkan, asal mereka yang bantu Mak tiap bulan menggantikan aku,” begitu kata One di telepon.
Aku yang sudah duduk di bangku SMP waktu itu, juga menyakinkan Mak kalau kabar itu hanya isu dari orang-orang yang memang banyak iri hati dengan One. Akhirnya Mak bisa menerima dan tidak lagi memikirkan kabar itu.
Memang saat masih di kampung, One pernah pacaran dengan teman kerjanya, namun putus saat One lebih memilih kerja ke Batam. One pernah beberapa kali membawa pria itu ke rumah.
“Kalau punya teman dekat laki-laki harus dikenalkan pada orang tua, jangan sembunyi-sembunyi kalau memang mau serius,” begitu alasan One, ketika aku protes karena belum ada ikatan apa-apa sudah dibawa ke rumah.
One juga pernah ke rumah pacarnya itu. Kata One hal itu ia lakukan karena serius dengan pacarnya dan kalau bisa sampai menikah. “Kodrat wanita dan pria itu dewasa itu adalah menikah, kenapa harus malu dan sembunyi-sembunyi jika memang ada niat untuk menikah,” tandas One.
Pada lebaran pertama semenjak kerja di Batam, One pulang kampung menaiki kapal terbang. Kepulangan One ini juga mendapat bisik-bisik dari orang-orang kampung yang iri. Kata mereka One tidak bekerja melainkan jadi simpanan orang Singapura. Karena menurut mereka tidak mungkin setahun bekerja One sudah bisa pulang dengan pesawat, apalagi juga membawa barang-barang untuk kami dan memberi Mak uang untuk merehab rumah.
Meski pun terganggu, One tidak marah. Ia menilai wajar saja ada orang yang tidak suka dengan keberhasilannya. Aku akui One memang termasuk berhasil. Ia membelikan kami barang-barang, baju dan makanan. Bahkan One juga membelikan aku telepon genggam. “Biar irit dan Mak tidak menelpon di wartel lagi. Aku juga mudah menghubungi keluarga di kampung, lagi pula murah bisa pakai sms,” alasan One.
One kelihatan lebih cantik dan gemuk dibandingkan saat masih di kampung. Kata One, ia harus menjaga penampilan, karena ia harus berhadapan dengan banyak orang. “Bagaimana orang bisa tertarik dengan produk yang kita tawarkan, sementara kesan pertama mereka melihat kita sudah tidak sreg,” alasan One tentang penampilannya yang lebih jauh berbeda.
Begitulah, setiap lebaran One pulang kampung dengan segala kejutan untuk kami sekeluarga. Begitu juga isu-isu miring terus terdengar setiap One pulang kampung. Tapi bagi kami sekeluarga isu hanya angin lalu saja.
Tak terasa One sudah empat tahun di Batam. Bahkan One sudah menduduki jabatan yang bagus di kantornya. Sejak satu setengah tahun lalu, One tidak lagi bekerja di lapangan, tapi sudah duduk di dalam kantor. Katanya One menjabat sebagai supervisor dan yang jelas gaji One semakin besar.
Meski senang dengan peningkatan karir One, tapi Mak risau karena usia One yang telah 24 tahun dan sudah patut menikah. One belum pernah mengatakan keinginan untuk itu. “Bagaimana mau menikah, kalau calonnya saja belum ada. Nanti kalau ada pasti One bawa pulang kampung,” tulis One dalam pesan singkatnya, saat aku memberitahu Mak merisaukannya.
Kata One, ia ingin mencari suami yang usianya matang, punya pekerjaan tetap dan yang penting bisa menjamin kehidupannya kelak. Karena kata One, setelah menikah jika memang tidak diizinkan suami bekerja, One juga senang tinggal di rumah mengurus rumah tangga, suami dan anak-anak.
“Untuk apa One masih kerja kalau suami dan anak-anak One nanti terlantar tidak ada yang urus. One tidak mau anak-anak One besar dengan pembantu. Makanya One harus mencari suami yang bisa mencukupi kebutuhan dan menjamin kehidupan anak-anak One kelak,” begitu ia menjawab pesanku yang protes, karena One mengatakan hendak berhenti kerja setelah menikah.
Mak dan keluarga besar makin risau karena One seperti tenang-tenang saja. Usia 24 tahun bukan lagi usia yang muda tapi sudah krisis untuk menikah. Dulu kata Mak, umur 15 tahun sudah banyak wanita yang menikah. Mak saja, yang menikah di usia 20 tahun, dulu sering kena ejek dari orang kampung karena dianggap tidak laku.
“Mudah-mudahan kabar gembira dari One ini tidak lagi membuat Mak, Ayah dan keluarga besar lain risau. One akan menikah,” aku menarik selimut dan memutuskan menyampaikan kabar gembira itu besok saja pada Mak dan Ayah.
Usai Sholat Subuh aku kembali menerima pesan-pesan dari One. Isinya tidak lain menceritakan kebahagiannya karena sudah menemukan calon pendamping hidup yang sesuai dengan apa yang ia impikan selama ini.
Aku dulu yang sempat meragukan One bisa mendapatkan calon suami seperti yang ia impikan, salut juga aku dengan apa yang berhasil dicapai oleh kakakku itu. One ternyata bisa membuktikan kata-katanya. Ternyata One-ku tidak berubah dari dulu, seorang kakak yang tegas, optimis dan berkemauan keras mencapai apa yang ia cita-citakan.
Kabar gembira itu aku sampaikan pada Mak dan Ayah. Keduanya begitu senang karena berita gembira yang sejak lama ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Bahkan karena tidak sabar, Mak menelepon One untuk mendengar langsung kabar itu.
Sebulan setelah kabar bahagia itu, One memberi kabar kalau keluarga calon suaminya akan datang untuk melamar secara resmi. “Mak dan Ayah tolong percaya dengan pilihan aku, karena semua baik buruknya kehidupan aku yang akan menghadapi,” tegas One pada Mak dan Ayah tentang pilihannya itu.
Dua minggu setelah One memberi kabar, keluarga calon suami One datang dan tentunya sekalian dengan calon abang iparku. Mak memeluk bahagia One ketika rombongan kecil sampai di rumah. Sementara aku senyum-senyum melihat calon abang iparku yang tampak malu-malu bertemu dengan calon mertua.
Rombongan keluarga calon suami One yang datang adalah bapak, abang, adik dan dua orang kerabat perempuan mereka. Acara lamaran tidak terlalu resmi. Adat kami yang berbeda, sehingga dipilih jalan tengah, berupa penyerahan cincin sebagai tanda One sudah dilamar oleh Bang Yusri, nama calon abang iparku itu.
Keluarga Bang Yusri asli Jawa, tapi sudah lama menetap di Batam. Bang Yusri berperawakan sedang, berkulit kuning dan berwajah memang lumayan ganteng. Calon abang iparku itu PNS di sebuah kantor pemerintahan.
Dalam acara lamaran itu, juga diputuskan kalau pernikahan One akan dilakukan tiga bulan setelah acara itu, atau pas liburan panjang sekolah. Hari dan tanggal pernikahan akan ditentukan oleh keluarga kami. Yang jelas keluarga calon suami One menyerahkan sepenuhnya acara pesta pada kami di kampung.
“Nanti kamu sekalian ikut aku ke Batam, cari kerja di sana. Biar nanti bisa gantikan One bantu Mak dan Ayah sekolah adik-adik. Kalau kamu mau kuliah sambil kerja juga bisa, yang penting kerja dulu,” kata One, saat itu kami mengobrol berdua di kamar.
Saat itu aku tidak membantah, karena saat One menikah nanti aku sudah lulus SMA. Selain itu, One beralasan, jika nanti aku bekerja tentu akan punya gaji yang bisa digunakan untuk biaya kuliah dan membantu Mak dan Ayah.
“Kamu kan tidak bayar kos dan makan, semua kan aku yang nanggung. Kamu itu enak punya kakak yang bisa ditumpangi di rantau, tidak seperti aku yang merantau harus mengeluarkan duit semua,” kata-kata One membuat aku tidak ragu lagi untuk ikut dengannya nanti ke Batam setelah ia menikah.
Kedatangan dan lamaran calon suami One tentu juga tersiar di kampung kami yang kecil. Ada orang-orang yang senang mendengar kabar bahagia itu, tapi yang iri hati masih tetap seperti dulu, menghembuskan kabar tidak sedap.
Ada yang mengatakan One merebut suami orang. Penyebab berhembusnya kabar itu hanya karena umur Bang Yusri yang memang sudah pantas punya istri dan anak. Bahkan ada juga mengatakan kalau One itu sebenarnya sudah nikah diam-diam di Batam dan saat ini sedang hamil muda. Sebab tubuh One kelihatan lebih kurus dari biasanya. Biasanya orang hamil muda yang seperti itu.
Tapi karena sudah kenyang dengan berbagai fitnah itu, One tidak pernah menghiraukannya. Apalagi One yang memang tidak pernah menanggapi isu-isu itu. “Biarkanlah mereka kenyang dengan dosa yang mereka buat sendiri,” sergah One pada Mak yang agak terpengaruh dengan isu itu.
Dua hari di kampong, One kembali ke Batam bersama rombongan keluarga calon suaminya. Meski agak sedih karena belum puas bertemu dengan anak dan calon menantu, tapi Mak bisa juga tersenyum bahagia ketika mengantar rombongan itu di bandara. Mak tidak perlu risau lagi memikirkan One yang selama ini hidup sendiri di rantau, sebab sudah ada calon suami dan keluarga besarnya di Batam.
Sebulan menjelang hari H pernikahan yang jatuh pada minggu pertama Bulan Juli, One semakin sibuk menghubungi kami. Selain mengirimkan uang untuk persiapan pesta pernikahannya, One juga sibuk meminta tolong tentang hal-hal yang harus dipersiapkan oleh kami di kampung.
Dari hal-hal yang kecil hingga yang besar dipantau One. Kemarin ia memintaku pergi menemani Mak ke toko perabot memilih perlengkapan tidur kamar pengantinnya kelak.
“Kamu kan anak muda, pasti seleramu hampir sama dengan aku. Pilih yang modern dan tak norak,” pinta One dalam sms-nya.
One juga meminta aku yang memilihkan warna kelambu kamarnya. Kata One ia mau warna yang lembut, kalau bisa warna biru muda, hijau muda atau kuning muda. Sementara warna pelaminan ia minta warna baju pengantin dan pelaminan yang paling trendy dan baru.
“Kalau bisa baju pengantin dan pelaminan dari Mak Andam, aku pertama kali yang memakainya. Aku tak mau sudah ada orang lain di kampung yang duluan memakainya,” ocehnya di telepon.
Masalah undangan One juga mempercayakan padaku. One ingin undangan pernikahannya simpel dan tidak norak.
“Pokoknya pilih yang simpel dan manis. Aku yakin kamu pasti tahu seleraku.”
“Organ tunggalnya pilih penyanyinya yang sopan, jangan buat malu pada tamu dan keluarga besar suamiku!”
“Tolong kamu cek undanganya sudah selesai dicetak apa belum!”
Meski kadang kesal dengan seabrek permintaanya, aku tetap memenuhi permintaan One. Karena toh kapan lagi aku bisa membantu dan menyenangkan dia. Selama ini dari kecil hingga besar, aku selalu merepotkan One.
Dua minggu menjelang hari H pernikahannya One pulang lebih dahulu. Kata One, Bang Yusri dan keluarganya akan datang empat hari menjelang hari H. One sendiri memilih pulang lebih awal untuk mengecek segala persiapan yang telah kami lakukan.
“Ini baru adikku, bisa diandalkan. Thanks ya, tapi lain waktu saja imbalannya,” goda One, saat ia merasa puas melihat perlengkapan kamar pengantinnya yang cocok dengan keinginannya.
Kembali seperti saat kepulangannya dulu, One selalu diterpa gosip oleh orang-orang kampung yang iri dengan perubahan keluarga kami sejak One merantau ke Batam. Kali ini kepulangan One yang lebih awal dalam keadaan lebih kurus, justru malah dibuat isu oleh warga kampung.
Kata mereka One baru saja menggugurkan kandungannya, jadi badan One kurus dan lemah. Tapi ada juga yang mengatakan One sedang hamil, karena wajahnya lesu layaknya orang sedang hamil dua bulan.
“Biar sajalah, yang penting One tidak seperti yang mereka sangka. Kamu tidak usah melayani mereka. Biar saja mereka menanggung dosa,” hibur One, ketika aku pulang dari warung sambil mengomel, karena mendengar bisik-bisik yang tidak baik tentang One.
Kenapa aku tidak kesal. Orang-orang itu seperti tidak pernah ikhlas melihat perubahan ekonomi dan sosial keluarga kami. Dulu kami memang hidup pas-pasan. Untuk makan Mak kadang mengutang beras di pasar. Rumah kami juga tidak sebagus seperti sekarang. Aku dan adik-adik juga punya pakaian yang bagus.
Semua itu karena One. One yang membiayai kami. One yang membelikan kami semua barang-barang yang tidak pernah kami miliki dulu. Tapi mengapa orang-orang itu selalu tidak suka dengan kami. Apa orang yang dulu tidak mampu seperti kami tidak berhak juga menikmati hidup yang lebih layak. Apa kami tidak punya hak untuk bisa sedikit hidup lebih senang. Mengapa mereka tidak ikut senang kalau ada tetangga yang senang.
One memang sedikit lebih kurus daripada saat ia pulang dua bulan lalu. Kata One ia memang kecapekan karena mengejar target menyelesaikan laporan sebelum meminta cuti.
“Biasalah orang yang mau jadi pengantin memang begitu, banyak pikiran. Apalagi ditambah tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan. Kamu nanti pasti merasakan hal yang sama seperti aku,” jawab One, ketika aku menanyakan tubuhnya yang tampak kurus dan lemah.
Meski percaya dengan One, tapi suatu hari keyakinanku terhadapnya goyah juga. Saat itu One yang sedang membereskan kamar, tiba-tiba terlihat memegang perutnya dan tampak meringis seperti menahan sakit.
Aku yang berdiri di depan pintu segera mendekatinya. Tapi One mengatakan dirinya tidak apa-apa. Ia hanya memintaku mengambilkan air putih. Setelah minum sebutir obat yang ia ambil dari laci, One mengatakan mau istirahat.
Sejak melihat kejadian itu, rasa curiga dan ragu terhadap One hinggap di kepalaku. Mungkinkah One memang seperti yang dikatakan orang-orang kampung. Ciri-ciri One memang seperti yang disangkakan orang. Kalau hamil muda sering pening atau jika usai menggugurkan kandungan kata orang akan sering pening dan ngilu di perut.
Kecurigaan terhadap One kusimpan sendiri. Aku tak mau mengusik kebahagian One dengan berbagai macam pertanyaan kepadanya. Toh, kalau ia memang hamil kan ada suaminya. Lagi pula tidak hanya One yang mengalami kecelakaan saat hendak menikah. Di kampung ini tidak bisa dihitung dengan jari gadis yang MBA (married by accident) atau nikah karena “kecelakaan”. Apalagi di negeri ini, dari anak orang kaya, anak ustadz, anak guru agama, anak pegawai, anak pejabat dan selebritis juga ada yang hamil sebelum menikah. Bahkan ada yang hamil tapi tidak ada suaminya yang bertanggungjawab.
Sikapku terhadap One masih seperti biasa. Aku juga tidak pernah menolak permintaan One untuk menemaninya membeli sejumlah keperluan untuk persiapan pesta pernikahannya.
Tapi, tiga hari kemudian rasa curiga terhadap One kembali muncul. Bahkan kali ini aku betul-betul yakin One memang sedang bermasalah. Tiba-tiba saja One yang sedang menyapu rumah jatuh pingsan.
Mak histeris melihat One pingsan dan tampak pucat. Tak lama One siuman. Mak sedikit tenang. Tapi One kembali mengatakan ia hanya kecapekan. Meski kepercayaanku pada One semakin berkurang, tapi aku masih menghibur Mak dengan alasan One terlalu capek
Alasan aku bisa diterima Mak, karena memang One tidak pernah mau diam di rumah. Ia masih seperti dulu tidak suka berdiam diri. One lebih suka turun tangan mengerjakan suatu pekerjaan daripada harus menunggu orang lain.
Tapi alasanku tidak begitu saja diterima oleh sejumlah keluarga besar dan apalagi tetangga yang iri. Pingsannya One mereka anggap suatu pembenaran terhadap kecurigaan mereka selama ini. Kalau tidak sedang hamil muda, One pasti baru saja menggugurkan kandungannya.
Aku membujuk Mak untuk tidak mendengarkan semua yang dituduhkan orang-orang itu. Aku meminta Mak lebih fokus pada persiapan pernikahan yang sudah tinggal seminggu lagi. Aku menghibur Mak dengan sejumlah fakta yang aku berikan, bahwa yang bermasalah saat hendak nikah bukan hanya One seorang. Kalau kecurigaan itu memang benar, banyak juga anak gadis yang mengalaminya.
Empat hari menjelang pernikahannya, saat rumah kami mulai ramai oleh keluarga besar dan tetangga yang datang untuk memasak rendang dan kue, kembali One pingsan.
Kali ini One pingsan cukup lama dan Mak kembali histeris melihat One yang tidak kunjung siuman. Salah seorang paman kami yang pandai mengobati orang dengan cara tradisional mencoba menyadarkan One dengan semburan air putih.
Kejadian itu tentu semakin membuat kecurigaan tetangga dan orang-orang yang selama ini iri semakin besar. Bisik-bisik mereka bagaikan dengung lebah di telingaku. Sampai akhirnya karena tidak tahan aku menangis sambil membentak mereka.
“Kalian senang melihat kakakku begini. Kalau dia memang seperti kalian sangkakan, toh dia punya calon suami dan mau menikah. Lagipula bukan dia saja yang seperti ini, adik kalian, saudara kalian, anak kalian pasti ada yang mengalaminya kan! Atau kalian sendiri dulu pernah mengalaminya kan!” aku histeris memaki mereka yang sepertinya merasa menang melihat penderitaan dan malu keluarga kami.
Meski ada yang tidak senang pada keluarga kami, ternyata masih ada yang baik dan kasihan melihat Mak yang terus menangis melihat One yang pucat dan menahan sakit. Mereka menghibur Mak dan menenangkan aku yang masih terus meracau meski orang-orang itu telah bubar. Sementara Ayah memilih berdiam diri di kamarnya.
Saat keadaan sudah mulai tenang, One yang sejak siuman belum mengeluarkan suara meminta kami membawanya ke rumah sakit.
“Tolong bawa aku ke rumah sakit saja. Tolong beri tahu Bang Yusri,” pintanya nyaris tak terdengar.
Aku menghubungi Bang Yusri yang sedang dalam perjalanan ke rumah kami dengan rombongan keluarga besarnya. Aku hanya mengatakan One hanya demam biasa dan harus dibawa ke rumah sakit biar cepat sembuh. Bang Yusri yang menerima teleponku seperti tidak percaya dan meminta aku menceritakan semuanya. Namun aku tetap mengatakan One baik-baik saja.
Di rumah sakit aku melihat Mak, Ayah dan sejumlah kerabat kami menunggu di depan ruang gawat darurat. Semuanya diam dan tampak gelisah. Aku yang baru datang juga ikut diam. Pada seorang perawat yang hendak masuk ke ruangan tertutup rapat itu, aku sempat bertanya. Katanya, One masih dalam pemeriksaan intesif dokter.
Aku memilih duduk menjauh dari rombongan keluarga kami itu. Perasaanku campur aduk. Rasa kesal, benci, kasihan dan sayang pada One memenuhi rongga dadaku yang kurasakan sesak.
Aku kesal karena mengapa One yang kubangga-banggakan selama ini ternyata menyimpan kebohongan yang akhirnya terungkap juga. Bahkan sangat memalukan saat hendak menjelang pernikahannya.
Aku benci mengapa orang-orang seperti mensyukuri penderitaan One, penderitaan Mak dan keluarga besar yang menanggung malu. Aku kasihan melihat One yang harusnya mengecap kebahagiaan pada hari pernikahannya yang mungkin hanya sekali sumur hidup, tapi ternoda dengan masalah yang ia hadapi.
Tapi aku tetap sayang One-ku. Kakakku yang selama ini telah banyak membantu kami, membahagiakan kami dan mengangkat status sosial keluarga kami, sehingga tidak lagi dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang biasa meremehkan orang yang tidak mampu.
Pintu ruang gawat darurat terbuka, seorang dokter keluar diiringi dua orang perawat. Ia menanyakan Mak dan Ayah. Dokter itu diam sejenak sebelum mengajak Mak dan Ayah ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari tempat kami duduk menunggu.
Aku mengikutinya di belakang dan ikut masuk ke ruangan dokter itu. “Saya adiknya, Dok,” aku memperkenalkan diri sebelum dokter itu bertanya.
Dokter itu tidak menjawab, hanya mengangguk. “Hmm…anak bapak dan ibu sakit. Sakitnya biasa yang dialami banyak orang. Tapi...sakit anak bapak dan ibu sudah cukup serius.” Dokter itu menatap Mak dan Ayah, kemudian mengambil kertas dan menulisnya.
“Anak saya sakit apa, Dok?” Mak dan Ayah bertanya berbarengan, tidak sabar.
“Anak Ibu dan Bapak sakit maag, tapi sudah serius atau kronis. Lambungnya dipenuhi luka bahkan sudah tipis,” dokter menerangkan penyakit One.
“Kebanyakan orang yang seperti dia tidak mampu bertahan. Tapi anak ini seperti punya suatu kekuatan untuk bertahan.”
Aku menarik nafas lega, ternyata One bukan seperti yang kami semua perkirakan. Di balik kelegaanku, ada rasa perih mendengar tentang penyakit One.
Begitu juga Mak dan Ayah, meski tampak sedikit lega. Namun kemurungan tampak di wajah mereka.
Aku permisi ke luar ruangan dan membiarkan Mak dan Ayah yang melanjutkan pembicaraan dengan dokter.
Aku menceritakan apa yang kudengar dari dokter tentang penyakit One kepada keluargaku yang masih menunggu di dekat ruangan tadi. Kelegaan tampak di wajah mereka, namun kemudian berganti dengan mendung seperti di wajahku.
Pintu ruangan itu kembali terbuka, tampak One dengan mata terpejam dan wajah pucat berbaring di atas tempat tidur yang didorong oleh dua orang perawat. Aku mengikutinya ke ruang perawatan.
Aku duduk di samping tempat tidur One. Kuletakan tanganku di atas tangannya yang lemah dan dingin. Air mataku menetes melihat kakakku yang begitu malang. Kakakku yang seharusnya bahagia menunggu hari pernikahannya malah terbaring sakit.
Aku tidak menyangka ternyata selama ini One memendam penyakitnya. Memang saat masih di kampung, One pernah sakit maag. Meski disiplin, One memang punya kebiasaan jelek, menunda makan jika pekerjaannya belum selesai.
Tapi, aku tidak menyangka kalau penyakit One sudah begitu parah. Lambung One yang sudah tipis itu dipenuhi luka. Aku teringat tentang bapak temanku yang meninggal karena lambungnya bocor akibat maag. Namun, pikiran buruk itu aku tepis. Aku yakin One akan sembuh, karena aku tahu One punya semangat hidup yang kuat seperti yang dikatakan dokter tadi.
Pintu ruang perawatan terbuka. Bang Yusri bersama Ayah, Ibu dan dua kakak serta adiknya datang. Kekhawatiran tampak di wajah mereka. Aku menyalami mereka dan memberikan tempat duduk untuk Bang Yusri.
“Pasti penyakit maagnya kambuh. Waktu di Batam dia memang pernah dua kali masuk rumah sakit,” Bang Yusri menatapku. Aku mengangguk mengiyakan.
Bang Yusri menceritakan kalau One termasuk gila kerja, sehingga sering mengabaikan makan. Kata Bang Yusri, One tergantung dengan obat-obatan agar penyakitnya itu tidak kambuh.
“Mungkin One terlalu sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahannya, Bang. One tidak suka merepotkan orang, dia lebih suka mengerjakan sendiri. Jadi mungkin dia sering lupa makan obat. Kami sendiri baru tahu kalau penyakit One sudah separah ini,” aku beralasan tentang kambuhnya sakit One itu. Namun aku tidak menceritakan diagnosa dokter tadi. Aku tidak mau membuat mereka semakin cemas. Biarlah mereka tahu sendiri.
Tak lama Mak dan Ayah datang dan menyalami keluarga calon besannya. Aku memutuskan keluar ruangan dan pulang ke rumah.
Malam itu di rumah diadakan rapat antara keluarga kami dan keluarga Bang Yusri. Sementara One dijaga oleh tante dan sepupuku. Keputusan rapat itu, pernikahan One dan Bang Yusri akan tetap dilangsungkan pada hari Jumat, tiga hari lagi.
Jika One sudah sembuh pada hari H, One akan menjadi pengantin seperti layaknya pengantin yang menikah. Namun jika One belum sembuh atau masih lemah, pernikahan juga akan terus berlangsung, tapi prosesi akad nikah dilangsungkan di ruangan rumah sakit tempat ia dirawat secara sederhana.
Bila pesta pernikahannya tidak akan berlangsung sesuai yang rencana, organ tunggal penghibur tamu akan dibatalkan. Namun tamu-tamu yang sudah terlanjur diundang akan tetap dilayani.
Semenjak One masuk rumah sakit, Bang Yusri setiap hari menungguinya. Bahkan waktunya dihabiskan menemani One di rumah sakit. Aku yang juga setiap hari mengantarkan bekal dan pakaian ganti One dan Bang Yusri, tak jarang melihat calon abang iparku itu mengaji di samping One.
Melihat kesabaran dan kesetiaan Bang Yusri menunggui One, ada rasa bahagia dan sedih memenuhi dadaku. Bang Yusri ternyata begitu baik, penyabar, penyayang dan setia seperti yang diceritakan One dulu.
Tapi, mengapa kebahagiaan yang akan direguk sedikit lagi ternoda oleh sakit One? Padahal One sejak lama mengimpikan masa-masa indah yang akan dijelangnya itu. Selama ini One selalu banyak mengabaikan kebahagiannya untuk kami. One rela menghabiskan waktunya untuk bekerja ketimbang berpacaran. Sehingga wajar One telat mendapatkan jodohnya.
“Ya Allah, sembuhkanlah segera kakak hamba. Berikanlah ia kesempatan untuk menikmati kebahagiaan bersama orang yang dicintainya. Kakak hamba telah banyak berkorban untuk kami. Kakak hamba begitu baik ya Allah, tolong berikan dia kesembuhan,” doaku setiap usai shalat.
Pada malam sebelum hari H pernikahannya, kami mendapat kabar kalau kesehatan One makin menurun. Padahal kemarin One tampak sudah mulai membaik. Kami semua segera ke rumah sakit.
Di ruang perawatan tampak Bang Yusri dengan wajah kusut. Air muka kekhawatiran jelas tergambar di wajahnya. Kami semua mengelilingi tempat tidur One. One tersenyum kepada kami, namun yang tampak hanya tarikan bibir di mulutnya yang kering.
One sepertinya ingin menunjukan kepada kami kalau ia masih kuat dan akan sembuh. Tapi aku melihat One begitu memaksakan diri untuk terus tersenyum hanya untuk menyenangkan hati kami.
Mak menggenggam tangan One. Mak tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Air matanya menetes. One berusaha menghapusnya, namun tangannya kembali jatuh ke atas tempat tidur.
“Maafkan Marni, Mak. Marni merepotkan Mak.
Harusnya Mak bahagia menyiapkan hari pernikahan Marni. Tapi Marni sakit, Mak. Maafkan Marni telah membuat Mak susah,” suara One begitu lemah. Air mata Mak semakin deras mengalir.
Mak tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya mencium kening One, sambil terus menangis. Bang Yusri bersandar di tembok. Begitu juga Ayah dan Ibu Bang Yusri yang tampak begitu galau melihat keadaan One.
One menatapku. Ia kembali mencoba tersenyum, tapi tidak sempurna. Aku mendekatinya. Memegang tangannya dan membalas senyumnya, namun panas kurasakan di mataku menahan tangis.
“Yusna, kamu sudah besar, sudah dewasa. Kamu sudah bisa gantikan One membantu Mak dan Ayah. One percaya padamu...” One berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Aku mengangguk, air mataku sudah tak bisa aku bendung. One juga mencoba menghapusnya, namun tangannya tidak mampu diangkat.
Kepada calon mertuanya One juga meminta maaf, begitu juga kepada keluarga kami yang lain yang ada di ruangan itu.
One menatap Bang Yusri. Mata One mengisyaratkan meminta calon suaminya itu mendekat. One meminta aku dan Bang Yusri menggenggam tanggannya.
“Bang…tolong tepati janji abang. Terima kasih, Bang. Adek sangat menyayangi abang,” ujar One menatap Bang Yusri penuh cinta. Kali ini air mata mengenangi matanya yang sayu.
Aku tidak mengerti maksud One. Aku hanya diam. Bang Yusri mengangguk dan mencium kening One.
One menatap kami satu persatu yang mengelilinginya. Saat menatap aku, One berhenti lama. Matanya seakan berbicara mengatakan sesuatu kepadaku. Namun aku tidak dapat meraba maksudnya.
One menutup matanya dan senyum menghias bibirnya. Aku mengira One kecapekan setelah berbicara banyak dan tidur. Namun ternyata One menutup mata untuk selama-lamanya. Aku mengetahuinya setelah Mak histeris dan pingsan.
Lafaz Innalillahi wainnalillahi rajiun keluar dari mulut semua orang. Ketika itu aku melihat sebuah tarikan nafas terakhir One dan senyum itu tetap tidak hilang.
Bang Yusri memeluk One, aku terduduk menangis histeris. Tangis kami semua pecah menyaksikan One telah kembali kepada-Nya. Tuhan ternyata lebih menyayangi One dibandingkan kami. Tuhan sepertinya tidak mau One berlama-lama menanggung sakit.
***
Di hadapan jenazah One yang terbujur kaku ditutupi kain panjang, aku dan Bang Yusri bersimpuh. Hari ini, tepatnya di hari H pernikahan yang harus dilakukan One dan Bang Yusri, aku yang menggantikannya.
Ternyata maksud One kepada Bang Yusri untuk menepati janjinya adalah agar Bang Yusri menikahi aku jika One meninggal dunia. Karena cinta dan kesetiaan Bang Yusri kepada One, ia mau menikahiku.
Tapi bagiku awalnya sangat berat, saat hal itu diungkapkan Bang Yusri kepada keluarga kami. Aku nyaris pingsan mendengarnya. Karena tidak pernah terbayang di kepalaku akan menikah secepat ini. Aku yang baru lulus SMA harus menikah dengan pria yang begitu dewasa seperti Bang Yusri.
Tapi, akhirnya aku luluh juga. Semua itu karena rasa sayangku kepada One. Aku harus memenuhi janji kepada One untuk membantu Mak dan Ayah. Aku rela menggantikan posisi One membahagiakan Bang Yusri. Aku rela mengorbankan masa remajaku yang masih tersisa demi kakakku yang telah banyak berkorban untukku. Aku ikhlas demi kelapangan kakakku di alam kubur.***

Untuk adik-adikku, semoga menjadi manusia yang berhasil dan mandiri.
ONE

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung