Loading

Senin, 08 Maret 2010

Dari Sebuah Pergaulan

Semakin banyak bergaul,semakin saya mengenal berbagai karakter kawan, rekan dan kenalan .Ada yang apa adanya, polos, jujur, baik, bisa dipercaya. Tapi ada juga yang plintat plintut,s uka menghasut, tukang fitnah, tak konsisten dan pembohong.

Kalau dengan sifat-sifat buruk mereka itu hanya merugikan mereka, bagi saya tidak masalah, namun kadang sifat mereka itu merugikan kita. Bahkan mengkambinghitamkan kita. Rasanya muak, jenuh dan ingin menjauh dengan lingkaran itu. Tapi kembali saya sadar, banyak hikmah yang bisa dipetik.

saya pernah kena fitnah akibat keplintat plintutan seseorang. saya dikambinghitamkan.Di belakang dia bilang A, di depan saya dia mengatakan B dan mengakui kesalahannya. Secara tidak sadar dia sudah mengakui di depan orang banyak, kalau dia manusia plintat plintut dan tidak konsisten.

Namun, saya tidak mau membalas dan membuka kedoknya. Biarlah orang lain melihat fakta yang ada dan bisa menilai sendiri. Dalam diam mereka saya yakin sudah bisa menilai sendiri, meski tidak berani mengungkapkannya. 

Saya juga pernah korban hasutan karena ketidakpuasan seseorang pada saya.Teganya dia menghasut dan mempengaruhi semua orang .Namun,yang namanya kebenaran akan terungkap dan yang tersisa adalah rasa malu dia ketika fakta dibeberkan di depan matanya.

Ah...inilah kehidupan. Semua yang kita alami adalah proses pendewasaan pemikiran dan cara kita bersikap. Saya bersyukur ketika saya dihadapkan dengan manusia-manusia seperti itu, saya masih bisa menahan emosi, menunjukan kwalitas emosi saya.

Saya tidak mau menjatuhkan air mata seseorang di depan orang banyak, meski itu bisa saya lakukan. Karena jika saya nekat, malah yang akan jelek citranya adalah saya. Lebih baik mengalah dan menunggu Tuhan yang memberikan pelajaran.

Alhamdulillah, semua menjadi kenyataan .Air muka seseorang yang pernah menjelek-jelekan saya dijatuhkan orang lain di depan orang banyak. Merah padam bagai udang wajahnya.S aya mau tertawa ,tapi saya masih punya hati dan perasaan sehingga hanya menahan senyum.

Pengalaman itu menghasilkan sebuah kata bijak dari saya "hadapailah kezaliman itu dengan sabar, karena nanti Tuhan yang akan membalas orang yang menzalimi kita,"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung