Loading

Sabtu, 20 Maret 2010

Fisika Oh Fisika...Curcol Mantan Siswa Sok Badung

Opss...jangan berpikir negatif dulu membaca judul di atas. Kalau kalian berpikiran saya adalah siswi yang bandel, kurang asin dan sejenisnya, itu kesalahan tidak terlalu fatal hehehe...ya meski agak bandel yang jelas saya pintar.

Yang jelasnya lagi saya adalah siswa yang kreatif *narsis mode on*, karena dengan cara berpikir saya yang lain dari siswi lain, saya bisa membuat guru fisika menjauh dari meja saya dengan hanya satu rayuan maut....upsss...salah.satu kalimat pamungkas. Mau tahu...yuk maree dibaca dengan penuh seksama dan dalam tempo yang sesingkatnya....*lebay*

Kisah ini ketika saya duduk di kelas satu SMU.Waktu itu saya berada di kelas 1.3, yang mana merupakan kelas unggulan alias kelas bagi anak-anak pintar macam saya *sumpah ga maksud menyombongkan diri*

Sebelum saya masuk ke dalam kisah inti, lebih baik saya ceritakan dulu tentang pelajaran fisika yang tidak nempel di hati saya. Jadi,sejak mengenal pelajaran yang banyak rumusnya itu,tepatnya mulai kelas satu SMP saya tidak menyukai pelajaran fisika, entah mengapa saya juga tidak tahu persis.


Namun,saat ini setelah saya lepas dari pelajaran yang bikin kepala saya nyut-nyutan itu, saya menyimpulkan kalau semua itu disebabkan oleh cara mengajar gurunya yang kurang kreatif dan sang guru yang terlalu serius.*Maafkan daku pak dan bu guru,ini kritik membangun*.

Waktu kelas satu,saya diajar oleh guru yang perempuan. Orangnya hitam manis, kecil,imut dan lumayan enak dipandang dari jauh. Namun, sang guru jarang tersenyum dan hanya membebani kami dengan dasar-dasar fisika yang menurut saya pribadi tidak menarik.*Maaf ya mbahnya fisika*

Semester dua terjadi pergantian guru. Saya berharap guru yang mengajar bisa membuat saya mencintai fisika. Tapi ternyata do'a saya belum dikabulkan Tuhan hik hik...Kali ini gurunya adalah pria dengan wajah serius dan juga jauh dari yang namanya menarik bibir ke samping alias senyum. Bahkan kata-katanya kadang nyelekit. *Untung zaman itu belum ada FB, kalau ada status saya mungkin udah macam-macam hehehe...ga bercanda kok...takuuut kena somasi*

Bahkan parahnya lagi, dia bukan guru bidang studi fisika alias guru yang diperbantukan karena sekolah kami kekurangan guru. Duh,bertambahnya penderitaan saya kalau melihat daftar pelajaran fisika tiap dua kali seminggu. Jadilah pelajaran yang nyangkut hanya beberapa persen saja, namun anehnya nilai saya tetap tinggi hihihihi...hebatkan...?!

Di kelas dua guru fisika lumayan menarik hati. Seorang ibu yang keibuan, air mukanya menyejukan dan cara mengajarnya yang lumayan membuat saya mulai menyukai fisika. Tapi, sayang beribu sayang kau sudah ada yang memiliki....ooopppss...itu kan lirik lagu....maksudnya si ibu guru hanya mengajar satu semester.

Semester dua siapa yang mengajar ya ? oh ya...ibu berwajah imut dan dia adalah ibu dari teman SD saya dulu. Lumayan enak juga cara ngajarnya dan saya pun mulai mencintai pelajaran fisika.

Sedangkan di kelas tiga SMP...hmmmm...siapa ya guru fisikanya dan gimana ciri-cirinya...? sumpah deh saya lupa....yang jelas fisika tetap pelajaran paling belakang yang saya suka.

Jadi, waktu melanjutkan ke SMU saya sudah bertekat harus bisa sepenuhnya mencintai fisika seperti saya suka dengan pelajaran lain. Tapi,sejarah seperti berulang, guru fisika adalah bapak-bapak yang terlalu serius.

Apalagi di SMU pelajaran fisika sudah mulai mendalam. Entah mengapa saya seperti kembali ke masa duduk di kelas satu SMP. Tak ada yang nyangkut di otak rumus-rumus yang diberikan.

Jadi, disinilah awal kisah bagaimana saya "mengusir" guru fisika yang juga wali kelas saya itu. Suatu hari beliau menerangkan tentang bejana berhubungan diikuti rumus-rumus yang hanya singgah satu detik di kepala saya.

Seperti biasa, setelah memberikan contoh soal dan penyelesaian, beliau memberikan soal latihan yang hampir serupa dengan latihan sebelumnya. Usai memberikan latihan, pak guru kami itu sibuk mondar mandir di sekitar kelas mengawasi kami.

Dan...ia pun berhenti di depan meja saya yang terletak di deretan depan .Sumpah, saya merasa tidak nyaman.Bukan karena ada bau-bau aneh...tapi karena saya merasa mata si bapak mengawasi gerak gerik tangan saya.

Padahal sumpah, saya tidak mengerti dengan soal yang diberikan. Kalaupun ada coret moret angka-angka di keras buram saya, itu hanya akal-akalan saya saja hihihihi..

Sedetik ,dua detik,tiga detik....satu menit, dua menit, iga menit......lima menit duh saya merasa tertangkap basah tidak mengerti dengan apa yang baru dijelaskan beliau. Padahal tadi waktu beliau menjelaskan,s aya yang antusias menyambung kalimat-kalimatnya."Bejana berhubu......" kata beliau
saya jawab" ngaaaaaannnnnn," dengan kencangnya untuk menyamarkan ketidakmengertian saya.

Otak saya yang encerpun berpikir bagaimana cara agar si bapak bisa berpindah tempat dan saya bebas melamun hihihihi...Dan keluarlah sebuah ide brilliant.T api untuk mengeluarkan jurus itu saya harus menarik nafas berulang kali dan mengeluarkannya pelan-pelan.

Kemudian saya mencoba mengatur kalimat yang cocok dan nada suara yang elegan xixixi...dan akhirnya sebuah kalimat meluncur dari bibir imut saya."Pak..tolong donk pindah tempat berdirinya, saya grogi nih dilihatin terus dari tadi," ujar saya dengan gaya manja penuh kerisauan.

Geeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrr........serentak kelas heboh dengan kalimat pamungkas saya itu. Saya pun hanya mesem-mesem dengan pipi merah dadu,s ok malu.

"Ya udah, kalau tak mau dilihatin," jawab si bapak ketus sambil berpindah tempat.

Horeeee....saya memekik kegirangan dalam hati. Sementara komentar-komentar miring masih terdengar atas keberanian saya, plus biru-biru di tangan saya karena dicubit teman sebelah.*yang terakhir sumpah deh ga benar*

End...hingga kelas tiga dan ketiga saya duduk di kelas IPA pun, pelajaran fisika tetap merupakan pelajaran yang membuat otak saya panas dingin. Tapi anehnya di raport selalu tinggi.......

sekali lagi hebat kan ? tapi tunggu...kayanya ada satu angka enam di rapot saya. Duh itu angka sangat mengganggu keindahan raport-raport saya yang dihiasi angka-angka delapan, sembilan dan sepuluh...*yang terakhir 100 persen bohong*

Mengapa bisa dapat enam ? ini kisahnya. 
Waktu kelas dua SMU guru fisika saya adalah sama, serupa dan mirip serta sejenisnya dengan guru fisika waktu kelas satu SMP. Kemiripan sifat dan cara mereka mengajar membuat saya mengeluarkan sebuah kesimpulan "guru fisika adalah guru yang serius ,mahal senyum dan keningnya berkerut". Sebuah analisis anak umur bau kencur waktu itu.

Karena fisika hanya sekian persen mengisi relung hati saya.Jadi setiap pelajaran fisika saya selalu resah dan gelisah. Apalagi kalau pelajaran itu berada sebelum jam istirahat pertama.

Sebuah trik yang saya dan kawan-kawan lakukan adalah permisi ke luar kelas dan lama-lama di luar hehehehe....kalau bisa lima menit sebelum bel berbunyi kita satu persatu udah mulai minta izin. Berbagai alasan ,ada yang ke kamar mandi,ada yang mau beli pena ,ada yang mau batuk, ada yang mau kentut diluar hehehe..

Sebelumnya saya tidak mau ikut-ikutan dengan kebiasaan jelek kawan-kawan itu. Soalnya pamor saya kan sedang naik *sumpah ga bohong*. Waktu itu kelas 1 alias mau naik ke kelas dua saya kan juara umum ke tiga untuk satu sekolahan.

Hmmm...tau kan saya jadi pusat perhatian dan harus menjaga citra sebagai juara umum. Terus banyak yang ngefans dan pengin niru gaya belajar saya.*Suerrr....ga bohong*

Tapi,karena pelajaran fisika yang membuat perut saya keroncongan akhirnya saya meniru gaya dan trik sejumlah teman-teman itu. Lima menit sebelum bel tanda istirahat, saya sudah ngeloyor pergi ke luar kelas dengan alasan ke kamar mandi. Padahal saya duduk di kantin makan ketupat atau mie rebus..ajiiiipp.

Sekali, dua kali dan tiga kali lancar dan aman terkendali. Tapi,suatu hari ketika sang guru fisika izin meninggalkan kelas karena ada keperluan ke ruang guru, itulah biangnya saya dapat nilai enam di raport.

Si bapak guru meninggalkan kami dengan soal latihan yang harus diselesaikan. Seperti biasa, mereka yang jagoan nyelip sebelum jam istirahat sudah mulai keluar satu persatu. Padahal jam istirahat masih lama.

Saya pun tak mau ketinggalan. Latihan yang diberikan sang guru saya tinggalkan. Aroma sate yang dikipas Bang Son di luar halaman sekolah sudah menusuk-nusuk hidung saya dan membuat cacing di perut berjoget kelaparan.

Dengan beberapa teman saya pun meninggalkan kelas dan melenggang kangkung ke luar halaman sekolah yang pagarnya memang tak pernah di kunci. Dasar perut lapar,kami pun tak sadar kalau tempat mangkal sate itu bisa dipantau dari ruangan majelis guru. Dan....guru fisika itu melihat kami yang asyik makan sate sambil ketawa ketiwi.

Minggu berikutnya,sang guru menyatakan kekesalannya dan memberi sinyal jika ada ganjaran bagi siswa yang tidak disiplin. Tapi dengan pede dalan hati saya merasa saya tidak akan kena ganjaran. Memang ganjaran fisik dan disiplin tidak ada. Tapi pas penerimaan raport,sebuah angka enam merusak pemandangan nilai saya. Hwaaaaaaaaaa................******end

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung