Loading

Rabu, 25 Februari 2009

KaTePe**

Oleh : Ruziana
**Juara Pertama Sayembara Mengarang Cerpen se Tanjungpinang,2007

Mariam tak kuasa menahan air matanya, ketika kertas kecil persegi empat itu diserahkan langsung walikota Tanjungpinang kepadanya. Ia menjabat tangan wanita yang terus tersenyum itu dan mengucapkan terima kasih. 

“Terime kasih banyak Bu, saye sekarang benar-benar sudah menjadi warga Ibu ya ?” tuturnya haru, sambil mencium tangan wanita yang berdiri di samping tempat tidur. Kilatan lampu kamera wartawan menerpa wajah pucat Mariam, mengabadikan momen itu. Mariam berusaha bangkit, tapi walikota menahannya untuk terus berbaring.


“Same-same, jangan berkate macam tu. Selama ni Bu Mariam adalah warga saye. Tapi, mungkin Ibu adalah sebahagian kecil warga yang belum mendapatkan tanda administrasi sebagai seorang warga negara. Ini mungkin akibat kelalaian dan ketidaktanggapan bawahan saye,” walikota kembali tersenyum dan itu membuat Mariam makin terkesan.

“Maafkan kami jika sebagai pelayan masyarakat, masih ada kekurangan di sana sini. Meski kami sudah berusaha selama ini memberikan pelayanan KaTePe gratis bagi warga tidak mampu. Tapi kami akan terus berusaha meningkat kinerja. Semoga tidak ada lagi kejadian seperti yang ibu alami,” timpal walikota, sambil melihat ke sekelilingi ruangan yang dipenuhi sejumlah bawahannya dan wartawan.

Tampak sejumlah pejabat yang merasa terkena dengan ucapannya, menundukan kepala dan pura-pura sibuk dengan telepon genggamnya. Mariam ikut memperhatikan ke sekeliling kamar rumah sakit yang bercat putih itu. Mariam menghapus air matanya yang masih meleleh. Tiba-tiba ia ingat akan seseorang. Ia kembali menatap ke sekelilingnya. Tapi, ia tidak menemukannya. Ingin ia bertanya. Tapi, walikota kembali menggenggam tangannya dan menghibur.

“Bu, cepat sembuh ya. Tolong dijage baik-baik KaTePe ini ya. Oh ya, ini ade sedikit bantuan. Semoga bisa membantu Ibu. Mengenai biaya rumah sakit, Ibu tak perlu risau, karena memang Ibu tidak perlu menanggungnya,” walikota menyelipkan sebuah amplop ke tangan Mariam, dan senyum itu tidak pernah lepas di bibirnya.

Mariam kembali mengucapkan terima kasih, namun yang keluar hanya desisan. Suaranya tercekat karena rasa haru yang amat sangat. Ia tidak menyangka, jika pemimpin kota ini ternyata sangat merakyat dan punya perhatian besar dengan warganya.


Mariam kembali mencium tangan lembut walikota. Kembali kilatan lampu kamera wartawan menerpa wajahnya dan membuat silau mata Mariam yang tidak biasa dengan jepretan kamera.

Mariam jadi teringat dengan suami dan anaknya yang tidak ada pada saat itu. Suaminya baru akan datang siang nanti, usai berkeliling menjajakan sayur, sambil membawa anak mereka yang berumur tiga tahun. Mariam jadi menghayal, seandainya ada suami dan anaknya, tentu wajah mereka bertiga dan ibu walikota akan terpampang di koran besok hari. Mariam tersenyum-senyum sendiri dan ucapan pamit ibu walikota membuyarkan lamunannya.


“Ibu kami semue pamit dulu ya. Sekali lagi cepat sembuh ya,” walikota kembali menjabat tangannya erat dan diikuti oleh semua orang yang ada di ruangan itu.

Sekarang di ruangan itu hanya Mariam sendiri. Ia seperti baru bangun dari tidur. Ia mencubit tangannya dan terasa sakit. Ternyata ia tidak bermimpi dan semua yang baru ia alami adalah kenyataan !. Ia tidak menyangka jika dirinya seorang rakyat jelata mendapatkan perhatian besar dari seorang walikota, pemimpin daerah ini. Pantas saja, pagi itu seorang suster tergopoh-gopoh masuk ke kamar tempat ia dirawat dan sibuk merapikan ruangan itu dan menyemprotkan wewangian. 

“Ada yang akan datang membezuk Ibu, orangnya istimewa sangat. Sudah ya Bu, saya keluar dulu,” ujar suster itu, setelah merapikan meja kecil di samping tempat tidur Mariam.

Tak lama, dua orang pegawai berbaju dinas pemerintah masuk ke kamar Mariam diiringi seorang suster dan dokter. Salah seorang dari pegawai itu mengatakan jika walikota sedang dalam perjalanan ke rumah sakit itu.

Mariam hampir tak percaya mendengar semua itu. Ia merasa tak mampu mengeluarkan kata-kata, selain matanya yang terasa panas menahan keharuan. Memang nyata barusan walikota memang datang dengan rombongan kecilnya yang terdiri dari bawahannya. 

Selain membezuk Mariam, walikota juga memberikannya KaTePe. Sebuah kertas persegi empat kecil, yang dalam pandangan Mariam sangat sakti. Nyatanya, akibat tidak memiliki kertas itu, ia tidak bisa berobat gratis ke rumah sakit dan nyawanya nyaris tak tertolong. Untung, ada seorang yang menolongnya dan memperjuangkan hak Mariam, sehingga ia bisa dirawat di rumah sakit. 

“Oh ya….kok tadi tidak ada mbak itu ya,” Mariam tiba-tiba teringat dengan orang yang telah menolongnya, seorang wanita muda, berkerudung dan konon adalah seorang wartawati.

Wanita muda itu yang memang dicari-carinya diantara sejumlah wartawan yang ikut bersama walikota, tapi dia tidak ada. Karena pemberitaan wanita itu jugalah, walikota datang membezuknya dan memberikan KaTePe gratis yang selama ini sangat sulit ia dapatkan. “Mudah-mudahan suatu hari saya bisa bertemu dengan mbak itu. Saya berhutang budi padanya. Semoga Allah membalas kebaikan mbak itu,” Mariam berdoa.

Dalam kesendiriannya menunggu kedatangan suaminya, ingatan Mariam pada peristiwa lima hari lalu. Saat itu penyakit maag yang sudah lama ia derita kambuh. Biasanya Mariam hanya mengobatinya dengan obat yang dibeli di warung. Tapi, meskipun sudah dua butir menelan obat itu, perih perutnya tidak kunjung berkurang. Malah, kemudian Mariam muntah dan merasa lemas.

Suaminya sedang tidak ada di rumah, karena sedang berkeliling menjajakan sayur. Mariam hanya berdua dengan anaknya yang berumur tiga tahun. Romlah tetangga terdekatnya menyarankan Mariam ke rumah sakit untuk berobat.

“Saye dengar untuk kite yang miskin ni bise berobat gratis kat rumah sakit. Awak ke sane saje, mane tahu setelah diperiksa dokter dan dikasih obat bise sembuh. Anak awak dititip kat rumah saye saje. Nanti kalau suami awak balik, saya kasi kabar,” saran Romlah tetangganya.

Mariam setengah bingung. Ia tidak pernah berobat ke rumah sakit. Berkunjung saja tidak pernah, karena memang ia tidak pernah ada keperluan ke sana. Sekarang ia harus ke sana, pergi berobat tapi tidak membayar. Mariam makin bingung, seandainya apa yang dikatakan Romlah tidak benar dan ia harus membayar.

Mariam menghitung uang yang ada di tangannya. Ada satu lembar uang sepuluh ribuan dan lima lembar uang seribuan. Hanya sebesar itu uang yang ada di tangannya. “Mudah-mudahan Romlah benar, saya tidak ditagih bayaran,” harap Mariam.

Dengan menaiki ojek dari rumahnya, Mariam sampai ke rumah sakit. Mariam bingung harus menuju ke bangunan yang mana satu. Sejenak ia termangu melihat ke sekeliling dan kemudian dikejutkan dengan sebuah sapaan. “Mau kemana bu ?” ternyata seorang perawat muda yang menyapa.

“Eh…ini saya mau berobat mbak. Tapi saya tidak tahu harus masuk ke ruang mana satu. Soalnya banyak bangunan di sini,” jawab Mariam lugu.

Perawat manis itu tersenyum dan meminta Mariam mengikutinya menuju sebuah bangunan yang tidak jauh dari tempat ia berdiri.”Silahkan Ibu mendaftar ke loket yang di sana. Nanti Ibu akan ditanya apa keluhannya. Saya pergi dulu ya Bu, masih ada pekerjaan,” suster itu pergi meninggalkan Mariam yang mulai lega.

Tapi ia bingung harus ke loket yang mana satu. Mariam melihat ke sekelilingnya berharap akan ada yang menyapanya seperti tadi dan membantunya. Tapi, semua orang yang duduk dan lalu lalang tampak sibuk dengan urasan sendiri. 

“Ibu, mau berobat ya. Pakai Askeskin ya ?” seorang wanita berseragam pegawai seumuran Mariam, yang berdiri di balik kaca sebuah loket mengejutkan kebingungannya. 

Mariam bingung harus menjawab apa. Ia memang ingin berobat. Tapi Askeskin yang disebut pegawai itu ia tidak mengerti. “Ia Bu…tapi…” Mariam bingung.

Pegawai itu memberi isyarat kepada Mariam agar mendekat ke loket tempat ia duduk. “Askeskin itu, adalah asuransi bagi masyarakat miskin. Kalau Ibu ada kertas itu, bisa berobat gratis di sini,” tutur wanita itu sambil memperhatikan Mariam dari atas hingga ujung kaki. Sepertinya ia tahu Mariam adalah orang miskin. 

“Tapi saya tidak punya Bu, saya tidak tahu dan juga tidak tahu dapat dari mana,” jawab Mariam dengan lugu.

Pegawai itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan sejenak berbicang dengan rekan yang duduk di sebelahnya. “Kalau Ibu belum punya Askeskin, mungkin untuk sementara pakai KaTePe saja dulu. Tapi, nanti Askeskinnya diurus ya. Mana KaTePe Ibu ?” tanyanya. 

Mariam makin bingung, karena ia memang tidak punya KaTePe. Sikap bingung Mariam, sepertinya terbaca oleh pegawai itu. “Ibu tidak punya KaTePe ya ? bagaimana kami bisa membantu, sementara Ibu saja tidak punya identitas diri yang bisa dipertanggungjawabkan,” ucapannya mulai terdengar ketus.

Mariam hanya bisa menunduk. Ternyata tidak semudah itu berobat gratis ke rumah sakit. Ia kembali terngiang dengan kata-kata Romlah yang menyarankannya berobat ke rumah sakit dengan gratis dan mudah. Tapi, kenyataannya tidak segampang itu. 

“Ah ini bukan salah Romlah, mungkin saye yang memang salah karena tidak punya KaTePe,” Mariam bergumam. Ia ingin pergi saja dari sana. Tapi, ia tidak tahan dengan perih di perutnya yang kembali terasa dan akhirnya ia memberanikan diri memohon. “Tolonglah Bu, saya ingin berobat. Maag saya kambuh. Tadi saye sudah makan obat yang dibeli di warung, tapi tak sembuh. Saya hanya ingin diperiksa dokter dan diberi obat, mana tahu bisa sembuh,” Mariam memelas kepada pegawai itu.

Pegawai itu menggeleng dan kemudian memberi isyarat kepada orang yang di belakang Mariam untuk maju. Mau tak mau Mariam harus mundur. Hatinya pedih melebihi pedih di lambungnya. Sambil menahan sakit ia beranjak meninggalkan ruangan itu. Sayup-sayup ia masih mendengar kalimat pegawai itu,”kalau tak ada KaTePe minimal surat keterangan dari lurah sebagai bukti kalau ibu adalah warganya,” katanya setengah berteriak.

Mariam tidak menanggapi kalimat terakhir pegawai wanita itu. Ia terus berjalan dengan sebelah tangannya memegang perutnya. Di ujung lorong rumah sakit, Mariam berhenti dan duduk di sebuah kursi panjang. Ia ingin beristirahat sejenak dan berharap kembali bertemu dengan suster muda yang baik hati tadi. Mana tahu suster itu bisa membantunya untuk diperiksa oleh dokter dan mendapatkan obat gratis.


Tapi, setelah cukup penat memperhatikan wajah-wajah suster yang lalu lalang, suster muda itu tidak tampak. Harapan Mariam kian pupus dan rasa sakit itu makin ia rasakan amat sangat. Mariam sangat sedih, mengapa dalam kondisi saat ini dan ia berada di lingkungan rumah sakit, tapi dirinya tidak bisa mendapatkan pertolongan hanya gara-gara tidak punya KaTePe.

Matanya terasa panas dan bulir-bulir air mata mulai menetes. Mariam membungkukkan badannya dan menutup matanya dengan kedua tangannya. Ia tidak ingin menjadi bahan tontonan sejumlah orang yang lalu lalang.

Bukannya ia tidak pernah berusaha untuk mendapatkan KaTePe. Tapi, banyak persyaratan yang harus ia penuhi. Pertamakali ingin mendapatkan KaTePe, waktu ia hendak menikah dengan suaminya empat tahun lalu. Tapi, pihak kelurahan meminta persyaratan yang tidak dimiliki oleh Mariam. 

Kata pegawai kelurahan waktu itu harus ada kartu keluarga orang tua, surat keterangan dari ketua RT dan surat pindah. Sedangkan almarhum kedua orang tuanya sendiri tidak memiliki kartu keluarga. Kata Maknya, selama hidupnya ia tidak pernah memiliki KTP, apalagi kartu keluarga. Mak dan Ayahnya dulu menikah cukup menghadap Wak Atan, penghulu nikah di kampungnya. Cukup dengan ijab kabul, proses menikah selesai dan sah secara agama.

Surat keterangan dari RT juga sudah pernah diusahakannya. Tapi, ketua RT itu malah meminta surat asal atau surat pindah. Mariam tentu kebingungan. Ia asli Kampung Bangun Sari. Malah, Nenek dan Kakek buyutnya sudah lama menetap di kampung itu sebelum ramai seperti saat ini. Konon mereka juga adalah orang lama yang ikut membuka kampung itu. Jadi, darimana ia mendapatkan surat pindah ? karena ia dilahirkan di kampung itu. Malah ia menilai ketua RT itu yang pendatang, karena menurut Maknya baru beberapa tahun tinggal di kampung itu.

Memang, Mariam tinggal di kebun yang luas dan berada agak jauh di belakang komplek perumahan warga, dan bertetangga dengan sejumlah warga yang juga bekerja sebagai petani kebun. Tanah itu dulu tanah kosong yang diolah oleh kakek buyutnya. Sekarang kebun itu yang menjadi sumber mata pencaharian keluarganya. 

Mariam tidak mau berdebat dengan ketua RT yang konon pegawai di sebuah kantor pemerintah itu. Mariam tahu diri, ia hanya rakyat kecil yang tidak bisa melawan penguasa dan akhirnya pasrah. Sama halnya dengan Maknya dulu, Mariam juga ditawari KaTePe tapi membayar sejumlah uang. Mariam menolak, karena uang itu sangat besar baginya. Lagipula, ia merasa tidak sangat memerlukan KaTePe itu.

 “Saye hanya wanita petani yang tiap hari bergelimang tanah, biarlah tidak punya KaTePe,” begitu ia menghibur dirinya waktu itu.

Sama dengan nasib Maknya, Mariam akhirnya hanya menikah di hadapan penghulu, tanpa banyak prosedur, yang penting halal secara agama. Untung Wak Atan masih hidup, jadi Mariam bisa menikah tanpa harus mengeluarkan banyak biaya dan tetek bengek surat menyurat. Suami Mariam juga bernasib sama, juga tidak memiliki KaTePe, akibat latar belakang keluarga mereka juga sama.

Upaya kedua mendapatkan KaTePe itu, ia lakukan saat mendapatkan informasi dari Romlah yang mengatakan ada pemberian KaTePe gratis dari kelurahan setahun lalu. Tapi kenyataannya, apa yang diucapkan tetangganya itu tidak semudah Mariam dapatkan. Ia malah kembali dimintai sejumlah uang, meski tidak sebanyak seperti waktu dulu tapi bagi Mariam uang itu tetap besar jumlahnya. Kembali, Mariam menolak dan memilih tidak memiliki kertas kecil persegi empat itu.

Bukannya ia pelit untuk mengeluarkan uang. Tapi, meski hanya tamat SMP ia tahu jika KaTePe itu bukannya diperjualbelikan. Kalaupun ada uang administrasi, ia yakin tidak akan sebanyak yang diminta para oknum aparat kelurahan.

Lamunan panjang Mariam terhenti ketika seorang suster masuk membawa nampan berisi makan siang. Ia menawarkan diri untuk menyuapi Mariam, tapi ia menolak dan memilih makan sendiri. Perawat itu akhirnya pergi keluar setelah menyiapkan obat yang harus dimakan Mariam.

Sambil menyuap makan siang berupa bubur itu, Mariam kembali hanyut dengan lamunannya tentang peristiwa lima hari lalu. Saat duduk di bangku panjang rumah sakit itulah, tiba-tiba ia merasa pening dan kemudian pingsan tak sadarkan diri. Ketika ia terbangun, ia sudah berada di ruangan yang serba putih yang ternyata adalah salah satu ruangan di rumah sakit itu.Di sebelahnya duduk seorang wanita muda berjilbab. Ternyata dialah yang menolong Mariam saat pingsan.

Kepada wanita yang ternyata adalah seorang wartawati itu, Mariam menceritakan perlakukan petugas rumah sakit yang menolaknya berobat karena tidak punya KaTePe. Wanita itu juga yang akhirnya yang menjamin Mariam bisa dirawat di rumah sakit itu dan memberitakannya di koran. Berkat pemberitaan wanita itu jugalah akhirnya Mariam mendapatkan simpati dari walikota yang baru saja membezuknya. Dua hari sebelum walikota datang membezuk, dua orang petugas kecamatan mendatanginya di rumah sakit. Mereka meminta data Mariam dan memotretnya. 

“Untuk pengurusan KaTePe ibu dan suami. Ibu tak usah risau, ini tidak dipungut biaya. Ini gratis dari pemerintah kota ini,” tutur seorang petugas, waktu Mariam menanyakan maksud kedatangan mereka saat itu.

“Mudah-mudahan saye bisa kembali dengan mbak itu dan mengucapkan terima kasih,” Mariam membatin, mengingat kebaikan wanita yang ia tidak tahu namanya itu, kecuali memanggil dengan sebutan mbak.

Mariam menghabiskan sendok terakhir bubur dan kemudian meminum obat yang telah disiapkan perawat tadi. Ia memindahkan peralatan makan itu ke atas meja kecil di sampung tempat tidurnya dan kemudian memencet sebuah tombol, yang berfungsi untuk memanggil perawat.


Tak lama perawat yang tadi datang. Ia tersenyum ketika melihat makanan Mariam habis.”Selera makan ibu sepertinya bagus hari ini, semoga cepat sembuh ya bu,” ujarnya ramah, sambil berlalu.

Mariam hanya tersenyum, ia sedikit heran. Mengapa sikap para perawat itu kelihatan lebih ramah dari hari-hari sebelumnya. Apa karena ia adalah pasien yang istimewa, sebab dibezuk oleh walikota.

Mariam teringat dengan KaTePe yang tadi diberikan oleh walikota kepadanya. Ia mengamati kertas dua warna itu. Bagian depan berwarna putih dan bagian belakang berwarna kuning. Di bagian belakang ada data-data Mariam dan di bagian depan ada foto dirinya.

Mariam tersenyum melihat foto dirinya. Ia juga senang karena sudah mendapatkan KaTePe. Beberapa kali ia membolak-balikan kertas kecil itu dan akhirnya ia berhenti karena ada sesuatu yang menyelinap di batinnya.

Sesuatu itu adalah rasa sakit hati dan sedih ketika mengingat perlakuan orang-orang yang mempersulitnya untuk mendapatkan KaTePe pada masa lalu. Nyatanya sekarang, pemimpin tertinggi kota ini saja malah memberikannya dengan cuma-cuma. 


“Ternyate yang banyak gaye itu adalah para anak buah, sementara para atasannya sendiri tidak mempersulit,” gumam Mariam geram. Dalam ingatannya jelas terbayang bagaimana gaya sombong oknum pegawai kelurahan yang mengacuhkannya dan meminta sejumlah uang saat hendak mengurus KaTePe. Belum lagi gaya pongah ketua RT yang mempersulit urusan hanya demi sogokan.

Ketukan dan ucapan salam mengejutkan Mariam dari lumanannya. Ternyata yang wanita muda yang ditunggu-tunggu Mariam dari tadi. “Apa kabar bu, sudah baikan ?” ia menyalami Mariam dengan senyum hangat.

Mariam tak kuasa membendung air matanya. Ia memeluk wanita itu dan menangis di pelukannya. “Terime kasih banyak ya mbak, saye hanya bise mengucapkan terime kasih. Saye tak tahu harus membalas dengan ape,” Mariam tersedu-sedu di bahu wanita muda itu.

“Tidak udah dipikirkan ibu, saye melakukannya dengan ikhlas karena memang sudah kewajiban kita tolong menolong kan ?” ia mengusap-ngusap lembut bahu Mariam dan perlahan melepaskannya.

Mariam mengusap air matanya dan mengambil KaTePe yang tadi diberikan walikota. “Ini mbak, saye sudah punye KaTePe sekarang, tadi ibu walikota sendiri yang mengantarkannya kat sini. Sekali lagi terime kasih ya mbak,” ujarnya sambil menyodorkan kertas kecil persegi empat itu.

‘Syukurlah Bu, semoga Ibu tidak lagi mengalami kesulitan ye dalam berurusan gara-gara tidak ada KaTePe. Oh ya maaf, tadi saye tidak bisa sekalian ikut rombongan walikota, saya ada liputan di tempat lain,” ia menggenggam tangan Mariam dengan hangat.

Wanita muda yang ternyata bernama Reni itu bercerita, jika selama ini ia sering menemukan kasus yang menimpa warga tidak mampu lainnya, sama seperti yang dialami Mariam. Berkat pemberitaan di koran jugalah mereka itu mendapatkan KaTePe gratis dari walikota.

“Sebenarnya untuk mendapakan KaTePe itu tidaklah sulit. Memang dibutuhkan biaya administrasi, tapi tidak banyak. Cuma menjadi banyak, karena dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang ingin mengambil keuntungan pribadi. Tapi, dalam waktu dekat pemerintah akan memberikan KaTePe gratis bagi semua masyarakat,” tuturnya.

Reni juga bercerita jika saatnya ini sudah banyak aparat yang berurusan dengan hukum, karena terlibat masalah pencaloan KaTePe serta membisniskannya untuk para calon tenaga kerja yang akan bekerja ke luar negeri. 

“ Itukan tingkah laku aparat di bawah yang tidak bekerja semestinya, sedangkan pimpinan mereka sendiri yakni ibu walikota malah memberikan kemudahan bagi warga,” papar Reni panjang lebar.

Mariam mengangguk-angguk mendengarkannya. Ia tersenyum geli mengingat ekpresi sejumlah pejabat yang tadi ikut bersama rombongan walikota. Diantaranya adalah mantan ketua RT di lingkungan tempat tinggal Mariam, sekarang ia sudah menjadi lurah.

Nada dering telepon genggam Reni mengejutkan Mariam. Usai menerima telepon, Reni pamit ke Mariam karena ada urusan lagi. “Ibu, maaf ya saye harus pergi. Cepat sembuh ya bu, salam untuk suami dan anaknya,” Reni menjabat tangan Mariam.

“Ia mbak, sekali lagi terime kasih banyak. Hati-hati ya mbak, semoga pekerjaannya selalu lancar dan mbak selalu dilindungi Allah,” ujar Mariam sambil merangkul Reni.

“Amin, sama-sama Bu, terime kasih,” Reni mengangguk dan kemudian berlalu meninggalkan Mariam. 

Sepeninggal Reni, Mariam kembali termenung mengingat apa yang baru saja ia alami. Ia ingin mengingat semua yang telah ia lalui dan tidak pernah ia duga.Tapi, rasa kantuk akibat pengaruh minum obat menyerangnya. Mariam membaringkan tubuhnya dan menarik selimutnya. Ia ingin istirahat, tidur dan berharap tidak akan bermimpi. Karena kenyataan yang baru ia jalani lebih indah dari mimpi-mimpinya selama ini, namun tidak pernah terwujud.***Tamat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung