Loading

Sabtu, 29 November 2008

Menabunglah Sebelum Menyesal



Masih banyak persepsi jika menabung hanya akan dilakukan ketika akhir bulan atau ada sisa uang belanja.Bahkan ada juga yang menganggap menabung hanya sebagai menitipkan uang sementara ke bank, dan kemudian mengambilnya setiap saat..endingnya pada akhir bulan saldo juga jalan di tempat, alias tabungan tidak bertambah.


Wanita sebagai menejer keuangan keluarga, berperan penting dalam mengelola penghasilan keluarga, baik dari suami maupun diri sendiri.Tapi sangat disayangkan masih banyak wanita yang tidak menyadari hal itu, dan bersikap seolah-olah hidup itu akan selalu indah dan bahagia seperti yang ia rasakan saat ini.

seorang teman ketika saya tanya apakah anaknya yang berumur satu tahun sudah memiliki asuransi pendidikan, malah menjawab santai untuk saat ini yang penting bagaimana ketika anak sakit ia bisa membawa ke dokter dan membeli obat.

Apa yang dikatakan ia itu benar, tapi saya yakin ia tidak menyadari jika masa depan anaknya masih diantara hitam dan putih. Banyak contoh di sekitar saya yang membuktikan jika orang tua yang sebelumnya punya pekerjaan lumahan bagus, belum tentu bisa mencetak anak yang bisa bekerja dan hidup lebih baik.

Mengapa bisa begitu ? karena orang tua disaat anak masih kecil hanya sibuk memikirkan kebutuhan hari-hari, seperti makanan enak, baju bagus, mainan bagus, HP terbaru dan kendaraan bagus serta hal-hal konsumtif lainnya.Orang tua khususnya sang bunda lupa menabung untuk investasi sekolah anak atau kesehatan anak.Uang yang lebih dari cukup cenderung dihabiskan untuk sebuah prestise.

Ketika anak dewasa, orang tua sudah pensiun dan penghasilan pas-pasan.Tabungan tidak punya, sementara anak harus terus sekolah bahkan kuliah.Biaya pendidikan makin tinggi berbanding terbalik dengan penghasilan seorang pensiunan.

Hasilnya adalah..anak tidak bisa kuliah.Kalaupun harus tetap bisa, orang tua harus masih tetap membanting tulang untuk anak di saat usia renta.Kalau anak cuma satu atau dua mungkin masih mudah.Tapi ketika anak lebih dari tiga, dipastikan tidak semua anak bisa menginjak bangku kuliah.

Contoh di atas sudah punya banyak bukti di lingkungan saya.Mereka dulunya adalah orang-orang menengah ke atas, tapi status itu berbanding terbalik dengan nasib anak mereka karena kelalaian orang tua mempersiapkan masa depan.

Meski hanya Rp 100 ribu per bulan, pastikan uang itu tersimpan utuh terus menerus di tabungan, terus ditambah tanpa dikurangi, kecuali untuk keperluan yang betul-betul mendesak.

Jika anda menabung uang sebesar itu sejak anda berusia satu bulan hingga anak anda menamatkan SMA, setidaknya uang yang terkumpul sekitar Rp 20 jutaan itu, bisa meringankan beban anda saat anak masuk kuliah.Kalau anda punya penghasilan lebih besar, tentu bisa menabung lebih besar lagi, sehingga jumlah uang untuk masa depan anak juga lebih besar.

Menabung tidak hanya di rekening pribadi, bisa melalui berbagai cara seperti asuransi atau tabungan yang dilindungi asuransi.Semua tergantung dari kebutuhan dan kemampuan keuangan anda.

Intinya, berapapun penghasilan anda, usahakan tetap menabung.
Dari nada, oleh anda dan untuk masa depan keluarga anda

2 komentar:

  1. wah bener banget mbak....tapi susah loh untuk merealisasikannya...cuma aku dah punya caranya...ikut TRM aja di mandiri, jadi uang kita akan di autodebet tiap bulan....gak berasa kan...kalo di-niatin utk ditabung malah susah loh...gak tau kenapa..dasar emak2...hehehehe

    BalasHapus
  2. benar mba nia.Saya juga ikut TRM kok..selain itu saya juga masih na bung di celengan hehehe..meski cumA 50 RIBU /bulan, tapi lumayan nanti diambil pas mau lebaran.nambah 2 untuk kirim ke kampung untuk adik2.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung