Loading

Selasa, 26 Agustus 2008

SURAT**

Oleh : Ruziana
**Juara kedua dan cerpen terbaik sayembara mengarang cerpen se Tanjungpinang,2007
Senja mulai menjelang. Langit biru mulai berganti kuning kemerahan dan matahari perlahan mulai tenggelam, seakan ditelan oleh lautan luas. Perlahan dan pasti, bola raksasa yang mengeluarkan sinar benderang itu lenyap dan berganti dengan gelap. Anak-anak yang sejak petang tadi asyik bermain di tepi pantai yang sedang surut, berlarian ke rumah masing-masing.


Namun, sesosok tubuh semampai itu tidak beranjak dari tepi pantai. Ia masih berdiri, menatap sebuah benda kecil yang terapung-apung diombang-ambingkan ombak kecil. Benda kecil yang ternyata sebuah botol itu, terus menjauh ke tengah dihempas ombak dan angin. Sosok tubuh dengan rambut panjang yang melambai-lambai tertiup angin itu kemudian berbalik dan menuju rumahnya yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Di atas rumah panggung yang terletak di tepi pantai, seorang wanita dari tadi memperhatikan sosok tubuh yang ternyata adalah puterinya. Matanya selalu berkaca-kaca menyaksikan rutinitas anak semata wayangnya, setiap petang.

Mayang, sang anak tersayang selalu membuang satu botol yang berisi surat ke laut setiap petang. Surat itu katanya ia tujukan kepada Bapaknya yang sedang merantau ke tanah seberang dan tidak pernah pulang. Namun, Mayang seperti punya keyakinan, suatu hari suratnya akan dibalas oleh sang Bapak.

Nyatanya, meskipun belum ada satupun balasan, ia tetap sabar mengirimkan surat itu melalui laut lepas. “Mayang yakin Bapak masih hidup Bu. Suatu hari Bapak pasti akan membalas surat Mayang,” begitu ia selalu optimis, menghibur Tinah yang selalu melarangnya untuk tidak lagi membuang surat dalam botol ke laut.

Tinah menghapus air mata yang meleleh di pipinya. Hatinya hancur dan pedih setiap kali mendengar rasa optimis dan keyakinan Mayang. Bagaimana tidak, Mayang selalu merindukan sang Bapak, seorang laki-laki yang Tinah sendiri tidak tahu rupanya dan sekarang ada dimana. Laki-laki yang selalu disebut Mayang memang adalah bapak biologisnya, tapi bukanlah suami Tinah. Karena ia tidak pernah dinikahi laki-laki itu.

Namun, yang paling menyakitkan, ia tidak pernah mengetahui bagaimana raut wajah lelaki yang memberikannya seorang gadis cantik itu. Ingatan Tinah melayang pada kejadian 12 tahun silam. Malam itu, ia sedang tidur lelap di kamar belakang, di rumah tempatnya bekerja sebagai pembantu.

Seperti biasa ia selalu memadamkan lampu ketika tidur. Antara sadar dan tidak, Tinah merasakan seseorang membekap mulutnya dan menutupnya dengan kain. Orang tak dikenal yang ternyata seorang pria itu, tidak mengeluarkan suara. Ia hanya bereaksi dengan cepat, mengingat kaki dan tangan Tinah dengan tali. Tak ada yang dapat dilakukan Tinah, kecuali menangis dalam hati, ketika kehormatan yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria misterius itu.

Pria yang tidak dikenal Tinah itu, meninggalkannya dengan keadaan masih terikat. Tinah baru bisa bebas, ketika sang majikan, Nyonya Ani masuk ke kamarnya. Keributan terjadi di rumah mewah itu. Tinah menangis sejadi-jadinya ketika menceritakan peristiwa kelabu itu kepada majikannya. Nyonya Ani membawanya melapor ke polisi. Di kantor polisi, Tinah tidak dapat menyebutkan ciri-ciri orang yang telah memperkosanya. Upaya polisi mengungkap kasus itu jadi kabur, karena tidak ada petunjuk yang bisa membantu. Tinah sangat terpukul dengan kejadian itu, ia ingin pulang saja ke Jawa. Tapi, ia malu karena punya aib yang sangat besar.

Dalam kebingungannya, ternyata Nyonya Ani masih memberikannya kesempatan bekerja dan memindahkan kamarnya ke rumah induk. Sehingga keamanannya lebih terjamin. Sejak kejadian itu, tiap hari Tinah banyak melamun. Ia mencoba mencari pelaku dengan berusaha mengingat ciri-ciri yang bisa ia ingat. Tapi, ia tidak bisa. Karena kejadian itu begitu cepat dan pelaku tidak mengeluarkan suara dan ciri-ciri yang bisa ia kenal. Tinah juga mencuri-curi sikap majikan lelaki dan anaknya.

Tapi, sikap mereka selama ini biasa saja ke Tinah. Tidak ada sikap mereka yang tampak berusaha untuk menggoda dan melecehkan Tinah. Ia juga memperhatikan sikap kenalan lelaki di sekitar komplek perumahan itu. Ada Bang Ujang penjual sayur keliling. Ia memang suka bercanda, tapi orangnya baik. Ada Bang Udin, tukang ojek yang pendiam dan pemalu, serta Bang Atan tukang kebun tetangga sebelah yang bicaranya keras tapi hatinya lembut.

Tapi, Tinah tidak merasakan kecurigaan terhadap mereka. Malah, sejak kejadian itu, mereka tampak berusaha mengerti perasaan Tinah. Sebulan sejak kejadian itu, Tinah baru tersadar jika dirinya belum mendapatkan datang bulan. Ia menunggu hingga beberapa hari, tapi masih belum juga. Tinah gelisah dan khawatir. Diam-diam ia membeli alat tes kehamilan dan ternyata kecurigaannya benar. Tinah terhenyak dan menangis melihat hasil tes. Perasannya bercampur aduk, takut, bingung, marah dan benci. Ia tidak mau mengatakan semua itu kepada majikannya.

Tapi, ternyata sebagai seorang wanita dewasa, Nyonya Ani dapat melihat gelagat yang kurang baik. Ia menanyai Tinah dan akhirnya ia mengakui telah hamil. Sama halnya dengan Tinah, majikannya juga marah. Tapi mereka bisa mengerti. Namun, meskipun begitu majikannya tidak bisa menampung Tinah. Mau tak mau Tinah harus keluar dari rumah itu. Tapi, Nyonya Ani masih berbaik hati memberikannya pesangon yang cukup besar. “Untuk modal melahirkan dan modal usaha membesarkan anakmu nanti. Kalau ada kesulitan, kamu bisa minta bantuan saya,” begitu Nyonya Ani menghiburnya, sebelum melepas kepergian Tinah dari rumah yang pernah ia tinggali selama hampir tiga tahun itu.

Tinah bingung harus kemana. Ia tidak punya sanak saudara di Tanjungpinang. Keluarganya semua ada di Jawa. Tinah merantau ke kota itu untuk mencari kerja. Semula ia ingin menjadi tenaga kerja wanita ke Malaysia. Berbekal ijazah SMP, ia mendaftarkan diri ke perusahaan pengerah tenaga kerja. Dengan puluhan wanita seusianya mereka dibawa ke Tanjungpinang dan tinggal di penampungan, menunggu semua surat-surat selesai.

Namun, sebelum berangkat ke Malaysia. Tinah disewa oleh Nyonya Ani untuk bekerja di rumahnya. Karena melihat pekerjaannya cukup baik, Nyonya Ani menebus biaya Tinah ke agennya dan meminta terus bekerja di rumahnya. Meskipun kecewa tidak jadi bekerja ke luar negeri. Tapi, Tinah senang sebab ia mempunyai majikan yang baik. Selain itu ia juga mendapatkan gaji yang layak. Malah, kemudian ia bersyukur, karena ada diantara teman-temannya yang satu penampungan dulu, mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari majikannya di Malaysia.

Tinah ingin kembali ke Jawa saja. Tapi, ia ingat dengan jabang bayi yang sedang dikandungnya. Apa kata keluarganya nanti, pulang ke kampung membawa janin tanpa bapak. Tinah ingin nekat, karena ia tahu bukan dia saja yang bernasib seperti itu. Tapi, ia mengurungkannya dan bertekat melahirkan dan membesarkan anak itu di Tanjungpinang. Pernah juga terlintas di benaknya untuk menggugurkan jabang bayi itu. Tapi, naluri kemanusiannya menghalangi niat jahat itu.

Berbekal uang dari Nyonya Ani, Tinah menyewa rumah panggung di tepi laut. Sambil menunggu kelahiran anaknya, Tinah bekerja serabutan, seperti mencuci pakaian, menyetrika dan mengasuh anak tetangga. Tak terasa sembilan bulan berlalu dan Tinah melahirkan seorang bayi perempuan cantik. Saat yang ditunggu-tunggu Tinah, karena ia ingin melihat bagaimana wajah sang anak, apakah ada mirip dengan sejumlah orang yang ia curigai. Tapi, wajah anaknya ternyata nyaris menyalin wajah cantik Tinah.

Meskipun kecewa, tapi Tinah terhibur mendapatkan anak yang cantik. Ia berusaha melupakan kejadian malam kelabu itu dan tidak lagi mencari siapa pelaku perbuatan biadab itu. Mayang, begitu bayi cantik itu ia beri nama. Hari-hari dilalui Tinah bersama dengan sang anak yang tanpa bapak penuh dengan keprihatinan. Tapi, Tinah tetap tabah dan tegar untuk kuat menghadapi sulitnya hidup. Ia bertekat untuk terus membesarkan Mayang dengan sekuat tenaga. Mayang tumbuh menjadi bocah cerdas.

Ketika umur lima tahun, untuk pertamakalinya ia menanyakan sang Bapak. Ketika itu, ia baru pulang dari taman kanak-kanak. “Ibu, Bapak Mayang dimana ? teman-teman kok ada bapaknya ?” pertanyaan itu mengejutkan Tinah. Tinah menghela nafasnya. Sudah saatnya ia menyampaikan rangkaian kata-kata yang ia susun sejak lama, jika Mayang menanyakan hal itu. “Bapakmu sedang pergi jauh Nak, merantau ke negeri seberang. Mencari uang. Tapi, entah mengapa ia tidak pernah pulang. Mungkin, uangnya belum cukup untuk dibawa pulang. Karena Bapak pernah berjanji, ia tidak akan pulang sebelum mempunyai banyak uang,” ujar Tinah berbohong.

Ternyata Mayang bisa menerima alasan Tinah. Ia tidak lagi selalu menanyakan sang bapak. Tapi, nyaris setiap hari menghayal jika bapaknya akan pulang membawa banyak uang dan membelikannya mainan boneka yang indah. Setiap menghayal itu, Mayang selau bergembira sedangkan Tinah yang bisa mengelus dada dan menghapus air matanya.

Suatu hari saat duduk di bangku kelas lima SD. Mayang pulang membawa botol kecil bekas minuman. Sesampai di rumah ia menulis secarik kertas dan memperlihatkannya ke Tinah sebelum surat itu ia masukan ke dalam botol. “Ibu, Mayang mau mengirim surat untuk Bapak. Mudah-mudahan Bapak bisa cepat pulang, walaupun tidak punya banyak uang. Yang penting Bapak pulang, Mayang sudah rindu bertemu Bapak,” ujarnya, sambil menyerahkan kertas yang telah ditulisnya kepada Tinah.

Tinah membaca surat itu dan air matanya menetes menyaksikan bagaimana dalamnya kerinduan sang anak pada Bapaknya. “Ibu jangan menangis dan sedih. Mudah-mudahan Bapak cepat pulang ya dan berkumpul kembali dengan kita,” hibur Mayang. Surat itu dimasukan ke dalam botol dan Mayang melemparkannya ke laut yang berada di belakang rumah. Surat itu hanyut dibawa ombak dan angin ke tengah laut. Mayang tampak bergembira dan menyimpan asa jika surat itu akan dibalas sang bapak, seperti dalam cerita yang ia baca di buku perpustakaan sekolah.

Tiap hari Mayang selalu menulis surat dengan berbagai cerita tentang hari-harinya dan tiap hari pula ia menunggu petugas pos datang.Tapi, tidak satupun surat singgah ke rumah mereka. Namun, Mayang tetaplah anak yang riang dan tidak jemu menulis surat ke sang bapak yang entah siapa dan dimana.

Lamunan panjang Tinah dikejutkan dengan senandung riang Mayang yang sudah berada di pelantar rumah. Cepat-cepat Tinah menghapus air matanya dan menyambut puterinya. “Mayang, ayo cepat ambil air wudhu Nak, nanti Maghrib keburu habis,” ia menyambut sang anak yang selalu tampak riang.

Tinah baru pulang dari pasar. Di pelantar rumah, Mayang menyambutnya setengah berlari. Di tangannya ada sepucuk surat. “Ibu, ada balasan surat dari Bapak,” Mayang memeluk Tinah dan menyodorkan surat itu. Tinah menatap buah hatinya, ada raut gembira yang bercampur kecewa di matanya.

Tinah buru-buru mengajak Mayang masuk ke dalam rumah. “Surat…. surat dari Bapak ?” Tinah hampir tidak percaya dengan kata-kata Mayang barusan. “Ia bu, surat balasan dari Bapak. Tapi…..” Mayang menghentikan kalimatnya dan kemudian terdengar sedu sedannya.

“Bapak sudah tidak ada Bu, Bapak sudah meninggalkan kita. Bapak belum sempat pulang bertemu Mayang,” ratapnya dalam tangis. Tinah mendekap Mayang ke dalam pelukannya. Ia membelai-belai rambut panjang Mayang.

“Sabar ya Nak. Mungkin ini sudah jalan yang digariskan oleh Tuhan. Tapi, kamu harus tetap bersyukur ya Nak, meski Bapak belum sempat pulang, ia masih sempat membalas suratmu,” Tinah melepaskan pelukannya dan mengecup hangat kening buah hatinya. Mayang mengangguk-angguk dan menghapus air matanya.

Tinah membuka lipatan surat itu dan mulai membacanya.
Mayang, anak Bapak sayank.
Bapak mohon maaf karena baru bisa membalas suratmu Nak, Bapak juga mohon maaf, karena selama ini tidak pernah pulang.
Bapak bukannya tidak mau pulang Nak, tapi Bapak belum punya banyak uang
Bapak sudah terlanjur berjanji dengan Ibumu Nak Bapak hanya akan pulang, jika sudah punya banyak uang
Mayang, anakku sayank
Bapak juga rindu kepadamu dan ibumu
Bapak juga sangat rindu untuk melihat wajahmu Nak. Karena Bapak meninggalkanmu saat masih berada dalam kandungan Ibumu Nak
Bapak juga sangat rindu untuk memelukmu, membelaimu dan menciummu Nak
Tapi, Bapak hanya bisa menghayalkan wajah cantikmu
Karena Bapak tidak mungkin akan bisa bertemu dengan Nak
Bapak sekarang sakit Nak
Sakit paru-paru ini sudah lama Bapak derita
Mungkin, ini merupakan surat pertama dan terakhir Bapak
Karena, ketika kamu menerima surat ini, Bapak mungkin sudah tiada
Mayang, anakku sayank
Jangan bersedih Nak
Jadilah anak yang sabar, kuat dan tegar seperti Ibumu Jangan tangisi Bapak, karena Bapak tahu kamu adalah anak yang selalu riang gembira
Mayang...Sekali lagi Bapak mohon maaf, karena belum bisa membahagiakan kamu dan ibumu Nak
Bapak merasa amat berdosa. Tapi, Bapak sudah berusaha Nak
Tapi, penyakit Bapak mengalahkan semua usaha Bapak Nak.
Mayangku sayang
Bapak hanya bisa berpesan, jadilah anak yang baik Nak
Anak yang berbakti kepada Ibumu Nak
Jaga Ibumu Nak....Jadilah anak yang dibanggakan Ibumu Nak
Bapak juga ikut bangga, meski hanya bisa melihatmu dari alam yang berbeda nantinya
Mayang, anakku sayang. Tolong sampaikan permohonan maaf Bapak kepada Ibumu Nak
Semoga Ibu, bisa memaafkan Bapak
Bapak sangat menyayangi kalian berdua
Mayang Jika boleh Bapak meminta untuk terakhir kalinya
Doakan selalu Bapak dan Ibumu dalam sholatmu Nak
Karena Bapak yakin, doa anak yang sholeh akan didengar oleh Allah
Mayang sayank
Bapak mohon jangan balas surat ini dan jangan lagi mengirimi Bapak surat
Karena Bapak mungkin sudah tiada
Jangan menangis sayank

Selamat tinggal anakku sayank

Peluk sayang Bapakmu

Tinah melipat surat itu, air mata membasahi wajahnya yang masih menampakan kecantikan. Ia tidak mampu berkata-kata, selain air mata yang terus meleleh di pipinya. Mayang menghampirinya dan mereka bertangisan sambil berpelukan.
“Mayang, sudah cukup ya kamu mengirimi Bapak surat. Karena Bapak sudah tiada. Maafkan bapak ya, ibu juga telah memaafkan Bapak. Jalankan ya amanat Bapak. Kamu harus jadi anak yang kuat Nak dan menjadi anak yang membanggakan Ibu,” nasehat Tinah, ketika mereka berdua sudah puas menangis.

“Ia Bu…Mayang akan ingat selalu nasehat Bapak. Mayang juga memaafkan Bapak. Mayang akan selalu mendoakan Ibu dan Bapak,” jawabnya sambil memasukan kembali surat ke dalam amplop putih.

“ Kamu sudah sholat Nak. Kalau belum ayo cepat sholat. Jangan lupa nanti doakan Bapak ya, semoga Bapak tenang di alam kubur sana,” Tinah mengingatkan Mayang.

Mayang mengangguk dan kemudian berlalu ke belakang untuk mengambil air wudhu. Tinah beranjak ke dalam kamarnya. Di sana ia kembali menangis, tapi bukan tangis kesedihan. Namun, tangis antara kebahagian dan rasa bersalah. Tinah merasa bahagia, karena ia sudah bisa menghentikan penantian panjang Mayang untuk bertemu sang bapak. Tapi, ia juga merasa bersalah, karena ia harus berbohong untuk melakukan semua itu.

Surat itu adalah tulisan tangan Tinah sendiri. Ia menggunakan tangan kirinya agar tulisannya tidak dikenal Mayang. Ia harus melakukannya, karena ia tidak ingin Mayang selalu berharap dan menunggu tanpa kepastian.

“Tuhan maafkan hamba-Mu ini, tapi hanya inilah yang bisa hamba lakukan,” batin Tinah dan berdoa. Di luar sana langit makin gelap dan bintang mulai keluar, berkerlap-kerlip seperti hati Mayang yang bersinar dan lapang. Karena ia tidak lagi harus susah payah menjelaskan tentang keberadaan bapaknya kepada teman-teman sekolah yang selalu mengejeknya. Surat itu akan jadi bukti, kalau bapaknya itu memang ada, meski sekarang sudah tiada.***Tamat







2 komentar:

  1. Bagus sekali ceritanya, Kak Ina. Terharu membacanya..,.

    BalasHapus
  2. MANTAPLAH cerpen kak ana ni....
    kisahnya sederhana dan gak bertele tele...wajarlah bisa jadi cerpen terbaik...

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung