Loading

Rabu, 28 Januari 2009

Me vs Tasya : Budak Tukang Ngeles


Tasya nan rancak

Hari-hari ku dengan anak sosiologis, Tasya, menghadirkan banyak cerita, lucu, suka dan duka. Tapi memang lebih banyak suka dan tawanya. Oh ya, Tasya yang kini mau masuk usia 4 tahun, adalah anak tetangga sebelah rumah.
Saya mengenalnya sejak usia 3 bulan, ketika masih bayi yang sangat lucu, berambut ikal hitam dan berkulit putih bersih serta bermata indah. Saat itu saya baru tinggal di rumah kami yang sekarang alias baru merit.Bisa dikatakan saya dan suami jatuh cinta saat pertama kali melihatnya….hehehe


Sejak saat itu ia resmi mengisi hari-hari saya bersama suami, meski awal-awalnya agak sulit “menaklukannya” supaya dekat dengan kami (cerita lengkap tentang gimana naklukin tasya nanti di tulisan yang lain ya ). Apalagi hingga tahun ke empat pernikahan kami, belum juga dikarunia anak oleh Tuhan. So…Tasya lah yang menjadi anak kami, meskipun hanya berstatus anak sosiologis.

Awal tahun 2009 ini saya memutuskan hanya bekerja di satu tempat, supaya bisa banyak istirahat dan memperlancar usaha program kehamilan.Jadi, hari-hari saya agak santai.Pagi ini Tasya yang baru bangun tidur dan masih bau iler hehehe…datang ke rumah.Biasanya hal ini terjadi kalau Maknya tidak ada di rumah, mungkin lagi ke pasar.

Seperti biasa juga saya langsung memandikannya dan mengganti pakaiannya.Di rumah saya selalu ada stok pakaiannya.Budak kecil (budak dalam bahas melayu = anak) itu seperti biasanya juga akan jelalatan matanya melihat isi lemari hias saya. Padahal nyaris tiap hari dia masuk kamar tidurku.

“Lho kok bedaknya ada dua, banyak sangat ?” tanyanya, saat aku mengusapkan bedak ke badannya. Ia menunjuk kotak cologne She yang memang sama dengan kemasan bedaknya.

“Bukan, itu yang satu isinya cologne alias minyak wangi,” jawabku.Memang bedak dan cologne itu baru kubeli dan selama ini memang tidak pernah ada di atas meja rias.

Tapi, dasar memang Tasya adalah anak pintar bahkan suka ngeles, dia tak mau kalah dan berkelit. “Bukan yang itu tante, maksudnya yang bedak untuk obat gatal-gatal itu, kan ada dua tuh,” katanya sambil tersenyum penuh kemenangan.

Dasar budak pintar, ia berkelit kalau yang ia maksud adalah bedak herocyn yang memang ada dua. Padahal sebelumnya ia menunjuk kotak She. Sedangkan ia sudah sering melihat bedak herocyn untuk biang keringat itu.

“Yee….curang,” kataku sambil mencubit pantatnya, gemes.

Usai didandani, Tasya kuberi sarapan Mie Laksa.Makanan ini adalah makanan khas melayu. Bentuknya seperti mie terbuat dari sagu.Biasanya dimakan dengan kuah atau ditumis dengan bumbu. Meski sudah bisa makan sendiri, saya masih sering menyuapinya.

Saat saya mengambil air minum dan hendak menyuapinya kembali, Tasya tak mau membuka mulutnya. Ternyata ia sedang mengunyah permen. “Lho, kok makan permen.Habisin dulu laksanya,” omelku.

“Sabar sikit kenapa?” jawabnya sambil mendelik.

Aku yang mendengar hanya tersenyum kecil. Dasar budak nakal, ia selalu ada kata-kata untuk membantahku.

“Emang siapa yang harus sabar?” pancingku.

“Ya tante lah.Nih udah habis,” ia membuka mulutnya dan saya hanya bisa tertawa.Dasar budak sok tua.

Karena kuah laksa agak pedas, Tasya nampak kepedasan.Saya memberinya minum air dingin.”Aduh…Tasya kan tidak boleh minum air es kata mamak, kan sedang batuk,” katanya dengan wajah serius.

Saya pun berniat mengganti air minumnya, karena memang sudah hampir dua minggu ia batuk dan belum sembuh meski sudah sudah ke dokter.Tapi, dasar budak tukang ngeles.Ia malah berkata “Ah…tak apa-apa lah tante, kan sudah terlanjur diminum,” katanya sambil kembali meminum air dingin tadi.

Lagi-lagi saya hanya bisa tertawa. Tasya, tasya…

1 komentar:

  1. Haha! Anak-anak memang selalu aja membuat hari2 jadi ceria ya.. Tasya lucu banget siy.. Nanti kalo besar jadi cewek centil pintar ngeles pula, qiqiqiqiii... *kebayang deh*

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung