Loading

Senin, 25 Agustus 2008

Ketika Cinta Bertasbih Bajakan

bedah buku ketika cinta bertasbih oleh perpustakaan kepri
Kang Abik ketika dikerubuti penggemar minta tandatangan

Ada yang menarik dan memiriskan hati, ketika pengarang novel best seller Ketika Cinta Bertasbih, Habiburrahman El Shirazy hadir pada bedah buku Ketika Cinta Bertasbih yang diadakan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kepri, Senin, 25 Agustus 2008 lalu di Hotel Pelangi, Tanjungpinang.


Ketika itu, acara inti bedah buku sudah selesai dan tinggal acara foto dan minta tanda tangan.Sesi terakhir ini tidak banyak dihadiri oleh peserta, karena sebahagian besar peserta sudah banyak yang pulang dan tidak sabar menunggi Kang Abik-panggilan akrab sang pengarang-selesai menunaikan shalat Zuhur.

Saat itu hanya belasan orang yang tinggal dan sabar guna meminta tandatangan pengarang kondang tersebut. Dengan sabar dan telaten satu persatu Kang Abik menandatangani buku Ketika Cinta Bertasbih edisi 1 dan 2 yang disodorkan penggemarnya itu. Tapi, ketika menandatangani buku edisi 1 yang disodorkan seorang wanita, Kang Abik tampak ragu dan ia mencoba meneliti, ternyata buku yang ia tandatangani itu adalah buku bajakan.

"Lha ini bajakan, soalnya kertasnya bagian ini biasanya halus, bukan seperti ini kasar dan gambarnya seperti difotokopi," tuturnya heran, tapi tetap dengan nada kalem.

Sang ibu-seorang PNS-yang menyodorkan buku menjadi tak enak, begitu juga dengan panitia yang tampak tidak kalah terkejutnya.

Kang Abik juga memastikan buku itu bajakan, karena di sampul atau kulit buku bagian belakang, tidak ada tanda resmi (hologram) dari Republika selaku penerbit, yang ditutupi dengan kertas mengkilat. Sekilas buku bajakan itu tampak sama dengan yang asli. Baik dari warna, jenis huruf, jenis kertas sampul, tata letak tulisan dan nomor register. Tapi jika diamati lebih teliti, halaman kertas pada halaman pertama-tempat biasa pengarang membubuhkan tandatangan-terasa kasar.Begitu juga tidak adanya hologram penerbit Republika tadi.

Mungkin, jika dilihat dari luar, wajah Kang Abik tampak tenang. Tapi dalam hatinya tidak ada yang tahu. Sebagai seorang intelektual yang mampu menjaga emosi, waktu itu Kang Abik memang tidak banyak tanya kepada sang ibu pemilik buku tersebut.

Tak ada yang tahu bagaimana perasaan Kang Abik, ketika harus "terpaksa" membubuhkan tandatangan di atas buku bajakan tersebut. Mungkin ia sudah beberapa kali menemukan buku bajakan yang terpaksa harus ia tandatangani, karena "kasihan" juga dengan mereka yang ternyata tidak tahu kalau buku itu bajakan.

Tapi, kita yang melihat begitu prihatin dengan kondisi tersebut. Seorang pengarang harus rela membubuhkan tanda-tangannya yang asli di atas buku hasil bajakan dari orang-orang yang mengambil keuntungan pribadi dari kesuksesan orang lain.

Semoga, dengan kesabaran Kang Abik, novel-novel aslinya semakin laris dan karya lainnya juga makin best seller.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar, tapi asal tetap dengan bahasa yang baik dan santun ya. Terimakasih sudah berkunjung