Loading

Jumat, 26 Juni 2009

Ketika Musim Durian Tiba



Musim durian,musim yang selalu dinantikan. Karena musim durian bersamaan dengan musim liburan sekolah yakni bulan Juni. Liburan sekolah dan musim durian, sebuah masa yang sangat saya tunggu 15 tahun lalu.

Mengapa, karena liburan kenaikan kelas tentu tidak belajar dan diisi dengan acara menunggu pohon durian. Kebetulan keluarga besar kami punya kebun durian. Jaraknya ada tiga kilo dari rumah. Setiap hari dengan berjalan kaki ramai-ramai,kami menuju kebun durian dan tak lupa membawa bekal makanan.

Saya tak tahu persis berapa luas kebun durian itu, yang jelas jangan bayangkan seperti kebun singkong yang mana durennya ditanam berdekatan, tapi agak terpisah hingga puluhan meter.


Jumlah batang pohon durian juga saya sudah lupa, tapi setidaknya saya masih ingat namanya .Ada durian pusaro atau pusara, karena letaknya di tengah pemakaman keluarga. Istimewanya pohon durian di pemakaman ini, boleh diambil siapa saja selain keluarga besar kami. Jadi,kalau ada orang lain kebetulan lewat disana dan durian ada yang jatuh, dia berhak untuk mendapatkannya.

Ada durian si sirah atau merah.S esuai namanya, durian ini warna dagingnya merah. Letaknya di belakang pondok di kebun kami. Kemudian durian si semut, karena durinya kecil-kecil dan kalau kena kulit perihnya seperti digigit semut.

Terus ada durian si gampo atau gempa. Durian ini diberi nama seperti itu karena ukurannya yang sangat besar, bisa dua kali ukuran kepala orang dewasa. Setiap jatuh, juga menimbulkan bunyi yang lumayan keras. Sayangnya durian ini setiap jatuh selalu retak bahkan pecah, karena lokasi pohonnya dekat tanah terbuka atau tidak ada rumput.

Selain itu ada durian sawah,karena letaknya di pinggir sawah. Mencari durian yang satu ini yang cukup sulit. Karena selain letaknya di lereng bukit ,juga sering masuk dalam sawah .Kalau musim tanam tiba, durian sering hilang dalam lumpur. Jadi kami harus mencari sampe ke lumpur.

Ada lagi durian kulum-kulum. Diberi nama seperti itu karena ukuran bijinya yang sangat kecil, sehingga bisa dikulum dalam mulut. Satu lagi ada durian si sudut, karena letaknya di sudut.

Karena kami keluarga besar,j adwal menunggu durian dibagi oleh nenek sepupu yang punya tanggungjawab menjaga kebun tersebut. Biasanya satu keluarga diberi kesempatan satu hari satu malam menunggui seluruh isi kebun.

Jadi, rezeki tergantung keberuntungan jumlah durian yang jatuh pada saat itu. Aturannya, anggota keluarga lain dilarang mengambil jatah keluarga yang sedang dapat giliran menunggui durian, kecuali durian pusaro.

Ada yang beruntung satu malam bisa dapat banyak durian dan kemudian menjualnya.Yang pecah dibuat asam durian atau tempoyak dan juga dijual.Uangnya untuk biaya keperluan sekolah tahun ajaran baru.

Setelah giliran semua keluarga dapat, biasanya ada giliran semua keluarga boleh menunggu durian. Tergantung dari kejelian dan kecepatan mengejar durian yang jatuh. Inilah yang paling asyik, karena tak jarang kami saling sikut, dorong dan perang mulut. Tapi, semua itu berakhir damai.

Yang namanya durian, bisa mengalahkan rasa takut. Pemakaman yang identik dengan keangkeran, menjadi tempat biasa bagi anak-anak seusia saya saat itu. Siang bolong atau malam, kuburan menjadi tempat menunggu durian pavorit. Kadang, sekarang jika saya mikir, betapa beraninya kadang sendiri di kuburan hanya demi menunggu durian.

Mengapa durian pusaro menjadi pavorit, ya karena buahnya cepat jatuh dan lokasi pusara yang datar. Jadi kalau durian jatuh, tak susah mencarinya.

Menunggu duren tak lagi saya lakukan ketika sudah duduk di bangku SMP. Selain, masalah rebutan batang duren antar keluarga membuat saya malas untuk menunggu durian. Bahkan, setelah itu keluarga saya tidak pernah mendapat giliran menunggu durian.

Selain itu, tak jarang durian yang baru setengah matang sudah dijual ke tengkulak. Sehingga kami anak cucu tak dapat apa-apa selain sisa-sisa. Masa-masa indah waktu SD tak ada lagi. Semua itu cuma kenangan saja.

Saat ini,15 tahun setelah itu ketika saya berada di rantau. Setiap musim durian tiba selalu membuka lembaran memori saat menunggu durian. Diantara rindu bercampur sedih dan miris karena kenangan itu entah kapan terulang kembali. Soalnya,setahun lalu waktu balik kampung,s aya malah harus membeli durian ke orang. Padahal keluarga besar punya kebun durian meski sudah banyak yang tinggal nama saja.Ah..biarlah....









5 komentar:

  1. Entah kenapa sampai saat ini saya gak pernah suka makan durian. Kecuali jika sudah dicampur dengan bahan makanan lain seperti es durian atau kue yang bahan dasarnya durian. Jadi musim durian seperti sekarang ini membangkitkan kenangan jeng ina ya... Banyak tuh durian apalagi di depan swalayan bintang rejeki.

    BalasHapus
  2. to ine :
    saya malah ga suka kalo durian diolah jadi bubur durian gitu.Maunya yang asli gitu
    tapi klu sudah jadi tempoyak saya juga suka.apalagi dimasak dengan bilis dan jengkol...huaaa...bisa tak nampak mertua lewat pas makan hehehe

    BalasHapus
  3. saya suka durian
    mau donk dikasih durianya hehehe

    BalasHapus
  4. to anak nelayan : durian saya tinggal nama saja
    sekarang malah beli durian hehehe

    BalasHapus
  5. ga apa apa sesekali beli durian ine, enak juga kok :)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung