Loading

Senin, 03 November 2008

perempuan pelengkap penderita

Kaum perempuan sepertinya masih belum diakui oleh kaum pria sebagai makhluk yang mampu berbuat.Kaum pria seperti masih menganggap wanita adalah lawan, yang harus dikalahkan. Sehingga pria selalu tidak mau mengalah pada wanita.


Meskipun emansipasi terus diteriakan dan persamaan gender didengungkan, nyatanya hal itu belum membuat pria memberikan apa yang harusnya menjadi hak wanita.
Dalam berbagai bidang bukti belum siapnya pria memberikan porsi yang lebih banyak kepada wanita jelas terlihat.
Bahkan pada saat ini yang mana kuota 30 persen untuk peran wanita di bidang politik juga hanya menjadi pemanis di bibir saja.
Kalaupun pada saat ini banyak calon legislatif wanita, itu hanya sekedar menjadi pelengkap.Kalau teman saya menyebutnya perempuan pelengkap penderita
Artinya, mereka menjadi pelengkap dan kemudian menderita....weleh weleh..
Buktinya...caleg wanita pada umumnya berada di nomor urut yang mustahil jadi atau berada di nomor bawah, paling banter nomor 2
Kalaupun ada caleg wanita yang duduk di nomor urut satu, itupun berasal dari partai kecil alias gurem.Sedangkan caleg wanita di partai besar yang saat ini mempunyai kursi di DPRD lebih banyak di nomor urut dua, tiga dan seterusnya.
Kalaupun ada caleg wanita dari partai besar yang duduk di nomor urut satu, itu karena sebelumnya ia sudah menjadi anggota dewan.Itupun cuma satu dua.
Jadi melihat kondisi ini, bagaimana kuota 30 persen wanita di dewan bisa terwujud.
mengapa demikian ? kuncinya terletak di partai besar yang punya peluang banyak kursi di dewan. Sedangkan malah partai besar itu sendiri yang banyak meletakan caleg wanita di nomor urut terakhir.
Memang kita tidak bisa menyalahkan para wanita tersebut, setidaknya mereka telah berani tampil meskipun banyak dengan modal pas-pasan bahkan tidak punya modal.
Tapi, karena itulah mereka tak punya kekuatan untuk melawan kebijakan partai.So...jadilah mereka caleg yang hanya sekedar memenuhi aturan yang ditetapkan.
Teman saya juga bilang, bak kata pepatah..seperti ketimun bungkuk.Masuk dalam karung tak ikut dihitung.
Tulisan ini bukan untuk melemahkan semangat kaum wanita..tapi saya ingin pada periode berikutnya..wanita yang menjadi caleg di partai besar jangan mau didudukan di nomor urut bawah.
Memang tidak mudah..karena banyak deal politik yang harus dipenuhi.Tapi setidaknya dengan potensi diri yang dimiliki hal itu tidak mustahil bisa diwujudkan.
Ada yang mengatakan tidak perlu pesimis meskipun duduk di urutan bawah, karena sekarang adalah sistem suara terbanyak.
KOndisi ini belum tentu benar, karena prakteknya nanti jelas berbeda. Politik itu abu abu.Tak jelas antara hitam dan putih.Kawan bisa dalam semenit jadi lawan.
Janji-janji indah memang sedap didengar, tapi ketika kekuasaan sudah terlihat jelas di depan mata, siapa saja bisa dijungkalkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung