Loading

Minggu, 19 April 2009

Tak Nyangka Menjadi Inspirasi Seorang Teman

Sumpah..selama ini saya merasa belum punya teman-teman yang benar tulus. Banyak orang berkata, teman yang baik itu adalah ada ketika kita suka dan berduka.Tapi bagi saya itu belum cukup.Bagi saya teman itu adalah yang punya ketulusan khususnya saat memberikan sebuah pujian dan bukan hanya basa-basi atau tepatnya jujur mengakui prestasi kawan dan sahabat.

Baru-baru ini saya tak sengaja menemukan blog teman yang memposting tentang saya.Oh..sungguh terharu, senang dan agak malu.Tapi yang jelas saya salut kepada Ika yang dengan tulus menyatakan semua pendapatnya tentang saya, terlepas dari itu benar atau tidak semuanya.Yang jelas saya merasa baru kali ini seorang teman yang tulus untuk memberikan sebuah apresiasi kepada saya. Selain itu saya juga tidak menyangka,dia telah menjadikan saya sebuah inspirasinya.Semoga Ika bisa sukses dan menggapai semua cita-citanya.

Mau tahu isi blognya Ika tentang saya ? Yuk simak di bawah ini.


Tiga buku ia sodorkan. Satu buku berupa kumpulan hasil lomba cerpen di mana ia menjadi pemenangnya, satu lagi kumpulan cerpennya sendiri, dan satu lagi kumpulan cerpen anak. Mata saya pun terbelalak seiring dengan rasa kagum yang menyeruak dalam benak dan perasaan saya. “Gila, anak ini jagoan menulis juga!”




Tapi mungkin bagi kalangan wartawan atau seperti saya yang dulunya juga berprofesi sama, sebetulnya rasa kaget itu tidaklah perlu sebegitu membuncah seperti yang saya rasakan. Ruziana atau Ina’, demikian nama sahabat saya tersebut memang seorang wartawati. Tentu tidak aneh bukan jika ia juga seorang penulis?!



Namun yang saya kagumi dari Ina kala kami bertemu di rumahnya saat saya berkunjung di Tanjungpinang pada hari Sabtu (21/2) lalu adalah kemampuannya untuk konsisten menulis dan bahkan membuahkan buku demi buku. Bahkan di dalam facebooknnya, ia menuliskan harapannya yang sedang mencari ide untuk buku ke-tiganya.

Ini berbeda dengan kebanyakan jurnalis yang ada. Jika saya perhatikan dari teman-teman saya yang ada di Tribun Batam, banyak dari mereka yang hanya berkutat pada menulis dan prestasi membuat sebuah liputan dahsyat. Selebihnya, ya menulis di blog!

Tapi berbeda dengan Ina’ teman saya ini. Meski ia sudah berkeluarga dan masih tetap bekerja sebagai penulis di sebuah media dwi mingguan, Ina terus berkarya. Terkadang, ia mencoba menulis dan dikirimnya ke media nasional.

Nah, kembali ke urusan buku, saya sangat salut dengan usahanya yang terus memproduksi buku. Tidak hanya fiksi untuk konsumsi dewasa, cerpen anak pun ia garap. “Kasihan anak-anak di sini, kan mereka kurang bahan bacaan. Anak sekarang sibuk saja main PS main game,” alasan Ina’ yang menurutnya, bukunya itupun akhirnya lebih didistribusikan ke perpustakaan-perpustakaan sekolah.

Saya pun jadi teringat nasib cerpen-cerpen bertemakan anak yang saya tanam dalam blog saya ini. Begitu banyak! Hingga tak jarang sering saya jumpai cerpen-cerpen tersebut ada dalam link blog-blog lain yang bertemakan bacaan untuk anak. Bahkan, ada seorang guru yang mengirim pesan dalam blog saya untuk meminta izin mengambil cerpen saya dan diletakaan di perpustakaan atau sebagai bahan bacaan pelajaran di sekolah.

Senang? Jelas! Meskipun cerpen-cerpen itu tidak pernah diterima oleh media mana pun, namun ketika ada orang oain yang mengatakan kepada kita betapa bermanfaat dan berartinya hasil karya kita bagi ia dan orang-orang di sekelilingnya, rasa senang dan bahagia itupun jadi milik saya.

Kini, Ina’ pun sibuk dengan pencarian idenya untuk menulis buku ke-tiga. Sewaktu saya ke rumahnya, ia pun mencoba berpikir untuk membuat sebuah buku dengan genre seperti yang saat ini sedang banyak diterbitkan oleh penerbit Bukune.

“Bukunya itu asyik-asyik! Misalnya ini, ada seorang dokter tapi bisa menulis dengan cara lucu,” tunjuk Ina’ pada sebuah buku yang memang ditulis oleh seorang dokter namun dengan gaya bahasa dan cerita yang sangat lucu.

“Ya.. kenapa nggak coba tulis saja cerita tentang wartawan. Kan sering tuh saat meliput bertemu dengan narasumber yang kadang aneh-aneh,” usul saya.

Namun sayangnya, Ina’ saat ini sedang berpikir bagaimana menembut sindikat penerbit yang sering menyelundupkan karya tulisan yang terkirim ke kantornya. Memang, ada beberapa penerbit yang faktanya sering berbuat nakal.

Contohnya saja Aji, teman saya yang mencoba menulis buku tentang Huzrin Hood. Sedihnya, ia justru tahu dari saya yang suatu ketika menunjukkan sebuah buku karya tulisannya dan kemudian diresensi oleh mahasiswa saya. Tapi, semuanya itu juga sebetulnya bisa tergantung kepada penulisnya sendiri. Asalkan kita membidik penerbit yang memang terkenal kualitasnya, ya kenapa tidak?!

Hm… jadi terpikir untuk isi langkah selanjutnya. Sambil di Lamongan nanti, kenapa saya tidak mencoba (kembali) serius di bidang itu?! Kan sudah tidak lagi sibuk bekerja seperti kemarin? Tinggal menggali-gali cerita kenangan masa-masa ketika wartawan dulu, atau ketika mengajar di Politeknik, jalan-jalan di sekitar Lamongan, tulis, baru dipikirkan untuk ke mana dan siapa yang membacanya. Ah, rasanya jadi tak sabar untuk menjadi pengangguran dan berhenti bekerja pada orang lain!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung