Loading

Minggu, 11 April 2010

Cerpen :PUISI BUNDA

Akhir-akhir ini Bunda sering mengurung diri di kamar. Bunda lebih banyak menghabiskan waktunya di sana, dibandingkan duduk di ruang keluarga atau di teras depan. Kebiasaan Bunda itu membuat aku sebagai satu-satunya anak yang masih tinggal dengan Bunda jadi khawatir, jika Bunda tengah menghadapi masalah.

Bagaimana aku tidak khawatir, Bunda selama ini tidak pernah bersikap seperti saat ini. Biasanya selesai Shalat Subuh, Bunda menghabiskan waktu dengan berjalan pagi di sekeliling komplek perumahan tempat kami tinggal.

Setelah itu Bunda akan menyiram bunga dan membersihkan rumput-rumput kecil yang mengganggu keindahan taman bunganya. Seperti kebiasaan ibu rumah tangga lainnya, Bunda juga menyempatkan diri mengobrol di depan warung, sambil menunggu Bu Imas pemilik warung kembali dari pasar membawa belanja kebutuhan dapur.Kemudian Bunda akan melanjutkan aktifitasnya sebagai ibu rumah tangga, menyiapkan sarapan pagi untuk kami berdua. Sementara itu aku membantu Bunda merapikan rumah sebelum berangkat kerja.

Biasanya menjelang siang, Bunda akan membantu Mbak Asih menyiapkan masakan untuk makan siang dan malam. Hari-hari Bunda dari siang hingga sore biasanya ditemani oleh pembantu harian di rumah kami itu. Mbak Asih juga yang menemani Bunda ke luar rumah untuk mengikuti sejumlah kegiatan organisasi atau pengajian di lingkungan tempat tinggal kami.


Bunda dari dulu memang hanya seorang ibu rumah tangga. Tapi Bunda suka berorganisasi. Selain ikut organisasi Dharma Wanita di kantor almarhum bapak, dulu Bunda juga ikut sejumlah organisasi wanita lainnya. Tak heran, meski sudah berusia 60 tahun, hingga saat ini Bunda tetap aktif ikut kegiatan organisasi di kantor almarhum Bapak. Bahkan Bunda sudah dianggap sepuh dan dijadikan penasehat pada sejumlah organisasi yang diikutinya.


Kami memang tinggal berdua di rumah sejak Bapak meninggal lima tahun lalu karena usia yang sudah lanjut. Bunda memilih tetap tinggal di rumah peninggalan Bapak. Padahal tiga orang kakakku, Kak Ratna, Kak Ratih dan Bang Rano mengajak Bunda tinggal bergantian bersama mereka. Kata mereka biar Bunda tidak kesepian, karena ada cucu-cucu yang menghibur Bunda. 


Tapi Bunda menolak. Kata Bunda ia lebih suka tinggal di rumah yang dibangun Bapak bersama Bunda. Rumah yang penuh kenangan, suka dan duka dilewati Bunda bersama Bapak di rumah itu. Karena itu Bunda tidak ingin meninggalkan rumah kami. Kata Bunda biar kakak-kakakku itu saja yang mengunjungi Bunda.
Sejak ditinggal oleh Bapak, Bunda tidak pernah kelihatan kesepian. Karena memang Bunda sudah cukup disibukkan dengan aktivitasnya di sejumlah organisasi dan pengajian.


Aku sendiri bersyukur karena Bunda masih diberi kesehatan lahir dan batin, sehingga masih bisa beraktifitas. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan, betapa kesepiannya Bunda menghabiskan masa tuanya, tinggal di rumah dan hanya ditemani pembantu.


Karena aku yang masih lajang juga bekerja seharian di kantor dan pulang sore, praktis waktuku hanya ada pada malam hari untuk Bunda, sekedar menemani mengobrol sambil menonton televisi. 


Namun sekarang kebiasaan Bunda yang banyak berubah, tentu menjadi beban pikiranku. Aku tidak ingin Bunda memendam masalahnya sendiri, sehingga Bunda jatuh sakit. Kalau sudah begitu pasti aku yang akan disalahkan oleh ketiga kakakku. 


Aku pernah dimarahi mereka, saat Bunda jatuh sakit setelah mengetahui aku putus dengan pacarku dua tahun lalu. Padahal hubungan kami sudah serius waktu itu dan sepakat untuk menikah. Tapi dalam perjalanan waktu, aku melihat ketidakjujuran pada Mas Dodi dan memilih putus darinya.


Bunda tentu terkejut, karena selama ini ia berharap aku segera menikah. Sebab aku satu-satunya anak beliau yang masih betah melajang. Padahal usiaku sudah 25 tahun, sudah waktunya menikah. 


Ketika itu ketiga kakakku memberikan peringatan kepadaku. Mereka menilai, sikapku sejak dulu selalu mendatangkan masalah. Mereka tidak ingin melihat Bunda sakit. 


“Kamu itu dari kecil suka membuat masalah. Tahu aja anak bungsu banyak tingkahnya. Sekarang kamu sudah besar, sudah dewasa, jangan buat beban pikiran Bunda terus. Kasihan Bunda!” Omel Kak Ratna.


Sementara Kak Ratih dan Bang Rano lebih suka menasehatiku dengan omongan yang lebih lembut, namun tetap mengingatkanku untuk tidak membuat masalah yang bisa membebani pikiran Bunda. 


Sejak kejadian itu aku mulai mengubah sikap. Kebiasaanku yang dulu suka mengadu sambil menangis ke Bunda sudah aku tinggalkan. Kalaupun aku mau bercerita ketika ada masalah, biasanya aku menyampaikannya dengan cara yang tenang dan seakan masalah itu tidak besar, sehingga Bunda tidak kaget dan jatuh sakit.


Saat ini aku sudah menemukan pengganti Bang Dodi, Mas Tri namanya. Kami pun sudah sepakat untuk menikah. Meski tidak bertunangan, tapi kami berdua menyatakan kepada Bunda akan menikah dalam tahun ini, setelah tugas belajar dari kantor Mas Tri selesai tiga bulan mendatang. 


“Udah istirahat, Non? Jangan melamun terus,” Santi rekan kerjaku membuyarkan lamunanku.
“Oh ya, bareng ke kantin ya,” Aku cepat-cepat membereskan berkas-berkas di meja kerja.
“Ada masalah apa sih? Pasti masalah dengan Mas Tri, ya? Atau kaget dipromosikan bos ke jabatan baru?” Santi memberondongku dengan pertanyaan saat kami duduk di kantin.
“Bukan…” aku menggeleng lemah, mengisap air jeruk.
“Terus….masalah apa?”
“Atau mikir bayar kartu kredit! hahaha…” Santi terbahak, namun aku hanya tersenyum kecut.
“Aku mikirkan perubahan sikap Bunda,” akhirnya aku bercerita juga.
“Berubah? Memang ada masalah apa dengan Bundamu?”
“Itulah yang aku pikirkan. Aku sendiri tidak merasa membuat masalah. Makanya aku bingung. Ada apa dengan Bunda?”
“Ada apa denganmu kali,” Santi tergelak
Aku menggambarkan tentang perubahan sikap Bunda yang tidak biasanya. Aku juga mengungkapkan kekhawatiranku, kalau Bunda memendam masalah karena sikap atau masalah aku. Namun aku tidak tahu, karena aku sendiri tidak merasa ada masalah.
“Jangan-jangan Bundamu kesepian kali,” Santi mencoba menganalisa.
“Atau….” Santi mengerlingkan matanya, nakal.
“Ahh…Bunda tidak lagi memikirkan hal itu. Kamu ini ada-ada saja,” aku menepis pikiran nakal Santi.
“Emang kamu pikir aku mau bilang apa. Maksudku jangan-jangan Bundamu ingin kamu cepat-cepat nikah, hehehe…”
“Menyesal aku cerita kamu, bukan bantu mikir malah ngejek aku. Udah ah, masuk yuk,” aku berdiri meninggalkan Santi yang senyum-senyum melihat kekesalanku.
****
Di atas motor dalam perjalanan pulang ke rumah, aku masih teringat dengan kata-kata Santi tadi. Jangan-jangan Bunda memang memikirkan tentang aku, tentang hubungan dengan Mas Tri yang sedang mengarah ke pernikahan. 


Tapi kami berdua kan sudah berjanji akan menikah jika Mas Tri telah selesai mengikuti pendidikan kenaikan pangkat di kantornya. Jadi apa lagi yang dipikirkan Bunda.
Kalau masalah biaya pernikahan tentu sudah ditanggung oleh Mas Tri dan keluarganya. Kalaupun ada tambahan dari keluarga kami, aku juga mempunyai tabungan. Jadi masalah itu tidak perlu menjadi beban pikiran Bunda. 


“Tiiiiiiiiiittttttt!!!! Jalan, Mbak! Melamun aja!” aku tersentak ketika seorang pengemudi mobil berteriak, karena motorku masih diam di urutan paling depan di lampu merah.
Aku hanya nyengir kikuk dan cepat-cepat menjalankan motorku. Namun kejadian barusan tidak membuatku melupakan tentang Bunda.
“Ada apa dengan Bunda, ya. Apa masalah dengan kakak-kakakku yang membuat Bunda sering melamun.”
“Atau Bunda tengah mengalami masalah di luar rumah, cukup berat dan Bunda tidak mau merepotkan kami untuk berbagi masalah itu.”


Berbagai asumsi muncul di pikiranku tentang sikap Bunda. Namun tidak ada asumsi kuat yang bisa aku jadikan alasan. Selama ini Bunda sering menceritakan masalahnya dengan kami, anak-anaknya.
Memang tidak terbuka seluruhnya, namun Bunda selalu meminta pendapat jika ada masalah yang tidak bisa diselesaikannya sendiri. Tapi mengapa sekarang Bunda berubah. Jika ada masalah yang cukup berat, biasanya Bunda sudah mulai memanggil anak-anaknya, sekedar bertukar pikiran dan meminta sumbang saran. 


“Sepertinya aku harus cepat-cepat membicarakan masalah ini dengan kakak-kakakku, kalau tidak bisa-bisa aku yang kena getah dituduh penyebab masalah Bunda,” batinku.
Sesampai di rumah, kulihat Mbak Asih sedang menyiram bunga. “Bunda mana?” tanyaku.
“Biasa, di kamar,” Mbak Asih menjawab pelan.
“Sudah lama?”
“Sejak ba’da Ashar, belum ke luar kamar sampai sekarang.”
Aku melirik jam tangan, sudah hampir setengah enam. Berarti kurang lebih satu setengah jam Bunda di kamarnya. 


Padahal biasanya jam segini, Bunda akan santai di teras depan ditemani secangkir teh. Kadang Bunda menyempatkan diri berbincang sejenak dengan tetangga yang lewat di depan rumah, atau ibu-ibu muda yang jalan-jalan sore membawa bayi dan balita mereka. 

“Mbak, aku tinggal ya, mau mandi dulu.”
Melewati kamar Bunda, aku mencoba untuk mengintip dari lubang kunci. Tapi aku mengurungkan niatku. Sejak kecil kami diajar untuk bersopan santun jika hendak memasuki kamar saudara sendiri, apalagi orang tua. Hal itu pun dilakukan jika memang benar-benar ada keperluan. 


“Kamar tidur adalah ruang pribadi setiap anggota keluarga, jadi kalau kalian ada perlu atau mereka sendiri yang memanggil, tolong ketuk pintu kamar sebelum yang punya mengizinkan masuk,” begitu Bunda mengajarkan kami tentang sopan santun meski di dalam keluarga sendiri.


Jadi meski pun keingintahuanku yang cukup besar untuk melihat apa yang Bunda kerjakan di kamarnya, tapi aku tidak berani mengintip apalagi mengetuk kamar dan berpura-pura bertanya. Toh aku merasa tidak punya hal benar-benar perlu disampaikan atau ditanyakan ke Bunda.


Kalau masalah sikap Bunda, aku pikir sekarang bukan waktu yang tepat. Lagi pula aku bisa bertanya jika Bunda sedang santai di ruang keluarga. Kalau malam hari kan cuma aku dan Bunda di rumah, jadi kami leluasa berbicara.


Di dalam kamar mandi, aku masih memikirkan Bunda. Keingintahuanku makin besar dan memuncak. Apalagi kemarin aku sempat bertanya kepada Mbak Asih tentang apa yang dikerjakan Bunda di kamarnya akhir-akhir ini. 


“Bunda ngapain aja di kamar? Melamun, menangis atau tidur?” Berondongku pada Mbak Asih yang baru keluar dari kamar Bunda, karena dipanggil Bunda untuk mengantarkan minuman.
“Bunda cuma duduk di depan meja, ada buku dan pena di dekatnya.”
“Tadi waktu Mbak masuk, Bunda pas sedang apa?”
“Seperti sedang melamun, melihat jauh ke luar gitu.”
“Muka Bunda sedih atau sedang memikirkan sesuatu?”
“Dua-duanya, seperti sedang memikirkan sesuatu dan sedih.”
“Hhhmmmm…trus di buku Bunda ada tulisan apa,” aku makin penasaran.
“Aduh Dedek, itu Mbak tidak perhatikan. Mbak langsung keluar.”


Mengingat kembali apa yang disampaikan Mbak Asih, aku semakin merasa harus secepatnya membicarakan masalah ini dengan kakak-kakakku. 


Saat makan malam berdua dengan Bunda, aku mencoba menyuri-nyuri pandang pada Bunda. Tapi aku tidak melihat sesuatu yang aneh atau yang disembunyikan Bunda. Air muka Bunda tetap tenang di balik wajahnya yang masih menyisakan kecantikan di masa muda.


“Ada apa Dedek, dari tadi Bunda lihat kamu nyuri-nyuri pandang ke Bunda. Ada masalah ya, sayang?”
Aku terkejut, tapi cepat-cepat menjawab, “Ah tidak ada Bunda. Dedek cuma heran kok wajah Bunda akhir-akhir ini kelihatan pucat,” aku mulai memancing Bunda.


“Masa sih? Oh ya, mungkin susu dan vitamin Bunda udah dua hari habis. Kamu yang Bunda minta tolong beli, masih lupa terus membelikannya,” jawab Bunda sambil bangkit berdiri, dan meninggalkan aku yang bengong.


Aku tersadar dan tak menyangka jawaban Bunda seperti tadi. Memang kewajibanku yang membelikan susu kalsium dan vitamin untuk Bunda. Tapi aku benar-benar lupa, sampai-sampai stok susu dan vitamin Bunda habis aku belum juga membelikan yang baru.


“Maafkan Dedek ya, Bunda. Besok pasti udah dibelikan,” aku mencium Bunda yang duduk menonton TV.
“Ah tak apa-apa, Bunda tahu kami pasti lagi kangen ama Mas Tri, sampai jadi pelupa,” Bunda tertawa membelai rambutku, dan aku hanya mesem-mesem.


Pukul sembilan malam Bunda pamit ke kamar, aku pun masuk kamar. Malam ini aku harus memberitahukan kepada kakak-kakakku tentang pertemuan besok untuk membicarakan sikap Bunda.
“Besok jam 3-an kumpul di rumah Kak Ratna, tak usah banyak tanya dulu, harus datang! Oke,” begitu pesan singkatku pada Kak Ratih dan Bang Rano.
“Besok kami bertiga akan kumpul di rumah kakak jam 3-an, jangan banyak tanya dulu, besok saja aku ceritakan, oke!” pesanku pada Kak Ratna, kakak tertuaku. 


Aku bersyukur tidak ada pertanyaan dari mereka bertiga, jadi aku tidak perlu capek menerangkan, toh besok semua akan menjadi lebih jelas.
Besok adalah hari Sabtu, jadi aku pulang kerja lebih awal dan bisa langsung ke rumah Kak Ratna.
“Dasar si manja, dia yang bikin janji dia yang telat datang, huuu!” aku diomelin oleh Kak Ratna, saat baru muncul di pintu pagar.
Saat aku sampai, mereka bertiga sedang duduk mengobrol, sambil mengawasi tiga orang keponakanku yang asyik bermain.
“Maafin donk, biasa macet, hehehe,” jawabku, sambil mencium satu persatu ponakanku yang sedang asyik bermain.
“Udah, cepat ceritakan ada apa sih? Kaya masalah penting saja.”


Aku menceritakan sikap Bunda yang berubah akhir-akhir ini dan aku menceritakan kekhawatiranku jika Bunda sedang dilanda masalah berat. Selain itu aku juga menambahkan kalau aku tidak membuat masalah yang mungkin bias menambah berat beban pikiran Bunda.


“Benar kamu tidak ada membuat masalah? Yang benar aja, awas kalau kamu kamu lagi biangnya,” Kak Ratna yang cerewet langsung merespon saat aku selesai bercerita.
“Sumpah kak!”
“Alaa, bohong kali!” kali ini Kak Ratih yang memberondong.
“Duh kenapa sih pada tidak percaya…” mataku mulai panas menahan tangis.
“Udahlah jangan menuduh gitu, aku yakin kali ini si Dedek pasti jujur. Kayaknya kita harus menanyakan masalah ini ke Bunda, jangan sampai kita terlambat dan menyesal,” Bang Rano menengahi.


Bang Rano mencarikan solusinya. Katanya malam ini Kak Ratna menginap di rumah Bunda. Selama ini di sana perhatikan sikap Bunda dan tak perlu ditanya dulu. Besok agak siangan Bang Rano dan Kak Ratih akan datang menyusul. Mereka berdua juga akan memperhatikan sikap Bunda untuk membuktikan kekhawatiranku.


“Malam harinya baru kita semua bertanya pada Bunda, ada apa dengan Bunda akhir-akhir ini. Oke!”
Sesuai dengan rencana, Kak Ratna datang pada malam hari setelah Magrib. Ia hanya ditemani Loni, anak semata wayangnya. Suaminya, Bang Surya, menjaga rumah. 


Bunda tampak senang dengan kedatangan Kak Ratna, apalagi bertemu Loni yang sudah duduk di kelas satu SD itu. Saat makan malam, Bunda lebih sering bertanya pada Loni yang juga antusias menjawab pertanyaan Bunda.
“Wah kita berdua jadi dicuekin nih, kasian deh kita,” Kak Ratna menyelutuk.
“Bunda kan kangen sama cucu Bunda yang cantik ini, lagian mamanya udah hampir dua bulan tidak ke sini sih.”
“Tapi kalau telpon kan sering, Bun,” Kak Ratna membela diri.
Saat menonton TV, Bunda juga lebih asyik menemani Loni memainkan telepon genggam Kak Ratna yang ada kameranya. Bunda kadang bergaya dengan lucunya dan Loni yang mengambil foto tertawa-tawa melihat sikap Bunda.
“Mana sikap Bunda yang berubah? Biasa saja kok,” bisik kakakku.
“Iyalah, Bunda kan sedang melepas kangen sama Loni,” desisku.


Malam itu memang Bunda tidak seperti biasanya. Mungkin Bunda kangen dengan Loni, jadi malam itu Bunda menemani Loni sampai tertidur. Setelah itu baru Bunda masuk kamar. 


Keesokan pagi harinya giliran Kak Ratih dan Bang Rano yang datang hampir berbarengan. Keduanya tidak membawa pasangan masing-masing, kecuali anak mereka yang sama-sama masih semata wayang, Randi dan Mona.
“Waduh, mimpi apa Bunda semalam. Hari ini ini anak dan cucu Bunda kumpul semua,” Bunda memeluk kedua anak dan cucunya.
“Kebetulan kali, Bun,” Bang Rano yang menjawab.
Pagi hingga siang kami lebih banyak mengobrol berempat, sementara Bunda lebih asyik menemani ketiga orang cucunya bermain. Bahkan Mbak Asih kadang ikut turun membujuk salah seorang dari ketiga bocah itu jika ada yang mengambek.


“Udahlah Bun, jangan dilayan terus mereka. Bunda istirahat saja,” ujar Kak Ratna.
“Iya Bunda nanti kecapekan. Bunda duduk aja di sini sama kita, masa dari tadi lebih asyik dengan cucu-cucunya,” Kak Ratih menimpali.
“Kalian belum tahu rasanya menjadi nenek. Suatu saat kalian akan mengalami hal yang Bunda alami sekarang,” jawab Bunda.


Kami berempat hanya berpandangan dan tidak membantah kata-kata Bunda. Sepertinya ketiga kakakku sadar kalau mereka memang tidak setiap bulan mengunjungi Bunda, kecuali telepon. Jadi wajar Bunda kangen dengan bocah-bocah yang sedang lucu-lucunya itu.


Usai makan siang, Bunda memilih beristirahat di kamar. Sementara ketiga bocah itu juga lebih dulu tertidur karena kecapekan bermain.


Tidak ada yang kami kerjakan berempat kecuali bergeletakan di karpet ruang keluarga menonton TV. Bang Rano yang jago tidur ternyata lebih dahulu mendengkur. Tinggal kami bertiga yang saling berebut menukar chanel TV.


Aku begitu menikmati suasana bersama kedua kakak perempuanku. Sangat jarang kami berkumpul dalam suasana yang begitu santai ini. Aku merasa kembali pada masa kecil, kami berempat sering kena omel Bunda bahkan dimarahi oleh Almarhum Bapak, karena sering ribut kecil setiap menonton TV.


Suara ketiga bocah membangunkan kami yang ternyata ikut tertidur. “Maaaaaa…mimiknya manaaa..!!!” suara Randi anak Kak Ratih melengking dekat telingaku.
“Haus papa…mau air es…!!!” giliran Mona anak Bang Rano yang merengek menarik-narik hidung papanya supaya bangun.
Sementara Loni tidak ikutan merengek, cuma ia hanya minta perhatian Kak Ratna yang masih molor.
“Ngomong-ngomong Bunda dari tadi belum keluar kamar,” Kak Ratih mengingatkan kami akan Bunda yang belum juga keluar kami sejak dari siang. Ketika itu ketiga bocah sudah asyik dengan mainannya.


“Iya, ini kan sudah sore. Hampir jam empat, kok Bunda belum keluar kamar ya?”Bang Rano menimpali.
“Nah, inilah keanehan dan perubahan sikap Bunda. Lebih suka di kamar meski udah sore. Biasanya Bunda santai di teras kalau tidak sedang ada kegiatan di luar,” kataku
“Iya juga, Bunda ngapain sih di kamar, betah betul?”
“Hmmmm…gimana kalau aku coba intip dari lubang kunci,” Bang Roni memberi ide.
“Huss…tidak sopan,” kami bertiga mencegah hampir bersamaan.
“Tapi kita kan harus tahu, ada apa dengan Bunda. Biar saja ini kan demi kebaikan kita semua,’ kakak laki-lakiku satu-satunya itu meninggalkan kami menuju kamar Bunda di bagian depan.
Sekitar 10 menit Bang Roni kembali. Wajahnya menunjukan sedang berpikir keras.
“Bunda sedang apa?” berondong kami berbarengan.
“Hmmm, Bunda sedang duduk di depan meja. Kadang beliau menuliskan sesuatu di buku dan kemudian merenung lama.”
“Hmmm, Bunda sedang menulis apa ya? Apa Bunda sedang mengisi buku harian, curhat gitu?”
“Ah…tidak mungkin. Bunda bukan tipe seperti itu. Dari dulu tidak pernah mengisi buku harian,’ sergah Kak Ratna.
“Jadi Bunda ngapain? Atau, Bunda sedang menulis surat wasiat?”
“Ahhhh, gak mau. Aku masih membutuhkan Bunda!” sergahku.
“Husss, jaga mulut! Memangnya kamu ingin Bunda cepat meninggal?” Bang Rano mendelik pada Kak Ratih.
“Tapi Bunda sedang ngapain? Ayo kita tanya saja!” Kak Ratna berdiri. Namun dicegah di oleh Bang Rano.
“Nanti malam sajaaaa…!” ia menarik tangan Kak Ratna.


Menjelang magrib Bunda keluar kamar untuk mandi dan kemudian masuk lagi. Tak lama Bunda keluar, dengan raut wajah yang sudah lebih segar. 


Saat makan malam, kami berempat berusaha bersikap wajar, meskipun sudah tidak sabar untuk bertanya kepada Bunda. Namun Bang Rano bisa mengendalikan suasana, sehingga pembicaraan hanya yang ringan-ringan saja.


“Bunda sayang….” Bang Rano memulai bicara saat kami sudah berkumpul di ruang keluarga menonton TV.
“Hmmm, ada apa nih? Ada maunya nih kayaknya anak Bunda.”
“Bunda tinggal di rumah Rano saja ya, Bun.”
“Kenapa?” Bunda menatap kami bergantian.
“Iya, soalnya akhir-akhir ini Bunda sepertinya kesepian, sering melamun…”
“Tadi saja Bunda kayanya lebih suka mengurung diri di kamar. Ada apa sih, Bun?” Kak Ratna sudah tidak tahan masuk pada pokok masalah.


“Bunda ada apa sih? Bunda cerita donk sama kita. Kami tak mau Bunda jatuh sakit kalau memendam masalah sendiri,” sekarang giliran Kak Ratih. Aku cuma mengangguk-angguk, mengiyakan. 


Bunda menatap kami bergantian dengan penuh keheranan. Sejenak Bunda terdiam dan tampak berfikir. Tak lama sebuah senyum mengembang di bibir Bunda.


“Kalian pasti ingin tahu apa yang sedang Bunda kerjakan di kamar akhir-akhir ini ya?”
“Betul, Bun!” jawab kami hampir berbarengan.
Bunda bangkit berdiri, dengan isyarat Bunda meminta kami tetap diam di kursi. Bunda menuju kamarnya, tak lama Bunda membawa sebuah buku.
“Ini jawabannya,” Bunda memperlihatkan sebuah buku tebal, semacam buku agenda.
Kami hampir berebutan mengambil buku itu. Kak Ratna yang berhasil mengambil lebih dulu. Kami merapat ke dekat dia yang sudah tak sabar untuk membukanya. 


“Puisiiiii…..! Bunda menulis puisi?” aku keheranan melihat halaman demi halaman yang berisi puisi.
“Jadi Bunda selama ini Bunda mengurung diri di kamar hanya karena menulis puisi ini?” Kak Ratna yang bersuara.


Bunda tersenyum dan mengambil duduk di tengah-tengah kami. Ia mengambil buku yang ada di tangan Kak Ratna.


Bunda kemudian bercerita kalau belakangan ini beliau memang sedang suka menulis puisi. Semua itu dimulai ketika Bunda melihat begitu banyak persoalan dan masalah di tengah masyarakat bahkan negara ini.
Bunda mengetahui masalah itu dari melihat dan mendengar langsung, atau menyaksikan dari layar TV. Semua itu, kata Bunda, membuat ia jadi sering merenung, sebagai bentuk keprihatinan.


Kata Bunda, bentuk keprihatinan terhadap berbagai masalah di sekitar kita menjadi bahan renungan yang akhirnya tertuang dalam bentuk puisi.
“Yah, Bunda cuma bisa berdialog dengan pena dan buku, hasilnya puisi-puisi ini,” Bunda membuka lembaran-lembaran puisinya.
“Bunda cuma bisa mengungkapkan keprihatinan Bunda dalam puisi. Maunya sih dalam bentuk tulisan seperti opini dan dimuat di surat kabar. Tapi yah, hanya ini sebatas kemampuan Bunda,”
“Bundaaa…..Dedek pikir Bunda ada memendam masalah apa selama ini!” aku memeluk Bunda, mataku berkaca-kaca karena lega ternyata Bunda tidak ada masalah.
“Iyaaa…Bun, kami semua khawatir,” kata ketiga kakakku serempak.
Bunda tersenyum, tapi di matanya kulihat air mata mengenang. Mungkin Bunda terharu karena kami begitu merisaukannya.
“Maafkan Bunda ya kalau telah membuat kalian khawatir. Memang Bunda kalau sedang ada inspirasi tidak bisa ditahan, harus langsung ditulis,” tutur Bunda.


Kami membuka lembar demi lembar halaman puisi Bunda yang ditulis dalam tulisan sambung. Ada puisi tentang sulitnya mendapatkan minyak tanah, ada tentang flu burung, kecelakan kapal, harga beras, sampah dan ada satu puisi tentang bunga.


“Bunda, puisi berjudul bunga ini apa maksudnya?” tanya Kak Ratih, ketika membalik halaman yang berisi puisi tentang Bunga.
“Coba kalian baca, pasti tahu maksud dari puisi Bunda,” jawab Bunda tersenyum dan melirikku.
Kak Ratih membacakan puisi berjudul Bunga itu.
Bunga..
Tanaman yang indah, cantik dan harum
Sejak lama aku begitu mendambakan bunga-bunga itu hadir di tamanku
Akhirnya ketika waktunya tiba, aku mendapatkan bunga-bunga itu
Ada tiga bunga di tamanku
Bunga yang menawan, karena bentuknya yang rupawan
Bunga yang wangi karena warnanya berseri
Bunga yang merekah karena kelopaknya yang indah
Dua bungaku sudah berkembang
Bahkan sudah ada tumbuh bunga-bunga kecil yang makin menyemarakan tamanku
Membuat hidupku makin indah, dan bahagia
Tapi sayang.
Satu bungaku masih betah untuk belum berkembang
Padahal sudah ada kumbang yang datang
Tapi sepertinya bungaku itu masih bimbang
Oh, bungaku sayang
Apa yang engkau tunggu gerangan?
Cepatlah berkembang


“Hahaha….ini puisi pasti menyindir si Dedek. Bunda sudah tidak sabar kamu untuk menikah dan punya anak, hahaha…!!!” Kak Ratna tertawa ketika puisi itu selesai dibaca, dan semuanya tertawa.***






















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung